Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak dunia kembali jatuh pada perdagangan Rabu pagi (24/6/2026). Berdasarkan Refinitiv hingga pukul 09.40 WIB, kontrak Brent berada di US$76,44 per barel, turun 0,83% dibanding penutupan sebelumnya. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,82% ke posisi US$72,61 per barel.
Pelemahan ini memperpanjang tren penurunan yang sudah berlangsung sejak pertengahan Juni. Dalam sembilan hari perdagangan terakhir, Brent telah kehilangan sekitar 15% nilainya dari posisi US$90,38 per barel pada 11 Juni. WTI bahkan telah turun lebih dari 17% dari level US$87,71 per barel pada periode yang sama.
Aksi jual terjadi setelah pasar semakin yakin bahwa risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai mereda. Fokus utama pelaku pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi global. Sejumlah kapal tanker yang sebelumnya tertahan akibat konflik Iran kini mulai bersiap kembali melintas, mengurangi kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia.
Sentimen bertambah setelah Washington memberikan kelonggaran sanksi selama 60 hari kepada Teheran pasca dimulainya pembicaraan damai awal. Kebijakan tersebut membuka ruang bagi Iran untuk tetap mengekspor minyak ke pasar internasional sehingga menambah ekspektasi pasokan global yang lebih longgar.
Perkembangan diplomatik lain turut memberi tekanan. Oman dan Iran sepakat melanjutkan pembahasan mengenai tata kelola pelayaran di Selat Hormuz. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan bahwa setiap upaya pengenaan biaya transit oleh Iran bertentangan dengan hukum internasional. Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa jalur perdagangan energi global akan tetap terbuka.
Meski demikian, pasar belum sepenuhnya menghapus premi risiko geopolitik. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu, namun pernyataan itu langsung dibantah Teheran. Perbedaan sikap kedua pihak membuat sebagian pelaku pasar masih berhati-hati terhadap kemungkinan munculnya ketegangan baru.
Di sisi lain, normalisasi arus minyak dari kawasan Teluk diperkirakan tidak akan berlangsung instan. Proses pengaturan kembali lalu lintas kapal, pengoperasian sumur minyak, pemulihan infrastruktur energi, hingga pembersihan ranjau laut membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sejumlah pemilik kapal pun masih mempertimbangkan risiko operasional sebelum kembali berlayar secara penuh di kawasan tersebut.
Analis menilai persediaan minyak global telah terkuras selama periode gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz. Akibatnya, stok komersial dunia berpotensi terus menyusut dalam jangka pendek sebelum pasokan baru dari negara-negara Teluk kembali mengalir secara normal ke pasar internasional.
Melansir The Economic Times, peringatan juga datang dari Saudi Aramco. Chief Executive Officer Saudi Aramco Amin Nasser sebelumnya mengingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz berisiko menunda stabilisasi pasar minyak global hingga 2027. Menurutnya, gangguan pada jalur tersebut dapat memengaruhi hampir 100 juta barel pasokan minyak per minggu.
CNBC Indonesia
(emb/emb)
Add
as a preferred
source on Google



















