
Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan para investor pasar modal untuk memiliki ketahanan agar menjadi tangguh. Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno mengatakan investor yang tangguh pastinya pernah mengalami kerugian dalam berinvestasi.
“Kita harus stay resilient, ya. Jadilah investor yang tangguh,” kata Edi dalam sambutannya di acara Ring The Bell For Financial Literacy 2026 di Gedung BEI, Rabu (14/10/2026).
Ia mengatakan pasar modal memiliki harga saham yang dapat naik dan turun seiring perubahan kondisi ekonomi maupun sentimen pasar. Maka demikian, investor tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan mengelola emosi dan juga menghadapi risiko.
“Jangan terburu-buru membeli karena melihat orang lain memperoleh keuntungan, sebaliknya jangan pula mengambil keputusan secara panik ya ketika pasar sedang mengalami penurunan,” tutur Edi.
Menurutnya, investor yang tangguh bukanlah investor yang tidak pernah mengalami kerugian, melainkan investor yang mampu memahami risiko, menjaga sikap disiplin, dan mengambil keputusan secara rasional.
Edi melanjutkan, ketahanan tersebut dapat dibangun dengan memiliki tujuan investasi yang jelas. Selain itu, menyiapkan dana darurat, melakukan diversifikasi, serta berinvestasi sesuai kemampuan dan juga profil risiko.
“Yang perlu kita bangun bukan sekadar keberanian untuk berinvestasi, ya, tetapi juga kesiapan menghadapi risiko yang menyertai investasi tersebut,” imbuh Edi.
Untuk diketahui, secara year to date (ytd) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah anjlok 31,27%. IHSG sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa yakni 9.174,47 pada bulan Januari.
Adapun kapitalisasi pasarnya saat ini tercatat sebesar Rp10.452 triliun.
Jika dibandingkan dengan tahun lalu, level tertinggi IHSG 2025 sempat tercatat di 8.710,70 pada 8 Desember 2025 dengan nilai kapitaliasi pasar tertinggi Rp16.000 triliun di tanggal yang sama.
Membandingkan dengan level tertingginya pada 8 Desember 2025, maka kapitalisasi pasar IHSG telah menyusut Rp5.548 triliun atau 34,68% menjadi Rp10.452 triliun.
(rob/rob)



















