Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah berakhir menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (14/7/2026). Penguatan terjadi pasca lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia serta outlook-nya.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di zona hijau dengan penguatan 0,11% ke level Rp18.080/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak cukup dinamis. Mata uang Garuda mengawali perdagangan secara stagnan di level psikologis Rp18.100/US$, lalu berbalik bergerak positif hingga penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,04% ke level 101,197.
Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini masih dipengaruhi kabar baik dari lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.
Keputusan tersebut menegaskan posisi Indonesia tetap berada dalam kategori layak investasi atau investment grade di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator fiskal dan eksternal Indonesia saat ini bersifat sementara. Kondisi tersebut berpotensi membaik seiring stabilnya arah kebijakan pemerintah serta implementasi kebijakan yang lebih efektif.
Dalam laporannya, S&P Global Ratings juga memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp17.700/US$ pada 2026.
Menanggapi keputusan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan afirmasi rating dari S&P mencerminkan tetap kuatnya kepercayaan investor dan pemangku kepentingan internasional terhadap perekonomian Indonesia.
“Afirmasi S&P atas sovereign credit rating Indonesia pada peringkat BBB dengan outlook stabil mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan pemangku kepentingan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid,” kata Perry dalam keterangan resmi, Selasa (14/7/2026).
Menurut Perry, penilaian positif tersebut tidak terlepas dari eratnya sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan di tengah meningkatnya risiko global.
Dia menegaskan, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google



















