
Jakarta, CNBC Indonesia – Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria angkat bicara soal berbagai masalah yang dihadapi oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor farmasi. Masalah tersebut meliputi investasi pabrik, utilisasi rendah, beban utang tinggi, hingga persoalan jaringan apotek.
Dirinya mengaku bahwa pada saat Danantara melakukan transformasi, kondisi PT Kimia Farma Tbk tergolong memprihatinkan. Sebab, posisi keuangan perusahaan tersebut sedang tidak sehat lantaran adanya keputusan investasi yang tidak mempertimbangkan tingkat pengembalian (return on investment).
“Yang disebabkan oleh tadi investment yang berlebihan. Investasi yang tidak diukur return on investment. Mereka membangun pabrik yang besar banyak dengan utilisasi yang rendah. Akibat pabrik investasinya begitu besar di pabrik ini tentu ada financing costnya melalui utang dan ada depresiasinya menyebabkan perusahaan rugi, sementara utilisasinya cuma 40%,” kata Dony dalam Squawk Box CNBC Indonesia, Kamis (27/8/2026).
Persoalan kedua, lanjut dia, masalah juga menimpa anak usaha Kimia Farma yaitu PT Kimia Farma Apotek yang memiliki lebih dari 1.000 apotek. Sebelumnya, perusahaan ini sempat menerima investasi Rp 1,5 triliun dari Indonesia Investment Authority (INA) bersama mitra asal China. Akan tetapi, ketika dilakukan proses verifikasi, muncul persoalan pada data inventory atau persediaan.
“Dalam perjalanannya, data yang disajikan oleh Kimia Farma Apotek itu datanya palsu. Karena datanya palsu, tentu investor ini komplain. Palsu itu bagaimana? Seluruh investory, Anda bisa bayangkan kita punya 1.000 lebih apotek itu datanya, persediaannya itu manual, tidak bisa diverifikasi. Waktu mereka melakukan verifikasi, datanya itu bohong semua,” ungkap Dony.
Pada akhirnya, masalah tersebut berujung pada sengketa dengan investor. Dari situ, Kimia Farma memiliki kewajiban untuk mengembalikan investasi sekaligus denda dan biaya lainnya. Alhasil, Danantara mendorong restrukturisasi dengan mengganti manajemen serta membenahi sistem teknologi informasi di Kimia Farma Apotek.
Dari sisi holding, Kimia Farma juga menghadapi persoalan keterbatasan keuangan yang membuat jumlah produk yang dihasilkan terus dipangkas. Dengan begitu, saat ini hanya tersisa 99 produk yang diproduksi perusahaan tersebut.
Dalam rangka menyelamatkan Kimia Farma, Danantara juga melakukan equity injection atau injeksi ekuitas sekaligus restrukturisasi utang. Upaya ini akhirnya mulai memberikan hasil karena Kimia Farma telah mencatatkan keuntungan tahun ini.
Kendati begitu, Dony mengakui bahwa tidak seluruh perusahaan BUMN bisa diselamatkan. Dalam hal ini, ia mencontohkan Indofarma yang dinilai memiliki skala bisnis terlalu kecil, kapasitas produksi terbatas, minim produk unggulan, serta kondisi utang dan aset yang tidak lagi seimbang.
Sebagaimana diketahui, Danantara telah memiliki sejumlah parameter untuk menentukan BUMN mana saja yang masih layak diselamatkan atau harus masuk proses likuidasi. Dony menyebutkan proses penyelamatan BUMN akan dilakukan secara bertahap, mengingat terdapat ribuan perusahaan dan entitas yang perlu ditangani.
(dpu/dpu)


















