• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Destry Blak-blakan, Rupiah Tak Selalu Harus Diselamatkan Pakai BI Rate

Destry Blak-blakan, Rupiah Tak Selalu Harus Diselamatkan Pakai BI Rate

August 26, 2026
Calon Bos BI Destry Buka Suara Soal Defisit Transaksi Berjalan Bengkak

Calon Bos BI Destry Buka Suara Soal Defisit Transaksi Berjalan Bengkak

August 26, 2026
Mau IPO, Perusahaan Ini Klaim Potensi Cuan Rp 531 Kuadriliun

Mau IPO, Perusahaan Ini Klaim Potensi Cuan Rp 531 Kuadriliun

August 26, 2026
Soal Penerapan Pembatasan Pertalite, Purbaya: Tunggu ‘DTSEN Baru’

Soal Penerapan Pembatasan Pertalite, Purbaya: Tunggu ‘DTSEN Baru’

August 26, 2026
Calon Gubernur BI Sebut Rupiah Harusnya Lebih Kuat dari Rp17.700/US$

Calon Gubernur BI Sebut Rupiah Harusnya Lebih Kuat dari Rp17.700/US$

August 26, 2026
Sebulan Sahamnya Naik 25%, Emiten Ini Umumkan Rentetan Aksi Korporasi

Sebulan Sahamnya Naik 25%, Emiten Ini Umumkan Rentetan Aksi Korporasi

August 26, 2026
Purbaya Gelontorkan Rp7 T ke BPS Buat Perbaiki Pendataan Desil

Purbaya Gelontorkan Rp7 T ke BPS Buat Perbaiki Pendataan Desil

August 26, 2026
Destry Bakal Gunakan SRBI Buat Turunkan Bunga Bank, Ini Caranya!

Destry Bakal Gunakan SRBI Buat Turunkan Bunga Bank, Ini Caranya!

August 26, 2026
IHSG Hari Ini Pangkas Koreksi di Sesi 1, Parkir di Level 6.496

IHSG Hari Ini Pangkas Koreksi di Sesi 1, Parkir di Level 6.496

August 26, 2026
Destry Damayanti Jadi Nakhoda BI Bantu Perkuat Rupiah

Destry Damayanti Jadi Nakhoda BI Bantu Perkuat Rupiah

August 26, 2026
Calon Gubernur BI Tegaskan Inflasi Tak Cuma Tanggung Jawab BI Saja

Calon Gubernur BI Tegaskan Inflasi Tak Cuma Tanggung Jawab BI Saja

August 26, 2026
Calon Tunggal Gubernur BI Destry Damayanti Fit & Proper Test di DPR

Calon Tunggal Gubernur BI Destry Damayanti Fit & Proper Test di DPR

August 26, 2026
Entitas Djarum Beberkan Alasan Pegang 10,86% Saham Bakrie Telecom

Entitas Djarum Beberkan Alasan Pegang 10,86% Saham Bakrie Telecom

August 26, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Wednesday, August 26, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Market

Destry Blak-blakan, Rupiah Tak Selalu Harus Diselamatkan Pakai BI Rate

53 minutes ago
in Market
Destry Blak-blakan, Rupiah Tak Selalu Harus Diselamatkan Pakai BI Rate
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bank sentral tidak bisa hanya mengandalkan instrumen suku bunga untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Di tengah ketidakpastian global yang dinilai semakin tidak lazim, BI harus mengandalkan bauran kebijakan yang lebih luas untuk menjaga rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Hal itu disampaikan Destry saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Menurut Destry, tantangan yang dihadapi bank sentral saat ini berbeda dibandingkan teori ekonomi konvensional. Di banyak negara maju, perlambatan ekonomi justru terjadi bersamaan dengan inflasi yang tinggi akibat gangguan rantai pasok dan lonjakan harga komoditas.

Situasi yang tidak biasa itu juga terlihat di Amerika Serikat. Secara teori, ketika permintaan dolar meningkat dan investor membeli obligasi pemerintah AS, imbal hasil (yield) surat utang seharusnya turun. Namun yang terjadi justru sebaliknya.

“Ini situasi yang tidak biasa. Karena itu kita tidak bisa hanya bersandar pada satu kebijakan tertentu,” ujar Destry.

Akibat kondisi ini, Destry mengungkapkan alasan BI tidak selalu merespons tekanan nilai tukar rupiah dengan menaikkan BI Rate.

Menurutnya, keputusan suku bunga harus mempertimbangkan keseimbangan antara menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu, dalam sejumlah kesempatan BI memilih menggunakan instrumen lain untuk menopang rupiah.

“Saat RDG kemarin kami tidak bisa menaikkan suku bunga untuk mendukung rupiah karena kami juga melihat masih ada pekerjaan rumah pada pertumbuhan ekonomi,” katanya.

“Kami menggunakan kebijakan pendukung kami memberikan insentif dan hedging karena butuh inflow masuk,” tambahnya.

Sebagai gantinya, BI mengandalkan berbagai instrumen pendukung seperti insentif likuiditas, kebijakan lindung nilai (hedging), serta upaya menarik aliran modal asing masuk ke pasar keuangan domestik.

Destry menegaskan strategi tersebut dimungkinkan karena pasar keuangan Indonesia kini jauh lebih dalam dibanding beberapa tahun lalu.

Ia mengungkapkan volume transaksi pasar uang domestik telah meningkat sekitar enam kali lipat dalam enam tahun terakhir. Sementara transaksi pasar valuta asing (valas) melonjak hingga tiga kali lipat dengan nilai transaksi harian mencapai sekitar US$12 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan periode 2020.

“Pasar yang makin dalam membuat stabilitas lebih terjaga sekaligus menjadi sumber pembiayaan pembangunan,” ujarnya.

Meski menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah, Destry memastikan independensi BI tetap menjadi prinsip utama dalam menjalankan kebijakan moneter.

Menurutnya, sinergi bukan berarti mengorbankan independensi bank sentral. Sebaliknya, koordinasi diperlukan karena tantangan ekonomi saat ini tidak bisa diselesaikan oleh satu institusi atau satu instrumen kebijakan saja.

Karena itu, BI akan tetap menjalankan mandat menjaga stabilitas nilai rupiah sembari mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui kombinasi kebijakan moneter, makroprudensial, hingga pendalaman pasar keuangan.

Dalam paparannya, Destry juga menegaskan pengendalian inflasi tidak sepenuhnya berada di tangan BI.

Menurutnya, inflasi inti (core inflation) yang dipengaruhi sisi permintaan memang menjadi wilayah utama kebijakan moneter. Namun, komponen inflasi lain seperti harga pangan dan administered prices membutuhkan keterlibatan pemerintah.

Destry menjelaskan inflasi inti berkontribusi sekitar 65% terhadap inflasi keseluruhan. Sementara inflasi pangan menyumbang sekitar 19%. Karena itu, jika harga pangan tidak terkendali, tekanan terhadap inflasi nasional akan tetap besar meskipun BI menjalankan kebijakan moneter yang ketat.

“Inflasi sudah pasti tidak bisa ditangani BI sendiri karena demand side karena core inflation 65% dari head inflation,” katanya.

Selain faktor pangan, inflasi juga dipengaruhi administered prices seperti harga bahan bakar minyak (BBM). Menurut Destry, kenaikan harga BBM biasanya memberikan dampak terhadap inflasi selama satu hingga dua bulan sebelum kembali menyesuaikan.

Pernyataan Destry ini menjadi sinyal bahwa di bawah kepemimpinannya, BI kemungkinan akan tetap mengedepankan pendekatan yang lebih fleksibel dalam menentukan arah BI Rate. Fokusnya bukan hanya menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga memastikan momentum pertumbuhan ekonomi tidak terganggu oleh kebijakan moneter yang terlalu ketat.

(haa/haa)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Calon Bos BI Destry Buka Suara Soal Defisit Transaksi Berjalan Bengkak

Calon Bos BI Destry Buka Suara Soal Defisit Transaksi Berjalan Bengkak

August 26, 2026
Mau IPO, Perusahaan Ini Klaim Potensi Cuan Rp 531 Kuadriliun

Mau IPO, Perusahaan Ini Klaim Potensi Cuan Rp 531 Kuadriliun

August 26, 2026
Soal Penerapan Pembatasan Pertalite, Purbaya: Tunggu ‘DTSEN Baru’

Soal Penerapan Pembatasan Pertalite, Purbaya: Tunggu ‘DTSEN Baru’

August 26, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .