• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Rupiah Makin Tertekan, Ekonom Ungkap Skenario Dolar Tembus Rp18.800

Rupiah Makin Tertekan, Ekonom Ungkap Skenario Dolar Tembus Rp18.800

October 29, 2026
Skandal Manipulasi Saham Bikin Geger, Ribuan Investor Jadi Korban

Skandal Manipulasi Saham Bikin Geger, Ribuan Investor Jadi Korban

October 31, 2026
Ciri-Ciri Orang Kelas Menengah Atas, Anda Termasuk?

Ciri-Ciri Orang Kelas Menengah Atas, Anda Termasuk?

October 31, 2026
Kenali Modus Voice Phising, BRI Ingatkan Jaga Kerahasiaan Data!

Kenali Modus Voice Phising, BRI Ingatkan Jaga Kerahasiaan Data!

October 31, 2026
Daftar Nama Terlibat Kasus Pasar Modal, Ada Terkait BREN, DSSA, CUAN

Daftar Nama Terlibat Kasus Pasar Modal, Ada Terkait BREN, DSSA, CUAN

October 31, 2026
OJK Rilis Daftar Sanksi Pasar Modal: Ada FILM, KIOS, SHID

OJK Rilis Daftar Sanksi Pasar Modal: Ada FILM, KIOS, SHID

October 31, 2026
Segera Cek KTP Anda Dipakai Pinjol atau Tidak, Begini Caranya

Segera Cek KTP Anda Dipakai Pinjol atau Tidak, Begini Caranya

October 31, 2026
Pendapatan Usaha Tumbuh 7,9%, Jasa Marga Terus Perkuat Konektivitas

Pendapatan Usaha Tumbuh 7,9%, Jasa Marga Terus Perkuat Konektivitas

October 31, 2026
Mantan Menteri RI Ditangkap Kejaksaan Agung, Ketemu Brankas Isi Rp 4 M

Mantan Menteri RI Ditangkap Kejaksaan Agung, Ketemu Brankas Isi Rp 4 M

October 31, 2026
Nomor HP Jadi Pengganti Skor Kredit Ajukan Pinjaman, Cek Syaratnya

Nomor HP Jadi Pengganti Skor Kredit Ajukan Pinjaman, Cek Syaratnya

October 31, 2026
Bos Sekuritas Soal Potensi RI Turun ke Standalone Market

Bos Sekuritas Soal Potensi RI Turun ke Standalone Market

October 31, 2026
Sosok Tuan Tanah Matraman, Duduki Lahan 400 Hektare Selama 41 Tahun

Sosok Tuan Tanah Matraman, Duduki Lahan 400 Hektare Selama 41 Tahun

October 31, 2026
Mau Punya Alfamart Sendiri, Segini Biaya dan Balik Modal di 2026

Mau Punya Alfamart Sendiri, Segini Biaya dan Balik Modal di 2026

October 31, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Saturday, October 31, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Market

Rupiah Makin Tertekan, Ekonom Ungkap Skenario Dolar Tembus Rp18.800

2 days ago
in Market
Rupiah Makin Tertekan, Ekonom Ungkap Skenario Dolar Tembus Rp18.800
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kian tertekan hingga mendekati level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam dua hari terakhir. Tekanan terhadap mata uang Garuda diperkirakan masih berlanjut, bahkan berisiko membawa rupiah ke kisaran Rp18.800-Rp18.900 per dolar AS jika gejolak global memburuk dan arus modal asing semakin tertekan.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. Dalam dua hingga empat minggu ke depan, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.050-Rp18.350 per dolar AS.

Menurut Josua, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk peluang bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

Selain itu, konflik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak di atas US$115 per barel, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi pergerakan rupiah.

“Hingga akhir 2026, saya memperkirakan rupiah berada pada kisaran Rp17.950-Rp18.450 per dolar AS, dengan kecenderungan masih bergerak di sekitar Rp18.000,” kata Josua kepada CNBC Indonesia.

Josua memperingatkan, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga, konflik geopolitik memburuk, dan arus modal asing semakin tertekan.

Dalam skenario tersebut, rupiah berisiko melemah menuju kisaran Rp18.500-Rp18.800 per dolar AS. Sebaliknya, jika tekanan global mereda dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia membaik, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp17.700-Rp17.950 per dolar AS.

Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menilai pelemahan rupiah mencerminkan semakin besarnya tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Menurut Rizal, penguatan dolar AS, ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed, dan meningkatnya risiko geopolitik menjadi faktor eksternal utama yang menekan rupiah.

Namun, tekanan tersebut juga diperburuk oleh sentimen negatif terkait MSCI, arus keluar modal asing, serta meningkatnya persepsi risiko investasi di Indonesia.

“Artinya, pelemahan rupiah tidak bisa terus-menerus dianggap sebagai dampak faktor global, tetapi juga harus menjadi evaluasi terhadap kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (29/10/2026).

Rizal menilai pelemahan rupiah berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat. Depresiasi nilai tukar dapat meningkatkan biaya impor energi, pangan, dan bahan baku industri.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor membuat pelemahan rupiah berisiko menaikkan biaya produksi. Jika kenaikan biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang dan jasa pun berpotensi meningkat.

Kondisi ini dapat menambah tekanan inflasi, menggerus daya beli, dan menurunkan pendapatan riil masyarakat. Di sisi lain, kenaikan biaya usaha juga berisiko menghambat ekspansi bisnis dan penyerapan tenaga kerja.

“Dengan demikian, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan moneter, melainkan ancaman nyata terhadap kesejahteraan masyarakat,” kata Rizal.

Ke depan, Rizal menilai risiko pelemahan rupiah masih terbuka apabila arus keluar modal asing dan ketidakpastian global terus berlanjut.

Tekanan nilai tukar yang terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Karena itu, menurut Rizal, upaya stabilisasi rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia (BI).

Pemerintah juga perlu memperkuat kredibilitas fiskal, menjaga konsistensi kebijakan, memperbaiki tata kelola pasar keuangan, serta meningkatkan pasokan devisa.

“Tanpa pembenahan fundamental yang konkret, tekanan rupiah berisiko semakin membebani masyarakat sekaligus melemahkan prospek pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.

(haa/haa)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Mau Buka Indomaret & Alfamart? Segini Dana yang Harus Disiapkan

Mau Buka Indomaret & Alfamart? Segini Dana yang Harus Disiapkan

February 14, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Skandal Manipulasi Saham Bikin Geger, Ribuan Investor Jadi Korban

Skandal Manipulasi Saham Bikin Geger, Ribuan Investor Jadi Korban

October 31, 2026
Ciri-Ciri Orang Kelas Menengah Atas, Anda Termasuk?

Ciri-Ciri Orang Kelas Menengah Atas, Anda Termasuk?

October 31, 2026
Kenali Modus Voice Phising, BRI Ingatkan Jaga Kerahasiaan Data!

Kenali Modus Voice Phising, BRI Ingatkan Jaga Kerahasiaan Data!

October 31, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .