• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
MSCI Mau Turunkan Status Pasar Saham RI, Analis Ungkap Risikonya

MSCI Mau Turunkan Status Pasar Saham RI, Analis Ungkap Risikonya

October 16, 2026
Transaksi Emas Digital RI Meroket 641%, Tembus Nyaris Rp300 Triliun

Transaksi Emas Digital RI Meroket 641%, Tembus Nyaris Rp300 Triliun

October 18, 2026
Bumitama dan First Resources Bantah Laporan Greenpeace Soal Karhutla

Bumitama dan First Resources Bantah Laporan Greenpeace Soal Karhutla

October 18, 2026
Hari Ini Haram Tapi Besok Bisa Halal

Hari Ini Haram Tapi Besok Bisa Halal

October 18, 2026
AS Tekan China untuk Beri Akses Pasar ke Mastercard & Citigroup

AS Tekan China untuk Beri Akses Pasar ke Mastercard & Citigroup

October 18, 2026
Dorong Eksplorasi Migas RI, Investor Hadapi Tantangan Ini

Dorong Eksplorasi Migas RI, Investor Hadapi Tantangan Ini

October 18, 2026
Golden Agri hingga Wilmar Angkat Bicara soal Kebakaran Lahan di RI

Golden Agri hingga Wilmar Angkat Bicara soal Kebakaran Lahan di RI

October 18, 2026
Kencana Agri Disorot soal Karhutla di Kalimantan, Ini Responsnya

Kencana Agri Disorot soal Karhutla di Kalimantan, Ini Responsnya

October 18, 2026
Pengusaha Yahudi Ini Cari Nafkah & Punya Tanah di RI

Pengusaha Yahudi Ini Cari Nafkah & Punya Tanah di RI

October 18, 2026
Airlangga, DPR, OJK, Danantara Ungkap Fokus Bursa RI Usai Geger MSCI

Airlangga, DPR, OJK, Danantara Ungkap Fokus Bursa RI Usai Geger MSCI

October 18, 2026
China Buka Lebar Pasar Domestik, Incar Investasi Sebanyak-banyaknya

China Buka Lebar Pasar Domestik, Incar Investasi Sebanyak-banyaknya

October 17, 2026
Tentara Didakwa dalam Kasus Insider Trading, Raup Cuan Rp7,2 Miliar

Tentara Didakwa dalam Kasus Insider Trading, Raup Cuan Rp7,2 Miliar

October 17, 2026
Terjawab Sudah Alasan Tuyul Ogah Curi Uang di Bank

Terjawab Sudah Alasan Tuyul Ogah Curi Uang di Bank

October 17, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Sunday, October 18, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home News

MSCI Mau Turunkan Status Pasar Saham RI, Analis Ungkap Risikonya

2 days ago
in News
MSCI Mau Turunkan Status Pasar Saham RI, Analis Ungkap Risikonya
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Analis memberikan pandangannya mengenai keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) berpotensi menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone. Mereka kompak menyatakan dampaknya besar terhadap pasar modal domestik.

Senior Analyst Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai jika lembaga pemeringkat benar-benar menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dampaknya akan cukup signifikan terhadap pasar modal domestik, baik dari sisi aliran dana asing, likuiditas perdagangan, volatilitas harga saham, maupun persepsi risiko investasi Indonesia di mata investor global.

“Pasalnya, perubahan tersebut berpotensi mengurangi eksposur saham Indonesia dalam portofolio investor institusional internasional yang menggunakan indeks MSCI Emerging Markets sebagai acuan,” kata Nafan kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2026).

Ia melanjutkan, jika terjadi penyesuaian portofolio secara serentak, tekanan jual berpotensi terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot indeks signifikan dan kepemilikan asing tinggi, termasuk sejumlah saham perbankan besar. Kondisi ini dapat meningkatkan volatilitas dan memperbesar risiko koreksi IHSG, terutama apabila disertai pelemahan rupiah serta arus keluar modal asing yang berkelanjutan.

“Namun, besarnya dampak tetap bergantung pada keputusan final MSCI, jadwal implementasi, dan kemampuan investor domestik menyerap tekanan jual tersebut,” kata Nafan.

Ia kemudian menyoroti adanya persoalan mendasar yang mendasari alasan MSCI menilai Indonesia bahkan belum layak masuk kategori Frontier Market.

“Hal ini menunjukkan bahwa persoalan yang menjadi perhatian bukan semata-mata ukuran kapitalisasi pasar atau kedalaman pasar saham, melainkan kualitas tata kelola dan tingkat investabilitas pasar,” tuturnya.

Nafan menyebut MSCI menyoroti struktur kepemilikan saham yang belum transparan, konsentrasi kepemilikan yang tinggi, dugaan perdagangan terkoordinasi yang berpotensi mengganggu pembentukan harga, serta belum terlihatnya bukti penegakan hukum yang memadai. MSCI juga menilai bahwa reformasi yang telah diumumkan, seperti peningkatan keterbukaan pemegang saham dan rencana kenaikan minimum free float menjadi 15%, belum menunjukkan dampak yang konsisten dan signifikan di seluruh pasar.

“Karena itu, MSCI memandang bahwa penurunan ke Frontier Market belum cukup merefleksikan tingkat persoalan yang ada, sehingga mengusulkan klasifikasi Standalone Market,” tuturnya.

Ia melanjutkan, kondisi ini menjadi peringatan serius bahwa reformasi pasar modal Indonesia selama ini belum cukup meyakinkan investor institusional global dari sisi implementasi dan hasil nyata.

“Bukan berarti seluruh upaya reformasi yang telah dilakukan gagal, tetapi pengumuman kebijakan dan perubahan regulasi saja tidak cukup untuk mempertahankan kepercayaan pasar. Investor global membutuhkan bukti bahwa struktur kepemilikan semakin transparan, free float benar-benar mencerminkan saham yang tersedia untuk diperdagangkan, manipulasi pasar ditindak secara konsisten apabila terbukti, dan mekanisme pembentukan harga berlangsung secara wajar. Dengan demikian, tantangan Indonesia saat ini adalah mempersempit kesenjangan antara reformasi yang diumumkan dan perbaikan yang benar-benar dirasakan pelaku pasar,” jelasnya.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyebut, kondisi IHSG menghadapi tekanan jual yang sangat berat pada perdagangan Jumat (16/10/2026) hingga dibuka anjlok sekitar 8%, menunjukkan bahwa pasar sedang menghadapi tekanan yang jauh lebih serius daripada koreksi teknikal biasa. Ia mengatakan usulan MSCI untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market telah memperbesar kekhawatiran investor terhadap kredibilitas, transparansi, dan tata kelola pasar modal Indonesia. “Menurut saya, kejatuhan tajam ini merupakan cerminan krisis kepercayaan yang berpotensi memicu aksi jual berantai, terutama ketika investor asing memilih mengurangi risiko sebelum terdapat kepastian mengenai arah kebijakan dan hasil reformasi,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2026).

Dalam situasi seperti ini, kata Hendra, tekanan jual tidak semata-mata ditentukan oleh murah atau mahalnya valuasi saham, tetapi juga oleh meningkatnya premi risiko yang diminta investor untuk menempatkan dananya di Indonesia

Hendra menyebut IHSG berisiko melanjutkan koreksi menuju 5.200 dan pergerakan berikutnya akan sangat ditentukan oleh respons investor setelah trading halt, besarnya tekanan jual ketika perdagangan dilanjutkan, serta kemampuan indeks bertahan di atas area support.

“Jika aksi jual kembali membesar dan indeks gagal mengalami pemulihan, risiko penurunan lebih lanjut akan meningkat. Sebaliknya, apabila terjadi pembelian di saham-saham berkapitalisasi besar dan indeks mampu kembali bertahan di atas area 5.318, peluang pemulihan teknikal terbuka, meskipun belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan pasar telah berakhir,” jelasnya.

Hendra menyebut risiko yang paling perlu diwaspadai adalah potensi arus keluar dana asing apabila status Indonesia di indeks MSCI benar-benar diturunkan menjadi Standalone Market. Perubahan klasifikasi dapat memaksa dana pasif yang mengikuti indeks melakukan penyesuaian portofolio, sementara manajer investasi aktif berpotensi mengurangi eksposur terhadap Indonesia.

Meski demikian, Hendra mengingatkan usulan reklasifikasi MSCI belum merupakan keputusan final. Ia mengatakan pasar membutuhkan bukti implementasi dan penindakan yang konsisten, bukan sekadar pengumuman kebijakan.

“Menurut saya, prioritas utama saat ini adalah menjaga modal dan likuiditas portofolio sambil menunggu tanda stabilisasi yang lebih meyakinkan. Pemulihan IHSG pada akhirnya tidak cukup mengandalkan intervensi jangka pendek, tetapi membutuhkan pemulihan kepercayaan melalui transparansi, tata kelola yang kredibel, dan penegakan aturan yang benar-benar dapat dibuktikan,” pungkasnya.

(ayh/ayh)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Mau Buka Indomaret & Alfamart? Segini Dana yang Harus Disiapkan

Mau Buka Indomaret & Alfamart? Segini Dana yang Harus Disiapkan

February 14, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Transaksi Emas Digital RI Meroket 641%, Tembus Nyaris Rp300 Triliun

Transaksi Emas Digital RI Meroket 641%, Tembus Nyaris Rp300 Triliun

October 18, 2026
Bumitama dan First Resources Bantah Laporan Greenpeace Soal Karhutla

Bumitama dan First Resources Bantah Laporan Greenpeace Soal Karhutla

October 18, 2026
Hari Ini Haram Tapi Besok Bisa Halal

Hari Ini Haram Tapi Besok Bisa Halal

October 18, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .