
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin (28/9/2026). Pelemahan ini melanjutkan tren negatif dengan dibuka di level 6.209,75, sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di 6.241,89.
Pada sesi perdagangan hari ini, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup sempit, dengan level tertinggi tercatat di 6.209,96 dan level terendah di 6.180,60. Pergerakan indeks yang konsisten menurun sejak awal sesi mengindikasikan tekanan jual yang mendominasi pasar sepanjang hari.
Dari sisi aktivitas perdagangan, tercatat volume transaksi sebesar 2,01 miliar saham, jauh di bawah rata-rata volume harian yang mencapai 17,44 miliar saham. Meski demikian, nilai transaksi tetap cukup signifikan yakni Rp443,99 miliar, dengan jumlah lot yang diperdagangkan sebanyak 20,13 juta lot.
Pasar keuangan Indonesia ambruk pada pekan lalu di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta kekhawatiran akan suku bunga “higher for longer”.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan tertekan pada pekan ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan lalu, Jumat (25/9/20226) dengan kinerja jeblok.
Pada Jumat (25/9/2026), IHSG ditutup melemah 0,90% atau 56,71 poin ke level 6.241,89. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) pun menjadi Rp10.929 triliun.
Tekanan juga datang dari investor asing. Pada perdagangan Jumat, asing mencatatkan jual bersih atau net sell Rp559,08 miliar.
Sepanjang pekan lalu, net sell tercatat Rp 3,16 triliun. Angka ini lebih besar dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat net sell sebesar Rp 2,96 triliun. Dengan demikian, akumulasi net sell asing sepanjang 2026 mencapai Rp77,52 triliun.
Dari pasar mata uang, rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pekan lalu.
Mata uang Garuda memang menguat 0,03% pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (25/9/2026) ke posisi Rp17.880/US$. Namun, secara keseluruhan, rupiah melemah 0,85% dalam sepakan.
(rob/rob)


















