
Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang menekan nilai tukar rupiah pada perdagangan 24 September 2026. Rupiah
Merujuk data Refinitiv, pada pukul 09.15 WIB, rupiah mesti mengalami depresiasi hingga 0,59% atau melemah ke posisi Rp17.900/US$.
Tekanan tersebut membesar setelah rupiah dibuka melemah 0,22% di level Rp17.835/US$. Dalam waktu singkat, mata uang Garuda kembali kehilangan 65 poin dari posisi pembukaan.
Tekanan datang baik dari global maupun domestik, mulai dari ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) hingga kebutuhan dolar importir menjelang akhir kuartal III.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran terhadap inflasi global dan outlook fiskal.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun hingga mencapai 5,11%, level tertinggi sejak 2007.
“Perlemahan Rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal. Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11%, tertinggi sejak 2007,” ujar Erwin dalam keterangan resmi, Kamis (24/9/2026).
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia sehingga harga minyak Brent kembali menembus di atas US$100 per barel.
Dari dalam negeri, tekanan nilai tukar terutama berasal dari meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) oleh importir menjelang berakhirnya kuartal III serta arus keluar portofolio dari aset-aset negara berkembang atau emerging markets.
Menghadapi tekanan tersebut, BI menegaskan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sesuai dengan fundamental ekonomi.
BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang lebih berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Strategi tersebut ditujukan untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang sekaligus memperkuat efektivitas stabilisasi.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik,” kata Erwin.
BI juga meningkatkan insentif Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai kepada BI dalam rangka pendanaan luar negeri.
Selain itu, BI memperluas transaksi underlying yang dapat digunakan dalam skema tersebut, termasuk arus masuk modal portofolio, pinjaman luar negeri oleh bank, serta foreign direct investment (FDI).
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI melakukan intervensi melalui berbagai instrumen di pasar keuangan.
Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Di tengah tekanan tersebut, BI menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.
Secara quarter-to-date (qtd), rupiah tercatat menguat 0,46%.
Di sisi lain, ketahanan eksternal Indonesia juga masih ditopang oleh cadangan devisa yang memadai. BI mencatat posisi cadangan devisa meningkat menjadi US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
Dengan kondisi tersebut, BI terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan intervensi pasar untuk memastikan pergerakan rupiah tetap terkendali di tengah meningkatnya tekanan global dan kebutuhan valas domestik.
(haa/haa)
















