• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Ekonom Apresiasi Langkah BI Pertahankan Suku Bunga

Ekonom Apresiasi Langkah BI Pertahankan Suku Bunga

July 29, 2026
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,17% ke Level 6.141

IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,17% ke Level 6.141

July 29, 2026
IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

July 29, 2026
Bursa Asia Rebound, Kospi & Nikkei Bergerak di Zona Hijau

Bursa Asia Rebound, Kospi & Nikkei Bergerak di Zona Hijau

July 29, 2026
Pemerintah Segera Uji Coba Penyaluran Bansos Lewat KDMP di 900 Lokasi

Pemerintah Segera Uji Coba Penyaluran Bansos Lewat KDMP di 900 Lokasi

July 29, 2026
Asing Kompak Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

Asing Kompak Borong 10 Saham Ini Kala IHSG Merah

July 29, 2026
Anak Usaha WIFI Resmi Terbitkan Samurai Bonds Rp2,4 Triliun

Anak Usaha WIFI Resmi Terbitkan Samurai Bonds Rp2,4 Triliun

July 29, 2026
Ketua LPS Sebut Simpanan Masyarakat di Bank Tetap Tumbuh

Ketua LPS Sebut Simpanan Masyarakat di Bank Tetap Tumbuh

July 29, 2026
Asing Kompak Lepas Saham Blue Chip Kala IHSG Terkoreksi Tajam

Asing Kompak Lepas Saham Blue Chip Kala IHSG Terkoreksi Tajam

July 29, 2026
Purbaya Buka Suara Usai Perry Warjiyo Mundur dari BI, Pastikan Ini

Purbaya Buka Suara Usai Perry Warjiyo Mundur dari BI, Pastikan Ini

July 29, 2026
BNI Siap Buyback Saham Rp627 Miliar

BNI Siap Buyback Saham Rp627 Miliar

July 29, 2026
Rupiah Ditutup Rp18.055/US$, BI Optimalkan Triple Intervention & SRBI

Rupiah Ditutup Rp18.055/US$, BI Optimalkan Triple Intervention & SRBI

July 29, 2026
Purbaya Pastikan KSSK Solid Jaga Pasar Usai Perry Warjiyo Mundur

Purbaya Pastikan KSSK Solid Jaga Pasar Usai Perry Warjiyo Mundur

July 28, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Wednesday, July 29, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Ekonom Apresiasi Langkah BI Pertahankan Suku Bunga

53 minutes ago
in Lifestyle
Ekonom Apresiasi Langkah BI Pertahankan Suku Bunga
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Menanggapi langkah yang diambil BI, Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan keputusan mempertahankan BI Rate, menjadi langkah positif untuk mendukung stabilitas rupiah, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Sejalan dengan perkiraan kami, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur Juli 2026, meskipun ekspektasi pasar memperkirakan kenaikan sebesar 25 bps menjadi 6,00%,” ungkap Josua, kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, Bank sentral kembali menegaskan komitmennya untuk terus mencermati tekanan inflasi di tengah risiko eksternal yang masih persisten, seraya tetap mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. BI juga mengindikasikan bahwa akumulasi kenaikan suku bunga kebijakan sebesar 100 bps yang telah dilakukan sepanjang Mei-Juni 2026, untuk saat ini, dinilai memadai untuk menjaga stabilitas rupiah dan menambatkan ekspektasi inflasi di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama terkait meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Arah BI Rate ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan ketidakpastian global dan domestik, yang kemungkinan masih akan berlanjut hingga sisa tahun 2026. Kami menilai bahwa keputusan BI terkait suku bunga kebijakan akan tetap sangat bergantung pada perkembangan kondisi global maupun domestik,” tegas dia.

Sementara itu, dari sisi eksternal, tekanan meningkat seiring kembali memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang telah mendorong harga minyak global kembali naik ke atas US$ 90 per barel, sehingga kembali memunculkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Meskipun data inflasi AS terbaru untuk Juni 2026 tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar, yang kemudian mendorong investor menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat dan agresif.

“Kami menilai moderasi tersebut bersifat sementara. Pelemahan inflasi tersebut terutama didorong oleh penurunan harga energi, sejalan dengan penurunan harga minyak global selama Juni 2026. Mengingat harga minyak kini kembali meningkat tajam, tekanan inflasi berpotensi kembali mengemuka dalam beberapa bulan mendatang. Secara keseluruhan, kami menilai risiko global pada Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan dengan Juni 2026. Selain itu, The Fed masih mempertahankan sikap hawkish, dengan tekanan inflasi yang persisten tetap menjadi perhatian utamanya,” ungkap Josua.

Dari sisi domestik, sejumlah perkembangan memberikan dukungan positif. Keputusan S&P untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan outlook stabil telah memperkuat kepercayaan investor dan turut mendukung aliran masuk modal asing. Sementara itu, kinerja fiskal pemerintah selama semester I-2026 mengindikasikan bahwa defisit fiskal masih terkendali dengan baik, meskipun prospek fiskal ke depan akan tetap bergantung pada perkembangan harga minyak global dan nilai tukar rupiah.

Namun demikian, posisi fiskal yang relatif prudent telah meredakan kekhawatiran terhadap risiko pelebaran defisit kembar, yaitu defisit fiskal dan defisit transaksi berjalan. Rupiah kembali tercatat menguat ke posisi Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026, setelah sempat melemah sejak akhir Juni 2026 akibat kembali meningkatnya konflik di Timur Tengah dan menguatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed.

“Skenario dasar kami tetap memproyeksikan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75% hingga akhir 2026. Namun demikian, kami tidak menutup kemungkinan adanya pengetatan kebijakan moneter tambahan apabila kondisi global maupun domestik memburuk lebih lanjut. Dalam skenario negatif kami, BI Rate berpotensi meningkat hingga 6,50% apabila kondisi global memburuk secara signifikan melampaui tekanan yang terjadi selama semester I-2026,” jelas dia.

Menurut Penilaian Josua, akumulasi kenaikan BI Rate sebesar 100 bps yang dilakukan sepanjang Mei-Juni 2026 telah mencerminkan antisipasi BI terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps pada akhir tahun ini, dengan probabilitas yang lebih tinggi terjadi pada kuartal IV-2026.

“Dengan kata lain, BI telah bertindak secara antisipatif. Apabila ekspektasi tersebut terealisasi tanpa disertai pemburukan lebih lanjut pada kondisi global, probabilitas kenaikan tambahan BI Rate dapat menurun,” pungkas dia.

Senada dengan Josua, Ekonom Makro Bank Tabungan Negara (Persero) Myrdal Gunarto juga mengatakan BI Rate ditahan pada 5,75% sesuai ekspektasi. Menurutnya, keputusan ini positif bagi perekonomian Indonesia, terutama ruang bagi sektor riil untuk kembali terakselerasi.

Jadi secara umum kebijakan BI masih akomodatif untuk dorong perekonomian, baik dari sisi sektor riil maupun keuangan dan perbankan untuk terus tumbuh.

Myrdal menyebutkan optimisme ini terlihat dari perkembangan terakhir terhadap beberapa indikator seperti indeks kepercayaan konsumen, indeks pembelian barang tahan lama, indeks penjualan barang ritel, dan PMI Manufacturing index. Maka tren pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tumbuh lebih agresif di atas 5,15% pada tahun ini akan berlanjut.

“Nah, meski BI Rate tidak berubah, tapi kami melihat amunisi moneter Bank Indonesia untuk jaga stabilitas Rupiah dan harga SUN maupun instrumen lain sangat mumpuni. Itu bisa terlihat dari inflow dari luar terkini yang deras via SRBI. Cadangan devisa Indonesia juga meningkat pada bulan lalu. Jadi kondisinya solid dari sisi amunisi moneter domestik,” jelas Myrdal.

Apalagi, seiring fundamental ekonomi Indonesia yg terbukti resilient di tengah guncangan global plus adanya pengakuan rating BBB dengan prospek stabil dari investasi, di tambah realita yield government bond (sejalan dengan yield SBRI) yang berada di atas 7%, maka arus dana masuk global masih akan hadir ke pasar SUN Indonesia. Jika kondisi tekanan global mereda, maka harga SUN Indonesia akan kembali dalam tren penguatan.

Sementara kalau tekanan eksternal menguat, maka investor global masih akan tetap melakukan aksi “buy on weakness”, karena yield yg menarik, sehingga kenaikan yield akan terbatas, kurang dari 5bps seperti hari ini (meski yield US Treasury naik). Indonesia 10Y govt yield masih terbatas dengan resisten 7,31%, dengan kecenderungan gap yield dengan 10Y yield masih menarik dan terlihat lebar lebih dari 220 bps. Kepemilikan asing di SUN juga tercatat positif secara year to date.

“Sedangkan secara nilai tukar dengan dolar Amerika Serikat (AS), kami lihat resisten level di Rp 17.999 saat ini masih kuat, karena realita neraca dagang bulan Juli lebih baik dari Juni (seiring harga minyak impor yg lebih murah) Dan realita arus dana global sudah berangsur masuk ke pasar saham Indonesia (setelah keputusan S&P ada posisi net beli sebanyak US$ 110,90 juta sepanjang 16-21 Juli 20266), lalu puncak permintaan valas domestik juga sudah lewat masa puncaknya (terutama untuk transfer dividen ke investor asing) plus juga dana asing yang kuat masuk via SRBI pada tahun ini,” pungkas dia.

Untuk diketahui, BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Bank Indonesia memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA), serta meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Keputusan BI-Rate dan kebijakan lain dimaksud merupakan bagian terintegrasi dari bauran kebijakan Bank Indonesia yang tetap konsisten untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global, serta untuk mempertahankan inflasi pada tahun 2026 dan 2027 berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah (pro-stability).

 

(rah/rah)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,17% ke Level 6.141

IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,17% ke Level 6.141

July 29, 2026
IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

July 29, 2026
Bursa Asia Rebound, Kospi & Nikkei Bergerak di Zona Hijau

Bursa Asia Rebound, Kospi & Nikkei Bergerak di Zona Hijau

July 29, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .