
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,43% ke level 6.121,70 pada perdagangan Selasa (29/9).
Pergerakan indeks dipengaruhi oleh sejumlah saham utama, dengan BBRI menguat 0,96%, VKTR naik 7,79%, dan DSSA bertambah 3,32%. Di sisi lain, GOTO turun 13,95%, BBCA melemah 1,20%, dan BREN terkoreksi 3,63%.
Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp536,70 miliar di pasar reguler dan Rp777,18 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral, tujuh dari 11 sektor berakhir di zona merah. Sektor Technology menjadi sektor dengan penurunan terdalam sebesar 3,37%, sedangkan Consumer Cyclical mencatat penguatan tertinggi sebesar 0,70%.
Di pasar Amerika Serikat, indeks utama juga berakhir melemah. Dow Jones turun 0,26% ke level 51.349, S&P 500 terkoreksi 0,17% ke 7.670, sementara Nasdaq bergerak relatif datar dengan penurunan 0,09% ke 26.797.
Tekanan terhadap IHSG masih berasal dari GOTO yang memberikan pengaruh -11,00 poin terhadap indeks. Pelaku pasar juga mencermati penerapan kebijakan short selling yang mulai berlaku pada 1 Oktober. Sementara itu, ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia masing-masing turun 0,30% dan 0,20%.
Dari sisi aksi korporasi, ada PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) memperoleh kontrak baru untuk pengadaan panel listrik bagi proyek pusat data CGK5 dan CGK7 milik BDx Data Centers. Kontrak tersebut resmi ditandatangani pada 25 September 2026 dan tidak memiliki hubungan afiliasi dengan pihak pemberi kerja.
Kontrak ini memperluas cakupan bisnis SEMA dari manufaktur panel listrik ke rantai pasok infrastruktur pusat data. Langkah tersebut sejalan dengan strategi diversifikasi perseroan ke sektor energi dan infrastruktur digital.
Dari sisi keberlanjutan pesanan, proyek CGK5 di Karawang dikembangkan sebagai hyperscale campus dengan kapasitas hingga 290 MW IT load secara bertahap. Proyek tersebut juga telah mengamankan pasokan listrik PLN sebesar 385 MVA.
Dengan pembangunan yang dilakukan secara bertahap dan membutuhkan infrastruktur kelistrikan dalam skala besar, pengembangan kapasitas berikutnya berpotensi membuka kebutuhan pengadaan panel dan switchgear tambahan.
Selanjutnya, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) turut mencatatkan pendapatan sebesar USD1,50 miliar pada semester I-2026, naik 30,66% secara tahunan dibandingkan USD1,14 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih perseroan juga meningkat 45,03% menjadi USD219,96 juta dari sebelumnya USD151,67 juta.
Pertumbuhan pendapatan terutama berasal dari segmen pertambangan batu bara yang mencatat kenaikan penjualan 31,08% secara tahunan. Pasar ekspor menjadi kontributor utama dengan nilai penjualan USD884,85 juta, sedangkan penjualan domestik mencapai USD610,43 juta.
Pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan turut didukung oleh pengendalian beban usaha. Beban usaha hanya meningkat 6,66% secara tahunan, sementara beban umum dan administrasi turun 10,16%.
Kondisi tersebut mendorong laba usaha GEMS melonjak 49,39% menjadi USD298,64 juta. Namun, kinerja tersebut sedikit tertekan oleh rugi selisih kurs sebesar USD6,43 juta.
Di sisi lain, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) tengah memperoleh pernyataan efektif dari OJK untuk melaksanakan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue.
Dalam aksi tersebut, VKTR akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp200 per saham. Dengan demikian, total dana yang berpotensi dihimpun mencapai Rp3 triliun.
Sekitar 66,86% dari dana bersih hasil aksi korporasi akan digunakan sebagai setoran modal kepada Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). Dana tersebut akan mendukung pembelian kendaraan listrik dari VKTR untuk periode 2026-2027.
Sementara itu, sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja, termasuk untuk pengadaan persediaan kendaraan listrik seperti bus, truk, transporter, dan forklift listrik.
Rasio HMETD ditetapkan sebesar 35:12. Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya berpotensi mengalami dilusi maksimal 25,53%.
Dalam aksi tersebut, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) tidak melaksanakan HMETD dan mengalihkan seluruh haknya sebanyak 3,66 miliar saham dengan nilai Rp732,13 miliar kepada Bakrie Capital Indonesia (BCI).
BCI bersama Biofuel Indo Sumatra (BIS) akan bertindak sebagai pembeli siaga dalam aksi korporasi tersebut. Sementara itu, periode perdagangan dan pelaksanaan HMETD dijadwalkan berlangsung pada 12-23 Oktober 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh)

















