• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
IHSG Sesi I Dibuka Melemah 0,16% ke Level 6.364

IHSG Sesi I Dibuka Melemah 0,16% ke Level 6.364

September 24, 2026
Cuma 5 Hari Jabat Komisaris BUMN, Ini Profil Silfester Matutina

Cuma 5 Hari Jabat Komisaris BUMN, Ini Profil Silfester Matutina

September 25, 2026
Tak Sampai Sepekan Jabat Komisaris, Ini Profil Silfester Matutina

Tak Sampai Sepekan Jabat Komisaris, Ini Profil Silfester Matutina

September 25, 2026
BI & BCTL Teken MoU, QRIS Siap Diperluas hingga ke Timor Leste

BI & BCTL Teken MoU, QRIS Siap Diperluas hingga ke Timor Leste

September 25, 2026
Rupiah Tanda Tangan Purbaya-Perry Baru Dicetak, Bos BI: Kolektor Mau?

Rupiah Tanda Tangan Purbaya-Perry Baru Dicetak, Bos BI: Kolektor Mau?

September 25, 2026
Sebulan Naik Nyaris 90%, BEI Pantau Ketat Saham Inter-Delta (INTD)

Sebulan Naik Nyaris 90%, BEI Pantau Ketat Saham Inter-Delta (INTD)

September 25, 2026
Harga Saham Bergerak Liar, BEI Gembok Perdagangan 4 Emiten Ini

Harga Saham Bergerak Liar, BEI Gembok Perdagangan 4 Emiten Ini

September 25, 2026
Waskita Karya (WSKT) Gagal Bayar Pokok Obligasi Rp 722 Miliar

Waskita Karya (WSKT) Gagal Bayar Pokok Obligasi Rp 722 Miliar

September 25, 2026
Siloam Rampungkan Akuisisi 5 RS Milik First REIT Rp 3,47 Triliun

Siloam Rampungkan Akuisisi 5 RS Milik First REIT Rp 3,47 Triliun

September 25, 2026
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,27% ke Level 6.315

IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,27% ke Level 6.315

September 25, 2026
Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kembali Tembus Rp17.900

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kembali Tembus Rp17.900

September 25, 2026
IHSG Turun ke 6.200, Asing Net Sell Jumbo 10 Saham Ini

IHSG Turun ke 6.200, Asing Net Sell Jumbo 10 Saham Ini

September 25, 2026
IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

September 25, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Friday, September 25, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Market

IHSG Sesi I Dibuka Melemah 0,16% ke Level 6.364

1 day ago
in Market
IHSG Sesi I Dibuka Melemah 0,16% ke Level 6.364
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis (24/9/2026), setelah melesat signifikan pada sesi perdagangan kemarin.

Berdasarkan data IDX Mobile, IHSG pada pembukaan perdagangan turun 9,93 poin atau 0,16% ke level 6.364,97. Beberapa menit setelah pasar buka IHSG melemah lebih dalam hingga 0,47%. Indeks diketahui bergerak pada rentang terendah 6.343 dan tertinggi 6.363 pada awal perdagangan pagi ini.

Sebanyak 232 saham menguat, 90 saham melemah, dan 312 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 161,71 miliar, dengan volume perdagangan 302,59 juta saham yang berpindah tangan 27.965 kali.

Memasuki perdagangan Kamis (24/9/2026), pasar keuangan Tanah Air masih akan mencermati respons pasar setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya.

Selain itu, perhatian juga tertuju pada aturan baru perdagangan saham dan rilis data uang beredar. Sementara dari luar negeri, kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Amerika Serikat (AS) akan menjadi perhatian. Lonjakan imbal hasil US Treasury serta indeks dolar juga bisa menjadi “badai” baru bagi IHSG.

Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 5,75%. Suku bunga Deposit Facility juga tetap sebesar 4,75% dan Lending Facility sebesar 6,50%.

“Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%,” kata Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

Keputusan tersebut sesuai dengan hasil polling CNBC Indonesia terhadap 11 institusi dan lembaga. Sebanyak delapan responden memperkirakan BI Rate tetap sebesar 5,75%, sementara tiga lainnya memproyeksikan kenaikan 25 basis poin menjadi 6,00%.

Dengan keputusan tersebut, BI telah menahan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut sejak Juli 2026. BI Rate bertahan di level 5,75% setelah sebelumnya dinaikkan secara kumulatif sebesar 100 basis poin sepanjang Mei-Juni.

BI menaikkan suku bunga dari 4,75% menjadi 5,25% pada 20 Mei 2026. BI Rate kemudian kembali dinaikkan menjadi 5,50% pada 9 Juni dan mencapai 5,75% pada 18 Juni 2026.

Sementara itu dari global, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 10 tahun melonjak pada perdagangan Rabu (23/9/2026), menembus level tertinggi dalam hampir dua dekade. Lonjakan terjadi setelah data ekonomi menunjukkan aktivitas bisnis yang kuat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Yield Treasury 10 tahun melonjak 15 basis poin menjadi 5,11%, level tertinggi sejak 2007. Yield bahkan sempat menyentuh 5,14% dalam perdagangan.

Kenaikan yield Treasury 10 tahun penting karena menjadi acuan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Ketika yield naik, biaya kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga pembiayaan bisnis ikut terdorong lebih tinggi.

Lonjakan yield terjadi setelah data S&P Global menunjukkan aktivitas bisnis AS pada September tumbuh dengan laju tercepat sejak Juli 2021. Di saat yang sama, biaya input melonjak akibat kenaikan harga energi.

Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga demi meredam inflasi, terutama karena perekonomian AS masih menunjukkan kekuatan..

Yield Treasury 30 tahun melonjak 11 basis poin menjadi 5,4%, level tertinggi tahun ini. Angka tersebut merupakan level intraday tertinggi sejak 2007 dan level penutupan tertinggi sejak 2004.

Adapun yield Treasury 2 tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed, naik sekitar 16 basis poin hingga mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024.

Yield Treasury 5 tahun juga menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007 setelah lelang obligasi rutin pada Rabu.

Kenaikan imbal hasil ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia karena bisa memicu kenaikan imbal hasil SBN dan beban utang pemerintah.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Cuma 5 Hari Jabat Komisaris BUMN, Ini Profil Silfester Matutina

Cuma 5 Hari Jabat Komisaris BUMN, Ini Profil Silfester Matutina

September 25, 2026
Tak Sampai Sepekan Jabat Komisaris, Ini Profil Silfester Matutina

Tak Sampai Sepekan Jabat Komisaris, Ini Profil Silfester Matutina

September 25, 2026
BI & BCTL Teken MoU, QRIS Siap Diperluas hingga ke Timor Leste

BI & BCTL Teken MoU, QRIS Siap Diperluas hingga ke Timor Leste

September 25, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .