Jakarta, CNBC Indonesia – PT Taspen (Persero) mencatatkan mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp1,044 triliun pada 2025, atau turun dibandingkan Rp1,242 triliun pada 2024. Pendapatan perusahaan berasal dari iuran dan premi sebesar Rp7,736 triliun, hasil investasi Rp9,872 triliun, serta pendapatan lain sebesar Rp1,863 triliun.
Adapun capaian laba 2025 tersebut setara dengan 123,84% dari target yang ditetapkan.
Sementara itu, laba dari pengelolaan program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM) mencapai Rp1,04 triliun pada 2025, atau lebih rendah dibandingkan laba 2024 yang sebesar Rp1,24 triliun.
Rasio klaim untuk program THT berada di level 264% pada 2025, naik dibandingkan 256% pada 2024. Untuk program JKK, rasio klaim meningkat menjadi 28% dari sebelumnya 20% pada 2024 dan 21% pada 2023. Adapun rasio klaim JKM terus menurun menjadi 64% pada 2025 dibandingkan 69% pada 2024 dan 84% pada 2023.
“Artinya dari 100 rupiah premi yang masuk ke Taspen, kita bayar keluar 264. Jadi ada… ini nih, ada kalau bahasa orang Betawinya tuh bocos gitu lho. Tapi gimana caranya untuk menambal itu? Itu menambalnya adalah pakai hasil investasi,” kata Direktur Utama Taspen Rony Hanityo Aprianto di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Imbal hasil investasi (yield on investment/YOI) juga menunjukkan tren positif sejak tahun 2023 tercatat sebesar 7,29%, meningkat menjadi 7,66% pada 2024 dan kembali naik menjadi 8,21% pada 2025.
Dari sisi pengelolaan program THT, JKK, dan JKM, total aset Taspen meningkat menjadi Rp156,79 triliun pada 2025, dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp149,55 triliun Selama periode tersebut, aset tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,91%.
Pada pengelolaan Dana Akumulasi Iuran Pensiun (AIP), kinerja juga tumbuh signifikan. Nilai aset meningka Rp250,68 triliun pada 2024 menjadi Rp286,24 triliun pada 2025. Pertumbuhan aset AIP tersebut mencatatkan CAGR sebesar 11,49%. Imbal hasil investasi AIP juga mengalami peningkatan dari 7,28% pada 2024 menjadi 7,38% pada 2025.
Dari sisi portofolio investasi program THT, JKK, dan JKM, mayoritas dana ditempatkan pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp56,35 triliun atau 47,84% dari total portofolio, deposito 18,63% atau Rp21,94 triliun, reksa dana sebesar 10,79% atau Rp12,71 triliun.
Selain itu, obligasi, sukuk, medium term notes (MTN), dan efek beragun aset (EBA) sebesar 9,56% atau Rp11,26 triliun, saham sebesar 6,90% atau Rp8,13 triliun, serta investasi langsung lainnya sebesar 6,28% atau Rp7,40 triliun.
Sementara untuk Program THT, komposisi investasi terdiri atas SBN sebesar Rp55,27 triliun atau 48,46%, deposito Rp19,52 triliun atau 17,11%, reksa dana Rp12,71 triliun atau 11,14%, obligasi, sukuk, MTN, dan EBA Rp11,05 triliun atau 9,68%, saham Rp8,13 triliun atau 7,12%, serta investasi langsung lainnya Rp7,40 triliun atau 6,49%.
Adapun portofolio Dana AIP lebih didominasi oleh SBN dengan nilai Rp193,37 triliun atau 71,62%. Selanjutnya deposito mencapai Rp43,91 triliun atau 16,27%, obligasi, sukuk, MTN dan EBA sebesar Rp12,74 triliun atau 4,72%, reksa dana Rp10,16 triliun atau 4,06%, saham Rp8,08 triliun atau 2,99%, serta investasi langsung Rp0,93 triliun atau 0,34%.
(ayh/ayh)
Add
as a preferred
source on Google
















