Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Indonesia tengah berpesta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah melesat lebih dari 9% sejak awal Juli 2026, menandai salah satu penguatan tercepat tahun ini.
Sepanjang 14 hari perdagangan pada Juli, IHSG hanya sekali ditutup di zona merah, yakni pada 8 Juli 2026. Sejak reli dimulai pada 9 Juli, IHSG telah melonjak sekitar 6,1% hanya dalam delapan hari bursa.
Kenaikan indeks juga didukung oleh membaiknya partisipasi pasar. Pada perdagangan terakhir, sebanyak 421 saham menguat, dibandingkan 220 saham melemah dan 324 saham stagnan, mencerminkan penguatan yang relatif merata dan tidak hanya ditopang oleh segelintir saham berkapitalisasi besar.
IHSG juga masih bergerak di atas rata-rata pergerakan jangka pendek (9-day weighted moving average/WMA), menunjukkan momentum bullish masih terjaga. Selama indeks mampu bertahan di atas area psikologis 6.200, peluang melanjutkan penguatan menuju 6.250-6.300 sangat terbuka.
Sentimen positif turut ditopang oleh kembalinya aliran dana asing dalam beberapa sesi terakhir serta menguatnya saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang menjadi motor utama kenaikan IHSG.
Hal tersebut membuat tekanan jual asing jauh berkurang bulan ini. Sebagai perbandingan dengan periode perdagangan yang sama, pada Juni asing mencatat net foreign sell senilai Rp 14,28 triliun, sedangkan bulan ini hanya Rp 2,01 triliun.
Reli IHSG semakin mendapat tenaga setelah S&P Global Ratings mempertahankan sovereign rating Indonesia. Lembaga pemeringkat internasional mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Sementara itu, prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil.
Keputusan tersebut sekaligus mematahkan rumor yang sebelumnya beredar di pasar bahwa S&P akan memangkas peringkat maupun outlook Indonesia.
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.
“Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil,” tulis S&P dalam laporannya.
S&P menilai tekanan terhadap posisi fiskal dan eksternal Indonesia akibat tingginya harga energi, kenaikan suku bunga global, pelemahan rupiah, hingga meningkatnya ketidakpastian kebijakan hanya bersifat sementara.
Lembaga tersebut memperkirakan kondisi tersebut akan membaik seiring potensi pemulihan harga komoditas serta upaya pemerintah menjaga disiplin fiskal.
Sentimen positif dari keputusan S&P langsung direspons pasar dengan aksi beli pada saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG.
Sejak reli dimulai pada 9 Juli, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi yang paling perkasa dengan kenaikan sekitar 8,4%, didorong keberhasilannya kembali menembus level psikologis 3.000.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul dengan penguatan sekitar 6,6% hingga berhasil merebut kembali level 6.100. Pun PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga menguat sekitar 5,5% dan sempat menyentuh area 4.500, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik sekitar 4,7% hingga mendekati resistance 3.600.
Mengingat bobot keempat saham tersebut sangat dominan dalam pergerakan IHSG, reli sektor perbankan menjadi faktor utama yang mendorong indeks melonjak signifikan.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga menilai ada sentimen domestik yang ikut mendorong reli saham perbankan. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai penguatan saham perbankan juga dipengaruhi respons positif investor terhadap pernyataan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam CNBC Indonesia Investment Forum 2026.
“Gara-gara acara CNBC Invesment Forum kemarin itu! Finally investor asing mendengar senior deputy governor berbicara sendiri tentang menjamin bank-bank Indonesia tidak menanggung kerugian BI dalam skema stabilisasi rupiah,” ungkap Liza.
Dalam forum yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (15/7/2026), Destry mengungkapkan BI telah masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore sejak April 2026 sebagai bagian dari upaya stabilisasi rupiah.
“Sejak April, BI terobosan BI masuk di pasar NDF 24 jam 6 hari. Kami menggunakan kanwil di luar untuk masuk monitor NDF,” kata Destry.
Menurut Destry, BI masuk ke pasar NDF dengan bantuan kantor-kantor perwakilan di luar negeri, termasuk Singapura, Hong Kong dan New York.
Selain itu, BI juga memberi pengecualian atas larangan transaksi NDF (Non-Deliverable Forward) jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri (offshore) bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu yang memenuhi syarat. Adapun, kebijakan ditempuh guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah serta pendalaman pasar keuangan domestik.
“Dalam rangka stabilisasi moneter bisa jual NDF tidak boleh beli cover di DNDF itu sifatnya voluntary, Kenapa primary dealers karena ada hubungan ke BI dan banyak juga terkait LCT dan sebagainya,” papar Destry.
Selain pelonggaran NDF offshore bagi dealer PUVA, BI juga memperluas instrumen operasi moneter valas dengan instrumen spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google

















