
Jakarta, CNBC Indonesia – CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon memperingatkan risiko besar yang sedang mengintai pasar keuangan global. Hal ini terkait margin debt, yang diberikan broker ke investor untuk membeli saham dengan menjaminkan aset di akun investasinya.
Menurutnya, tingkat margin debt dan berbagai bentuk pinjaman tersembunyi di pasar telah mencapai level yang sangat tinggi. Sehingga, tegasnya, bisa berpotensi memicu gejolak kapan saja.
Dalam wawancara dengan CNBC International dikutip Kamis (6/8/2026), Dimon mengatakan banyak investor menggunakan leverage untuk memperbesar nilai investasinya. Kondisi tersebut membuat pasar menjadi lebih rentan terhadap guncangan.
“Margin debt adalah yang tertinggi sepanjang sejarah,” ujarnya.
“Ada banyak utang yang tidak terlihat karena tidak disebut margin debt. Namanya bisa berbeda-beda, sebagian tersembunyi dan sebagian terbuka,” tambahnya.
Ia menjelaskan, leverage tidak hanya berasal dari pinjaman margin biasa. Tetapi juga melalui prime brokerage, hedge fund (layanan bank investasi), exchange-traded fund/ETF (reksa dana yang diperdagangkan di bursa), hingga strategi arbitrase obligasi pemerintah AS (treasury).
“Leverage di pasar saat ini sangat tinggi,” ujarnya.
Peringatan Dimon muncul ketika valuasi saham global berada di level tinggi, di mana leverage hedge fund mendekati rekor, dan transaksi arbitrase obligasi pemerintah AS terus membesar. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa kerentanan di sistem keuangan global mulai meningkat.
Menurut Dimon, tingginya penggunaan utang membuat kegagalan satu investor atau satu hedge fund saja, berpotensi memicu gejolak yang lebih luas.
“Ketika leverage setinggi ini, peluang seseorang mengganggu pasar dalam waktu singkat menjadi lebih besar. Dan itu bisa membuat pelaku pasar panik,” katanya.
Pernyataan itu muncul setelah hedge fund berbasis kecerdasan buatan (AI), Situational Awareness yang didirikan Leopold Aschenbrenner, mengalami kerugian besar akibat taruhan agresif pada saham teknologi menggunakan dana pinjaman. Kerugian tersebut memicu margin call dan memaksa perusahaan melepas sebagian besar portofolio sahamnya.
JPMorgan sendiri merupakan salah satu prime broker hedge fund tersebut. Meski demikian, Dimon menilai pasar sejauh ini mampu menyerap kegagalan Situational Awareness tanpa memicu krisis yang lebih luas.
Krisis Keuangan Global 2008?
Meski demikian, ia juga menegaskan kondisi saat ini belum bisa disebut sebagai ancaman sistemik seperti krisis keuangan global 2008. Menurut Dimon, krisis 2008 bukan semata dipicu oleh tingginya leverage, melainkan besarnya kerugian dari kredit perumahan yang akhirnya menghantam sistem keuangan.
“Saya tidak mengatakan ini adalah risiko sistemik yang akan menimbulkan bencana. Tetapi memang level leverage saat ini tinggi,” katanya memperkirakan bank-bank dan lembaga kliring ke depan akan meningkatkan persyaratan agunan (collateral) apabila volatilitas pasar kembali meningkat.
Selain itu, Dimon juga mengingatkan bahwa defisit anggaran pemerintah, belanja infrastruktur, dan meningkatnya belanja pertahanan di berbagai negara berpotensi kembali mendorong inflasi dan menjaga suku bunga jangka panjang tetap tinggi. Menurutnya, tren persenjataan ulang di berbagai belahan dunia dapat menjadi salah satu faktor yang membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama.
“Sehingga, investor akan meminta imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang obligasi jangka panjang,” ujarnya.
(sef/sef)


















