Yogyakarta, CNBC Indonesia — Industri asuransi menilai tingkat pemahaman masyarakat terhadap asuransi mulai meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, minat masyarakat untuk membeli produk asuransi dinilai masih relatif rendah.
Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri & Internasional AAJI Handojo G Kusuma mengatakan literasi asuransi saat ini mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Literasi asuransi pada 2024 itu ada di sekitar 36%, sekarang sudah naik di sekitar 45%,” ujar Handojo dalam Educational Class Jogja Financial Festival 2026 bertajuk “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera” di Jogja Expo Centre (JEC), Sabtu (23/5/2026).
Menurutnya, peningkatan literasi tersebut menunjukkan pemahaman masyarakat terhadap asuransi mulai membaik.
“Jadi pengalaman orang tentang asuransi sudah mulai meningkat,” katanya.
Meski demikian, tingkat inklusi asuransi disebut masih relatif rendah meski mengalami kenaikan dari sekitar 12% menjadi 28%.
“Tapi kalau dibandingkan dengan 45% awareness itu inklusivitasnya masih rendah. Orang paham mengenai asuransi tapi orang mau beli asuransi, ah nanti dulu,” ujarnya.
Hal ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menunjukkan tingkat penetrasi asuransi Indonesia masih tertinggal dibanding sejumlah negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Tingkat penetrasi asuransi Indonesia tercatat sebesar 2,7% pada 2025.
Handojo menjelaskan asuransi memiliki konsep gotong royong, yakni masyarakat saling membantu ketika ada peserta lain yang mengalami musibah.
“Jadi kita membantu yang lain yang sedang tertimpa musibah dengan kita mengumpulkan uang sama-sama untuk membantu orang,” katanya.
Ia juga mengatakan memiliki asuransi sejak muda cenderung lebih murah karena premi yang dibayarkan lebih rendah dan risiko lebih mudah diterima perusahaan asuransi.
Menurutnya, asuransi memiliki peran penting untuk menjaga kesejahteraan keluarga, terutama ketika pencari nafkah mengalami musibah.
“Kalau pencari nafkah sakit atau tidak bisa bekerja, maka satu keluarga akan terpengaruh secara finansial. Untuk itulah asuransi menjadi penting,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, sejumlah pelajar juga mengungkapkan alasan generasi muda masih enggan memiliki asuransi meski memahami pentingnya perlindungan keuangan.
Beberapa di antaranya karena istilah asuransi dianggap sulit dipahami. Selain itu, sebagian anak muda menilai asuransi tidak memberikan imbal hasil sehingga lebih memilih instrumen investasi seperti saham ketika memiliki dana lebih.
Kegiatan ini juga menghadirkan Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang OJK Sumarjono dan Direktur Keuangan Indonesia Financial Group (IFG) Heru Handayanto.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google



















