Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah analis buka-bukaan soal prospek saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. Menurut sejumlah analis, saham ANTM masih layak di koleksi, mengingat fundamental bisnis perusahaan sangat kuat.
Seperti diketahui, ANTM tidak hanya mengandalkan emas, tetapi juga nikel, bauksit dan alumina sebagai Diversifikasi bisnis. Sehingga membuat ANTM lebih tahan terhadap fluktuasi harga satu komoditas tertentu.
Tidak heran jika kinerja ANTM hingga kuartal I-2026 masih tetap tumbuh dengan perolehan laba bersih mencapai Rp3,66 triliun atau meningkat sebesar 58%, meski harga emas dunia sempat turun dari rekor tertingginya.
“Antam masih prospektif karena diversifikasi emas dan nikel jadi natural hedge,” ujar Kepala Riset Korea Investment dan Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (2/7/2026).
Keyakinan Wafi akan prospek ANTM bukan tanpa alasan. Karena menurutnya, harga emas saat ini juga masih tergolong tinggi secara historis dengan margin tebal dan potensi downstream nikel jangka panjang.
Di sisi lain, penurunan harga emas Antam yang terjadi belakangan ini telah mendorong minat investasi masyarakat dan cicil emas naik, sehingga positif untuk segmen retail bullion (Logam Mulia). Apalagi, volume berpotensi naik karena harga lebih terjangkau, meski margin per unit bisa lebih tipis dibanding saat harga peak.
“Dampaknya positif tapi magnitude perlu dicermati karena segmen retail bullion kontribusinya lebih kecil ke total revenue dibanding wholesale dan segmen nikel. Signifikan ke volume dan brand visibility, tapi belum tentu proporsional ke bottom line,” pungkas Wafi.
Senada dengan Wafi, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie juga menyebut fundamental ANTM saat ini masih sangat kuat. Hal ini didukung oleh tren penjualan emas yang terus meningkat setiap tahunnya.
“Kami menilai prospek ANTM ke depan masih akan cerah didukung oleh target manajemen untuk mendorong penjualan emas dan menyamai atau melampaui rekor tahun 2024,” ungkap Adrian.
Seperti diketahui, ANTM mencatat peningkatan penjualan emas mencapai Rp66,47 triliun sepanjang 2025 atau meningkat 15% dibandingkan Rp57,56 triliun pada 2024.
Peningkatan penjualan ini mendongkrak pendapatan perseroan yang naik 22% menjadi Rp84,64 triliun pada 2025, dibandingkan Rp69,19 triliun pada tahun sebelumnya.
“Segmen emas merupakan kontribusi pendapatan terbesar ANTM. Namun menurut kami, partisipasi retail tidak sepenuhnya meningkatkan kinerja ANTM secara signifikan meskipun tentunya akan memberikan dorongan. Kami merekomendasikan buy dengan target jangka panjang 4,800,” ungkap Adrian.
Sekadar informasi, pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026, saham ANTM berhasil ditutup menguat Rp170 atau sebanyak 6,16% ke Rp2.930.
Disclaimer: Segala analisis atau rekomendasi dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.
(dpu/dpu)
Add
as a preferred
source on Google



















