Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan kepada emiten yang sebelumnya menaungi gerai minuman Teguk, PT Platinum Wahab Nusantara Tbk (TGUK) karena perseroan membukukan lonjakan pendapatan sekitar 27.545% pada kuartal I-2026.
Diketahui, TGUK mencatat penjualan menjadi Rp200,7 miliar per 31 Maret 2026, angka ini naik tinggi dibandingkan hanya Rp726 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Manajemen menjelaskan, kenaikan tersebut terutama dipicu oleh mulai beroperasinya lini usaha perdagangan daging beku (frozen meat).
Sebagian besar transaksi penjualan daging beku dilakukan melalui jaringan agen dan distributor (general trade). Skema tersebut menggunakan sistem pemesanan (purchase order) dan kesepakatan harga saat transaksi sehingga umumnya tidak memerlukan kontrak kerja sama jangka panjang.
Perseroan menjelaskan mekanisme tersebut dipilih karena harga daging beku merupakan komoditas yang berfluktuasi mengikuti kondisi pasar sehingga membutuhkan fleksibilitas dalam penetapan harga.
Adapun kontrak kerja sama jangka panjang biasanya diterapkan untuk penjualan ke jaringan pasar modern, namun hingga saat ini TGUK belum bekerja sama dengan modern trade.
“Peningkatan pendapatan Perseroan pada kuartal I tahun 2026 terutama berasal dari mulai beroperasinya lini usaha perdagangan daging beku (frozen meat) yang telah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui RUPS serta didukung dengan penambahan kegiatan usaha sesuai Anggaran Dasar Perseroan,” sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Selasa, (14/7/2026).
Perseroan menambahkan peningkatan penjualan pada Januari-Maret 2026 turut ditopang tingginya permintaan daging selama bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri.
Periode tersebut merupakan musim puncak bagi industri perdagangan daging sehingga kebutuhan masyarakat, pelaku usaha makanan dan minuman, hingga distributor meningkat signifikan dibandingkan periode normal.
Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut, TGUK mengaku telah menyiapkan persediaan dan memperkuat jaringan distribusi sehingga mampu mengoptimalkan penjualan selama periode tersebut.
Perseroan menilai kenaikan penjualan pada kuartal I-2026 juga merupakan dampak faktor musiman yang lazim terjadi pada bisnis perdagangan daging menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Sebelumnya diberitakan, pada 2024 TGUK menutup 126 gerai di tengah penurunan kinerja usaha. Perseroan juga mencatat penghapusan persediaan bahan baku senilai Rp21,4 miliar akibat barang rusak dan kedaluwarsa.
Manajemen menjelaskan bahwa per September 2024, perusahaan memiliki persediaan bahan baku senilai Rp 22,5 miliar. Akan tetapi per 31 Desember 2024 persediaan yang tersisa Rp 1,1 miliar. “Ini disebabkan oleh penghapusan persediaan yang disebabkan barang-barang persediaan yang rusak dan expired,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (23/7/2025).
TGUK menjelaskan bahwa barang rusak dan basi disebabkan karena penurunan bisnis perusahaan yang disebabkan oleh penutupan gerai. Sementara itu per Desember 2024, TGUK membukukan rugi Rp 81,27 miliar. Kondisi ini berbalik dari laba Rp 5,79 miliar pada Desember 2023.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google



















