Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (2/6/2026) pagi setelah reli tajam pada sesi sebelumnya. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum memberikan kepastian mengenai kelanjutan gencatan senjata maupun pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut Refinitiv pada pukul 09.15 WIB, kontrak Brent berada di US$94,98 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) bertengger di US$92,16 per barel. Posisi tersebut melanjutkan kenaikan signifikan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Dalam satu hari, Brent melonjak 3,18% dari US$92,05 per barel pada 29 Mei menjadi US$94,98 per barel pada 1 Juni. WTI bahkan melesat 5,49% dari US$87,36 menjadi US$92,16 per barel. Kenaikan tersebut menjadi yang terbesar sejak gejolak Timur Tengah kembali memanas beberapa pekan terakhir.
Meski demikian, harga minyak masih berada di bawah puncak yang sempat tercapai pada 20 Mei. Saat itu Brent menyentuh US$105,02 per barel dan WTI berada di US$98,26 per barel. Setelahnya pasar sempat mengalami koreksi cukup dalam. Brent sempat turun lebih dari 10% dalam rentang 20-29 Mei, sementara WTI kehilangan hampir 11%.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada hubungan Washington dan Teheran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin waktu setempat mengatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung. Pernyataan tersebut muncul setelah media Iran Tasnim melaporkan bahwa Teheran menghentikan negosiasi tidak langsung dengan Washington.
Sejumlah pernyataan yang saling bertolak belakang dari kedua pihak membuat volatilitas harga minyak tetap tinggi. Trump bahkan mengatakan kepada ABC News bahwa dirinya berharap kesepakatan perpanjangan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu sekitar satu pekan.
Ketidakpastian itu memiliki dampak besar terhadap pasar energi global. Sejak konflik pecah, Iran secara efektif menghambat sebagian besar aktivitas pelayaran non-Iran yang keluar masuk Teluk Persia. Jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi dunia dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global melewati kawasan tersebut.
Analis KCM Trade Tim Waterer menilai pasar saat ini menunggu bukti nyata terkait kemajuan ataupun kemunduran negosiasi AS-Iran. Selain itu, investor juga memantau ancaman Iran terhadap Selat Hormuz dan pergerakan kapal tanker yang melintasi jalur tersebut. Selama risiko gangguan pasokan masih tinggi, premi risiko cenderung tetap melekat pada harga minyak.
Dari sisi fundamental, pasar juga mendapat dukungan tambahan dari ekspektasi penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Survei awal Reuters memperkirakan stok minyak mentah AS berkurang sekitar 3,6 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei. Jika terkonfirmasi, penurunan tersebut akan menjadi kelanjutan dari tren penyusutan stok pada pekan sebelumnya.
Di saat bersamaan, ekspor minyak mentah Amerika Serikat mencapai rekor 5,6 juta barel per hari sepanjang Mei. Permintaan dari kilang-kilang di Asia dan Eropa meningkat seiring upaya mereka mencari pasokan alternatif ketika pengiriman dari Timur Tengah menghadapi gangguan.
CNBC Indonesia
(emb/emb)
Add
as a preferred
source on Google


















