
Jakarta, CNBC Indonesia – BPI Danantara bertemu dengan Presiden RI, Prabowo Subianto dan membahas soal program perampingan alias streamlining Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masih terus berjalan.
“Nah, tadi dibicarakan bagaimana kita sekarang next step-nya itu di 2027 awal itu meningkatkan, ya sekarang kita juga telah dan sedang melakukan optimalisasi aset-aset BUMN, kemudian juga meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi, termasuk juga kita membuka apa, untuk kerja sama yang lebih luas kepada private sector, kepada dunia usaha, gitu,” ujar Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara di Istana Presiden, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, jika memang sudah bagus, dan bisa dikerjakan oleh private sector, pihaknya akan mendukung dan mempersilahkan pihak swasta menggarap.
“Jadi, program-program itu nanti kita akan susun untuk kita mulai konsolidasi kan sudah berjalan, mungkin next step-nya bagaimana kita ya mengoptimalisasi aset-aset ini, ya. Itu aja, sih,” jelas Rosan.
Ia mendorong swasta dan BUMN lebih produktif dan efisiensi secara bisnis dan kolaborasi. Danantara juga akan mengoptimalkan aset-aset yang ada di BUMN dengan perencanaan yang baik, terukur, terstruktur, dan juga memberikan keuntungan yang baik.
Rosan juga menyebut jika pemangkasan BUMN sekarang sudah di angka 354 perusahaan.
“Ya kan kemarin kalau kita lihat gini, aset-aset yang kita tutup ini, yang kita kurangi ini pertama memang kebanyakan memang sudah dormant istilahnya. Jadi, company-nya, entitasnya udah ada, masih ada tapi sudah tidak berjalan, gitu ya. Nah, kemudian ada yang kita lakukan merger,” papar Rosan.
Contohnya baru saja ada 6 asset management yang tadi dimiliki oleh setiap perbankan, sekarang dilakukan merger menjadi satu. Lalu, dulu di BUMN setiap BUMN rata-rata punya hotel, dan sekarang dijadikan satu holding.
“Nah, sekarang itu kita gabungkan, yang tadi kita punya 137 hotel supaya menjadi lebih efisien, ya. Kita punya rumah sakit hampir 75, juga ini kita gabungkan. Jadi, ada beberapa yang yang kita lakukan dalam rangka apa streamlining di BUMN-BUMN ini,” tegasnya.
Di sisi lain, Ia menjelaskan dari tadinya ada 1.074 perusahaan BUMN, yang memberikan dividen 97% itu hanya dari 15 perusahaan. Ia bahkan menyebut sebagian besar atau 52% itu rugi. Ini yang coba diperbaiki, dan tadi disampaikan oleh Presiden, jika misalnya dunia usaha atau private sector bisa melakukan lebih baik, dan itu memang bukan hal-hal yang sifatnya strategis, maka akan diberikan ruang yang lebih besar kepada dunia usaha untuk untuk mengembangkan usaha-usaha ini.
(ayh/ayh)

















