• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?

Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?

July 1, 2025
Cicilan Pertama Kopdes Rp37,7 T Jatuh Tempo Besok, Suahasil Buka Suara

Cicilan Pertama Kopdes Rp37,7 T Jatuh Tempo Besok, Suahasil Buka Suara

September 24, 2026
Video: Menkeu Suahasil Kunjungi Destry, Bahas Sinergi BI

Video: Menkeu Suahasil Kunjungi Destry, Bahas Sinergi BI

September 24, 2026
Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuiditas-Surat Utang

Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuiditas-Surat Utang

September 24, 2026
Suahasil Minta SMF, PIP Cs Tak Kejar Bunga Tinggi

Suahasil Minta SMF, PIP Cs Tak Kejar Bunga Tinggi

September 24, 2026
Calon Investor BEI Boleh Genggam di Atas 5%, OJK: Ada Syaratnya!

Calon Investor BEI Boleh Genggam di Atas 5%, OJK: Ada Syaratnya!

September 24, 2026
Bos BI-Menkeu Bangun Kerja Sama Lima Pilar, Apa Itu?

Bos BI-Menkeu Bangun Kerja Sama Lima Pilar, Apa Itu?

September 24, 2026
Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuiditas-Surat Utang, Rapat Alot!

Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuiditas-Surat Utang, Rapat Alot!

September 24, 2026
Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuidtas-Surat Utang, Rapat Alot!

Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuidtas-Surat Utang, Rapat Alot!

September 24, 2026
Diam-Diam Petinggi Saratoga Edwin Soeryadjaya Borong 784.100 Saham

Diam-Diam Petinggi Saratoga Edwin Soeryadjaya Borong 784.100 Saham

September 24, 2026
Ternyata! Ini Isi Pertemuan DPR, Menkeu, BI, OJK & Danantara

Ternyata! Ini Isi Pertemuan DPR, Menkeu, BI, OJK & Danantara

September 24, 2026
IHSG Parkir di Zona Merah, Merosot 1,2% ke Level 6.298

IHSG Parkir di Zona Merah, Merosot 1,2% ke Level 6.298

September 24, 2026
73 Emiten Belum Setor Laporan Keuangan, BEI Beri Sanksi

73 Emiten Belum Setor Laporan Keuangan, BEI Beri Sanksi

September 24, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Thursday, September 24, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?

1 year ago
in ENTREPRENEUR
Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar Amerika Serikat mencatat pergerakan awal tahun terburuk sejak 1973, tertekan oleh kebijakan ekonomi dan perdagangan Presiden Donald Trump. Sepanjang enam bulan pertama 2025, indeks dolar anjlok 10,8%, menjadi penurunan semester terbesar sejak runtuhnya sistem Bretton Woods.

Diketahui, indeks dolar menggambarkan pergerakan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lain, termasuk poundsterling, euro, dan yen. Pelemahan ini mencerminkan kegelisahan investor terhadap prospek ekonomi AS di tengah kebijakan yang dinilai tidak konsisten.

“Dolar menjadi kambing hitam dari kebijakan Trump 2.0 yang serba tidak pasti,” kata Francesco Pesole, analis valuta asing dari ING, dikutip dari Financial Times, Selasa, (1/7/2025).

Ia menyebut perang tarif yang tidak menentu, utang jumbo AS, serta kekhawatiran atas independensi The Fed sebagai penyebab menurunnya daya tarik dolar sebagai aset aman.

Pada perdagangan Senin, dolar kembali turun 0,6% menjelang pemungutan suara di Senat AS terkait amandemen terhadap RUU pajak Trump. Undang-undang yang disebut sebagai “big, beautiful tax bill” itu diperkirakan akan menambah utang AS sebesar US$3,2 triliun dalam sepuluh tahun ke depan.

Kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal AS memicu aksi jual besar-besaran di pasar obligasi negara tersebut. Hasilnya, permintaan terhadap dolar ikut terguncang di tengah eksodus dari aset-aset safe haven AS.

Kondisi ini berkebalikan dari prediksi awal tahun yang memperkirakan perang dagang Trump justru akan memperkuat dolar. Alih-alih menguat, dolar justru melemah drastis, sementara euro menguat 13% hingga menembus level US$1,17.

Beberapa bank Wall Street bahkan sebelumnya memprediksi euro akan jatuh ke level paritas terhadap dolar. Namun justru kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS mendorong investor beralih ke aset lain seperti obligasi Jerman.

Andrew Balls, Chief Investment Officer di Pimco, menyebut pengumuman Trump soal “reciprocal tariffs” pada April sebagai titik balik kebijakan ekonomi AS. Meski ia menilai tak ada ancaman nyata terhadap status dolar sebagai mata uang cadangan global, Balls mengakui tren pelemahan tetap bisa terjadi.

Menurutnya, investor global kini semakin aktif melakukan lindung nilai terhadap eksposur dolar. Aktivitas ini justru menambah tekanan terhadap nilai tukar greenback.

Ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga secara agresif juga menjadi beban tambahan bagi dolar. Pasar kini memperkirakan setidaknya lima kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun depan.

Meskipun pelemahan dolar mendukung reli saham AS yang mencapai rekor tertinggi, indeks S&P 500 tetap tertinggal jauh dari bursa Eropa jika diukur dalam satuan mata uang yang sama. Investor institusi, termasuk dana pensiun dan bank sentral, juga mulai mengurangi kepemilikan terhadap aset berdenominasi dolar.

“Investor asing kini menuntut lindung nilai lebih besar atas aset dolar mereka, dan itu turut menghambat dolar untuk ikut rebound bersama saham AS,” kata Pesole.

Di saat bersamaan, harga emas melonjak ke rekor baru akibat pembelian besar-besaran dari bank sentral dan investor yang khawatir terhadap risiko depresiasi dolar.

Saat ini, dolar berada di titik terlemah terhadap mata uang saingannya dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Namun karena posisi jual terhadap dolar sudah terlalu ramai, sebagian analis memperkirakan laju penurunan akan segera melambat.

“Pelemahan dolar sudah jadi tren yang terlalu padat, dan saya menduga kecepatannya akan melambat,” ujar Guy Miller, kepala strategi pasar di Zurich Insurance Group.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



Tak Banyak Sentimen, Dolar AS Ditutup Stagnan Rp16.820




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Cicilan Pertama Kopdes Rp37,7 T Jatuh Tempo Besok, Suahasil Buka Suara

Cicilan Pertama Kopdes Rp37,7 T Jatuh Tempo Besok, Suahasil Buka Suara

September 24, 2026
Video: Menkeu Suahasil Kunjungi Destry, Bahas Sinergi BI

Video: Menkeu Suahasil Kunjungi Destry, Bahas Sinergi BI

September 24, 2026
Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuiditas-Surat Utang

Menkeu Datangi Kantor Bos BI Bahas Likuiditas-Surat Utang

September 24, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .