• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
4 Keputusan The Fed Ini Akan Mengubah Dunia

4 Keputusan The Fed Ini Akan Mengubah Dunia

December 10, 2025
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,28% ke Level 6.544

IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,28% ke Level 6.544

August 24, 2026
Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.680

Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.680

August 24, 2026
Ada yang Naik Ratusan Persen, BEI Pantau Ketat 3 Saham Ini

Ada yang Naik Ratusan Persen, BEI Pantau Ketat 3 Saham Ini

August 24, 2026
IHSG Mulai Rebound, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

IHSG Mulai Rebound, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

August 24, 2026
Asing Terciduk Kompak Lego 10 Saham Ini Kala IHSG Menguat

Asing Terciduk Kompak Lego 10 Saham Ini Kala IHSG Menguat

August 24, 2026
Nikkei & Kospi Turun Tipis, Bursa Asia Melemah di Awal Pekan

Nikkei & Kospi Turun Tipis, Bursa Asia Melemah di Awal Pekan

August 24, 2026
Asing Diam-Diam Serok 10 Saham Ini Kala IHSG Mulai Bangkit

Asing Diam-Diam Serok 10 Saham Ini Kala IHSG Mulai Bangkit

August 24, 2026
PGEO Gelar Program MESOP, Siapkan 127 Juta Hak Opsi Saham

PGEO Gelar Program MESOP, Siapkan 127 Juta Hak Opsi Saham

August 24, 2026
FTSE Russell Coret 29 Saham RI dari Indeks Global, Ini Daftarnya

FTSE Russell Coret 29 Saham RI dari Indeks Global, Ini Daftarnya

August 24, 2026
RI Tengah Haus Dana Asing

RI Tengah Haus Dana Asing

August 24, 2026
Ada Bank di Bekasi Izinnya Baru Dicabut OJK, Ini Namanya

Ada Bank di Bekasi Izinnya Baru Dicabut OJK, Ini Namanya

August 23, 2026
Pengusaha Kakap China Masuk ke IKN, Pengakuannya Tak Terduga

Pengusaha Kakap China Masuk ke IKN, Pengakuannya Tak Terduga

August 23, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Monday, August 24, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home News

4 Keputusan The Fed Ini Akan Mengubah Dunia

9 months ago
in News
4 Keputusan The Fed Ini Akan Mengubah Dunia
Share on FacebookShare on Twitter


Jakarta, CNBC Indonesia – Perhatian pasar global akan tertuju pada pengumuman keputusan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve, yang akan merilis hasil rapat dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (10/12/2025) waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Dalam pertemuan FOMC sebelumnya pada 28-29 Oktober 2025, The Fed memutuskan kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Keputusan tersebut menjadi pemangkasan suku bunga kedua sepanjang tahun ini.

Pada pertemuan kali ini yang berlangsung pada 9-10 Desember 2025, berdasarkan survei CME FedWatch Tool, pelaku pasar memproyeksikan peluang sebesar 87,6% bahwa The Fed akan kembali melanjutkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 3,50%-3,75%.




Proyeksi Suku Bunga The FedFoto: CME FedWatch Tool
Proyeksi Suku Bunga The Fed

Ekspektasi tersebut muncul di tengah kondisi perekonomian AS yang masih diliputi ketidakpastian, serta perbedaan pandangan di antara para pejabat The Fed. Tekanan turut diperparah oleh penutupan pemerintahan AS (government shutdown) yang kembali terjadi sejak 12 November 2025 dan berlangsung selama 43 hari.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak rilis indikator ekonomi AS tertunda, dan baru dipublikasikan dalam beberapa waktu terakhir, terutama laporan data pasar tenaga kerja AS yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga.

Pelaku pasar pun kini menantikan bagaimana arah kebijakan moneter The Fed ke depan. Berikut ini sejumlah faktor utama yang akan menjadi sorotan dari hasil rapat FOMC kali ini.

1. Pemangkasan suku bunga

Pelaku cukup besar ekspektasinya bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin untuk ketiga kalinya tahun ini.

Pemangkasan tersebut dipandang sebagian besar pelaku pasar sebagai langkah lanjutan untuk menyesuaikan suku bunga, seiring inflasi yang mulai melandai dan momentum pertumbuhan ekonomi yang kian kehilangan tenaga.


2. Dot Plot The Fed & Arah Suku Bunga 2026

Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga akan menantikan Dot Plot terbaru yang akan dirilis bersamaan dengan proyeksi ekonomi AS.

Seperti diketahui, dot plot The Fed hanya keluar pada rapat FOMC yang disertai proyeksi ekonomi (Summary of Economic Projections/SEP) tiap empat bulan yakni pada Maret, Juni, September, dan Desember.

Dot plot adalah sebuah grafik yang menggambarkan perkiraan suku bunga acuan dari setiap anggota FOMC untuk periode saat ini, dua tahun mendatang, serta proyeksi jangka panjang. Setiap titik mewakili pandangan satu anggota mengenai level suku bunga yang dianggap sesuai dengan kondisi ekonomi.

Dot Plot dapat menjadi indikasi arah kebijakan moneter dalam jangka pendek, dengan memperlihatkan apakah para anggota FOMC melihat perlunya penurunan suku bunga lebih lanjut ke depannya atau justru mempertahankannya. Dot plot inilah yang akan menjadi acuan utama arah kebijakan moneter hingga 2026.

Sejumlah ekonom memperkirakan dot plot masih akan mencerminkan adanya pemangkasan tambahan pada 2026, tetapi dengan laju yang jauh lebih hati-hati.

Ada yang memproyeksikan tiga kali pemangkasan lanjutan dalam tiga pertemuan ke depan karena pasar tenaga kerja diperkirakan terus melemah.

Namun, ada pula pandangan yang menyebut dua kali pemangkasan tambahan pada pertengahan tahun depan lebih dipengaruhi oleh faktor pergantian kepemimpinan di The Fed ketimbang kebutuhan ekonomi yang benar-benar mendesak.




Dot plot SeptemberFoto: The Fed
Dot plot September

Mengacu pada dot plot terakhir yang dirilis pada September 2025, The Fed saat itu masih mengisyaratkan adanya dua kali pemangkasan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.

Namun, di balik sinyal tersebut muncul perbedaan pandangan yang cukup tajam di internal bank sentral.

Dari total 19 peserta FOMC, sembilan orang hanya memproyeksikan satu kali pemangkasan lagi, sementara 10 peserta memperkirakan dua kali pemangkasan, yang berarti mencakup rapat Oktober dan Desember.

Bahkan, terdapat satu pejabat yang tidak menginginkan adanya pemangkasan sama sekali, termasuk terhadap penurunan suku bunga yang sudah diumumkan.

Sikap ini mencerminkan kuatnya tarik-menarik antara kubu dovish dan hawkish di tubuh Federal Reserve.

Kelompok dovish masih melihat ruang pelonggaran lanjutan sebagai respons atas perlambatan ekonomi dan melemahnya pasar tenaga kerja. Sebaliknya, kelompok hawkish menilai risiko inflasi yang kembali menguat masih terlalu besar untuk membuka ruang pemangkasan yang terlalu agresif.

3. Nada Komunikasi Jerome Powell & Perpecahan di Internal The Fed

Konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell setelah pengumuman suku bunga akan menjadi momen kunci yang paling ditunggu pasar.

Nada dan pemilihan kata yang digunakan Powell berpotensi memperkuat atau justru mengoreksi reaksi awal pasar terhadap keputusan suku bunga dan dot plot.

Sejauh ini, perbedaan pandangan di internal The Fed semakin kentara. Beberapa pejabat The Fed menilai belum ada urgensi yang kuat untuk terus memangkas suku bunga, mengingat inflasi masih berada di atas target dan sebagian faktor pendorong inflasi bersifat struktural. Sementara itu, kalangan yang lebih dovish menyoroti pelemahan permintaan, kenaikan tingkat pengangguran, serta risiko pengetatan kebijakan yang terlalu lama terhadap pertumbuhan ekonomi.

4. Respon The Fed Terhadap Data Inflasi AS

Government shutdown yang berkepanjangan membuat rilis sejumlah indikator ekonomi resmi, termasuk data inflasi, mengalami keterlambatan. Data inflasi terbaru yang tersedia masih mengacu pada inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk September, yang menunjukkan inflasi berada di kisaran 2,5%-2,8% secara tahunan. Angka tersebut memang turun tipis dibanding bulan sebelumnya, tetapi tetap cukup jauh dari target inflasi 2%.




PCE USFoto: U.S. Bureau of Economic Analysis
PCE US

Bagi The Fed, tren melandai ini membuka ruang untuk normalisasi kebijakan suku bunga, tetapi belum cukup kuat untuk menyatakan bahwa misi pengendalian inflasi benar-benar selesai.

Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa apabila The Fed terus memangkas suku bunga dalam waktu yang relatif singkat, risiko inflasi kembali menguat akan meningkat, terutama bila stimulus fiskal dan konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya mendingin.

Karena itu, pasar akan mencermati dengan saksama bagaimana The Fed menilai perkembangan inflasi terbaru yang datanya tertunda, bagaimana proyeksi inflasi hingga 2026 dalam proyeksi kuartalan yang dirilis bersamaan dengan FOMC, serta bagaimana bank sentral menyeimbangkan antara target inflasi dan kebutuhan menopang pertumbuhan ekonomi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,28% ke Level 6.544

IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,28% ke Level 6.544

August 24, 2026
Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.680

Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp17.680

August 24, 2026
Ada yang Naik Ratusan Persen, BEI Pantau Ketat 3 Saham Ini

Ada yang Naik Ratusan Persen, BEI Pantau Ketat 3 Saham Ini

August 24, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .