• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Patahkan Tren Penguatan, IHSG Turun 1,11% ke Level 5.920

Patahkan Tren Penguatan, IHSG Turun 1,11% ke Level 5.920

July 8, 2026
Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.990

Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.990

July 8, 2026
Pasar RI Dapat Ancaman S&P DJI, Investor Waspadai Hal Ini

Pasar RI Dapat Ancaman S&P DJI, Investor Waspadai Hal Ini

July 8, 2026
Komisi XI DPR RI dan OJK Rapat Tertutup Soal Perbankan,Bahas Apa?

Komisi XI DPR RI dan OJK Rapat Tertutup Soal Perbankan,Bahas Apa?

July 8, 2026
Komisi XI DPR RI dan OJK Rapat TertutupSoal Perbankan,Bahas Apa?

Komisi XI DPR RI dan OJK Rapat TertutupSoal Perbankan,Bahas Apa?

July 8, 2026
Taspen Raup Laba Rp 1,04 Triliun di 2025

Taspen Raup Laba Rp 1,04 Triliun di 2025

July 8, 2026
Amplop Bupati Kuansing ke Menhut Raja Juli Berisi Dolar Singapura

Amplop Bupati Kuansing ke Menhut Raja Juli Berisi Dolar Singapura

July 8, 2026
2025, Laba Taspen Turun Jadi Rp 1,04 Triliun

2025, Laba Taspen Turun Jadi Rp 1,04 Triliun

July 8, 2026
Lewat Proyek Ini, Kinerja Antam Makin Solid untuk Jangka Panjang

Lewat Proyek Ini, Kinerja Antam Makin Solid untuk Jangka Panjang

July 8, 2026
Emiten Udang Kaesang (PMMP) Terlilit Utang Hingga PHK Karyawan

Emiten Udang Kaesang (PMMP) Terlilit Utang Hingga PHK Karyawan

July 8, 2026
Bos Taspen Buka Suara Soal Kasus Penipuan Investasi Bank Mantap

Bos Taspen Buka Suara Soal Kasus Penipuan Investasi Bank Mantap

July 8, 2026
Video: 16 Kesepakatan Prabowo-Modi: Rudal BrahMos – Bahas Rare Earth

Video: 16 Kesepakatan Prabowo-Modi: Rudal BrahMos – Bahas Rare Earth

July 8, 2026
Tiba-Tiba PM India Modi Bicara MBG di Depan Prabowo, Katakan Ini

Tiba-Tiba PM India Modi Bicara MBG di Depan Prabowo, Katakan Ini

July 8, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Wednesday, July 8, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Market

Patahkan Tren Penguatan, IHSG Turun 1,11% ke Level 5.920

2 hours ago
in Market
Patahkan Tren Penguatan, IHSG Turun 1,11% ke Level 5.920
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta,CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (7/7/2026), menghentikan penguatan enam hari beruntun di tengah optimisme pelaku pasar terhadap prospek pasar saham domestik.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IDX Mobile pada akhir sesi pertama, IHSG berada di level 5.920,15, turun 66,34 poin atau 1,11% dari penutupan sebelumnya di level 5.986,50.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 5,23 triliun dengan volume perdagangan mencapai 12,25 miliar saham dalam 1,14 juta kali transaksi. Sebanyak 197 saham berada di zona hijau, sementara 447 saham melemah dan 142 saham bergerak stagnan.

Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor barang baku, properti dan konsumer. Emiten yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini termasuk BBRI, AMMN, SMRI, BREN dan BRPT.

Adapun emiten yang menopang IHSG dari pelemahan yang lebih dalam adalah UNTR, JECX, CASA dan AKRA.

Sentimen buruk pasar keuangan Indonesia hari ini khususnya datang dari peringatan S&P Global Indices.

Lembaga penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) kembali mempertahankan status Bursa Efek Indonesia (BEI) pada klasifikasi Emerging Market alias pasar berkembang. Namun, dalam pengumuman terbaru itu lembaga tersebut juga ikut memberikan ancaman berat apabila sejumlah permasalahan di pasar modal domestik tak kunjung selesai.

Dalam pengumuman Country Classification – 2026/2027 Watchlist yang dirilis pada 7 Juli 2026, S&P DJI menempatkan Indonesia ke dalam Watchlist 2027. Artinya, RI kini masuk daftar pantauan lembaga indeks tersebut untuk kemungkinan perubahan klasifikasi pada review tahunan 2027 mendatang. Indonesia yang saat ini masuk klasifikasi Emerging, berpotensi direklasifikasi menjadi Special Measures/Frontier.

Inti persoalan yang membuat S&P DJI menaruh Indonesia dalam pantauan adalah isu transparansi kepemilikan saham dan dampaknya terhadap likuiditas serta keandalan pembentukan harga di pasar.

Investor institusi global kerap mempersoalkan minimnya keterbukaan struktur kepemilikan saham di bursa RI, ditambah kekhawatiran terhadap dugaan pola perdagangan terkoordinasi. Kedua hal ini menyulitkan investor asing mengukur free float yang sesungguhnya, sekaligus meragukan apakah harga pasar benar-benar mencerminkan mekanisme yang wajar.

Kabar baiknya, S&P DJI menilai otoritas di Indonesia – mulai dari OJK hingga BEI – telah mengambil sejumlah langkah regulasi untuk membenahi persoalan tersebut. Namun, S&P memberi catatan tegas: jika permasalahan tak kunjung tuntas, Indonesia berpotensi dikenai Special Measures atau bahkan direklasifikasi menjadi Frontier Market pada review 2027.

Sebaliknya, jika transparansi dan likuiditas pasar membaik, sentimen positif akan mengalir dan status Emerging Market Indonesia berpeluang dipertahankan.

Peringatan S&P DJI ini datang di tengah tekanan serupa dari lembaga indeks global lainnya, MSCI, yang justru lebih dulu menyorot tajam bursa RI.

Dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis akhir Juni 2026, MSCI memang mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market. Namun, MSCI menurunkan peringkat kriteria Information Flow (arus informasi) Indonesia – dari kategori tanpa masalah menjadi kategori yang perlu perbaikan.

MSCI menyoroti tiga persoalan struktural yang nyaris sama persis dengan kekhawatiran S&P: opasitas atau ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, indikasi pola perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga, serta minimnya ketersediaan informasi berbahasa Inggris bagi investor asing.

Lembaga tersebut memperingatkan bahwa apabila kemajuan yang memadai tak terlihat hingga Index Review November 2026, MSCI akan mempertimbangkan langkah lanjutan – termasuk kemungkinan untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Tekanan ini bukan tanpa konsekuensi nyata. Aliran dana asing terus keluar dari pasar saham RI, dengan net foreign sell di Bursa Efek Indonesia yang menembus sekitar US$3,6 miliar sepanjang tahun berjalan. Sebuah penurunan kelas – baik oleh MSCI maupun S&P – berisiko memicu arus keluar modal lebih besar, mengingat dana pasif global mengekor pada indeks yang terikat pada tingkatan pasar tertentu.

(fsd/fsd)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.990

Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.990

July 8, 2026
Pasar RI Dapat Ancaman S&P DJI, Investor Waspadai Hal Ini

Pasar RI Dapat Ancaman S&P DJI, Investor Waspadai Hal Ini

July 8, 2026
Komisi XI DPR RI dan OJK Rapat Tertutup Soal Perbankan,Bahas Apa?

Komisi XI DPR RI dan OJK Rapat Tertutup Soal Perbankan,Bahas Apa?

July 8, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .