
Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah melakukan transformasi besar-besaran terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk PT Telkom Indonesia (Persero). Transformasi ini dilakukan demi menyehatkan keuangan BUMN.
Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria mengungkapkan transformasi dilakukan dengan mengubah bisnis model Telkom menjadi strategic holding.
“Contohnya misalkan, kita Indihome itu untuk meng-order fiber optic, memasangkan fiber optic, itu dia harus lewat kepada Telkom Induk,” ungkap dia dalam dalam Profit CNBC Indonesia, Jumat (/08/2026).
Dony melanjutkan Telkom induk kemudian menunjukkan PT Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia (Telkominfra) dan Telkominfra menunjuk anak perusahaan lainnya untuk mendesain fiber optic tersebut sebelum akhirnya diserahkan ke PT Telkom Akses.
“Ini menurut teman-teman Telkom, itu 150% lebih mahal daripada kompetitor karena mengikuti 4 perusahaan masing-masing mengambil margin dari dirinya sendiri. Inilah yang kita hilangkan. Yang kita hilangkan ini jumlahnya total dalam ekosistem kita itu Rp30 triliun,” tambah dia.
Dony menambahkan, Danantara memiliki mandat untuk menjadi salah satu motor perekonomian Indonesia. Berbeda dengan sovereign wealth fund di sejumlah negara yang menginvestasikan kelebihan fiskal, sumber dana investasi Danantara berasal dari hasil pengelolaan BUMN. Oleh karena itu, kesehatan perusahaan negara menjadi faktor penting yang menentukan keberlanjutan Danantara.
“Pengelolaan BUMN ini menjadi core yang akan menentukan keberlanjutan Danantara,” kata dia.
Dony menjelaskan, sebelum pembentukan Danantara, perusahaan-perusahaan BUMN belum dikelola sebagai satu kesatuan yang terkonsolidasi. Masing-masing perusahaan membangun kelompok usaha dan anak-anak perusahaan sendiri, termasuk pada bidang bisnis yang sebenarnya tidak berkaitan langsung dengan kompetensi utamanya.
Kondisi tersebut membuat satu perusahaan BUMN tidak memiliki mekanisme untuk membantu perusahaan BUMN lain yang sedang menghadapi permasalahan. Setelah perusahaan negara ditempatkan dalam satu ekosistem Danantara, pemetaan secara menyeluruh mulai dilakukan.
Hasil pendataan awal menemukan terdapat 1.074 entitas di dalam ekosistem BUMN. Dari jumlah tersebut, sekitar 52% berada dalam kondisi merugi. Total kerugian langsung dari perusahaan-perusahaan tersebut mencapai sekitar Rp20 triliun.
(rah/rah)

















