
Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) belum memberikan sinyal tegas terkait arah suku bunga acuan BI Rate dalam tiga bulan ke depan, termasuk kemungkinan kembali menaikkan suku bunga.
Gubernur BI Destry Damayanti memilih menyerahkan keputusan tersebut pada perkembangan kondisi ekonomi dan pasar ke depan.
“Kita lihat nanti, kan. Kita lihat nanti, ya,” ujar Destry saat ditanya wartawan mengenai keterbukaan BI untuk menaikkan suku bunga dalam tiga bulan ke depan selepas rapat kerja dengan DPR RI, Senin (28/9/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BI belum menutup kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter, termasuk kenaikan BI Rate, meski belum memberikan indikasi bahwa kenaikan akan dilakukan.
Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026, BI memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75%, sedangkan Lending Facility berada di 6,50%.
Terkait keputusan tersebut, pada saat rapat kerja, Destry turut menjelaskan alasan Bank Indonesia tetap menahan suku bunga di tengah kebijakan moneter bank sentral dunia kian mengetat. Bahkan ketika Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed), sebagai acuan internasional, menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin pada September, BI Rate tetap bertahan di 5,75%.
Gubernur BI Destry mengungkapkan bahwa setiap keputusan suku bunga selalu didasarkan pada asesmen menyeluruh, termasuk analisis tekanan (stress analysis) terhadap dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Kami melakukan assessment, kami juga melakukan stress analysis. Kami melihat setiap dampak kenaikan BI Rate maupun pergerakan rupiah terhadap pertumbuhan ekonomi seperti apa,” kata Destry, dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (28/9/2026).
BI, ungkap Destry, tiap pengambilan keputusan arah kebijakan moneter tetap mengacu pada inflasi sebagai jangkar kebijakan (anchor). Dari hasil evaluasi terbaru, BI menilai tekanan inflasi masih berada dalam batas yang nyaman.
“Kenapa BI tidak menaikkan suku bunga? Karena anchor kami adalah inflasi. Saat ini kami masih merasa nyaman dengan kondisi inflasi,” ujar Destry.
Meskipun inflasi umum bergerak di atas 3%, tepatnya 3,19%, Destry menerangkan bahwa indikator utamanya adalah inflasi inti, yang menjadi indikator penting untuk melihat tekanan harga dari sisi permintaan, masih berada di sekitar level 2%.
Oleh karena itu, BI menilai respons kebijakan tidak cukup hanya melalui instrumen suku bunga. Pengendalian inflasi pangan membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga otoritas terkait lainnya.
(haa/haa)


















