Jakarta, CNBC Indonesia – Bank sentral Rusia menginginkan bank-bank komersial untuk memegang cadangan wajib yuan untuk mencegah kekurangan pasokan mata uang China itu di pasar valuta asing dan mengekang pinjaman yang berlebihan.
Suku bunga pada swap yuan melonjak di atas 40% pada Maret, didorong oleh pinjaman berdenominasi yuan yang besar dan berkurangnya arus masuk mata uang tersebut karena harga minyak yang lemah memukul pendapatan ekspor Rusia di awal tahun.
“Ketika klien pergi dengan yuan mereka, banyak bank mencari yuan di pasar uang. Ini adalah pasar jangka pendek, dan suku bunga di sana melonjak,” kata Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina pada konferensi perbankan di Moskow, dikutip Rabu (29/4/2026).
Yuan telah menjadi mata uang asing yang paling banyak diperdagangkan di Rusia setelah sanksi Barat terhadap banyak bank Rusia dan Bursa Efek Moskow membatasi perdagangan dolar dan euro, mendorongnya ke pasar over-the-counter.
“Bank mungkin tidak senang, tetapi kami sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk memperkenalkan peraturan terpisah tentang likuiditas mata uang asing karena ini bukan pertama kalinya suku bunga melonjak seperti ini,” kata Nabiullina.
“Menurut kami, bank seharusnya belajar dari pengalaman masa lalu bahwa volatilitas seperti itu tidak perlu.”
Dia mengatakan bank sentral akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan pemberi pinjaman komersial mengenai wacana tersebut. Nabiullina berbicara menjelang rencana dimulainya kembali operasi valuta asing untuk cadangan fiskal Dana Kekayaan Nasional pada bulan Mei.
Dengan harga minyak, ekspor utama Rusia, sekarang di atas harga batas US$59 per barel yang menentukan apakah pendapatan disimpan atau digunakan untuk menutupi defisit anggaran, negara akan membeli yuan pada Mei.
Dmitry Pyanov, Wakil CEO bank terbesar kedua Rusia, VTB, mengatakan pada hari Senin bahwa pembelian tersebut berisiko membuat pasar valuta asing domestik dalam jangka pendek menjadi tidak stabil.
(haa/haa)
Add
as a preferred
source on Google
















