• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Kredit Ngebut, DPK Tertinggal! BI Turunkan Setoran Wajib Bank

Kredit Ngebut, DPK Tertinggal! BI Turunkan Setoran Wajib Bank

October 23, 2026
Laba Bank Mandiri Meroket 20,7% Tembus Rp 45,5 Triliun di Kuartal III

Laba Bank Mandiri Meroket 20,7% Tembus Rp 45,5 Triliun di Kuartal III

October 23, 2026
Kredit Bank Mandiri Kuartal III Tumbuh 16% Jadi Rp 1.605 Triliun

Kredit Bank Mandiri Kuartal III Tumbuh 16% Jadi Rp 1.605 Triliun

October 23, 2026
Rupiah Berbalik Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.040

Rupiah Berbalik Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.040

October 23, 2026
Disorot Singapura Soal Kabut Asap, Ini Hubungan Bisnis TBLA dengan PML

Disorot Singapura Soal Kabut Asap, Ini Hubungan Bisnis TBLA dengan PML

October 23, 2026
IHSG Menguat Tapi Asing Terus Keluar, Efek Danantara?

IHSG Menguat Tapi Asing Terus Keluar, Efek Danantara?

October 23, 2026
BEI Ubah Kriteria Evaluasi IHSG, Ini Perbandingan yang Baru dan Lama

BEI Ubah Kriteria Evaluasi IHSG, Ini Perbandingan yang Baru dan Lama

October 23, 2026
OJK Ancam Pelaku Pasar Modal, Denda Manipulasi Saham Tembus Rp2,23 T

OJK Ancam Pelaku Pasar Modal, Denda Manipulasi Saham Tembus Rp2,23 T

October 23, 2026
MSCI Bikin Cemas, Danantara Punya Kabar Baik soal Emiten RI

MSCI Bikin Cemas, Danantara Punya Kabar Baik soal Emiten RI

October 23, 2026
Airlangga Buka Suara soal MSCI, Soroti Free Float 15% & Demutualisasi

Airlangga Buka Suara soal MSCI, Soroti Free Float 15% & Demutualisasi

October 23, 2026
Trimegah Sekuritas Borong Saham Grup Bakrie (ENRG), Ada Apa?

Trimegah Sekuritas Borong Saham Grup Bakrie (ENRG), Ada Apa?

October 23, 2026
Ini Alasan Dolar AS Begitu Perkasa Sampai Tembus Rp18.000

Ini Alasan Dolar AS Begitu Perkasa Sampai Tembus Rp18.000

October 23, 2026
Asing Kabur Rp 744,4 Miliar, Tapi 10 Saham Ini Diburu

Asing Kabur Rp 744,4 Miliar, Tapi 10 Saham Ini Diburu

October 23, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Friday, October 23, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Kredit Ngebut, DPK Tertinggal! BI Turunkan Setoran Wajib Bank

1 hour ago
in Lifestyle
Kredit Ngebut, DPK Tertinggal! BI Turunkan Setoran Wajib Bank
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) menempuh kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) secara bertahap untuk Bank Umum Konvensional (BUK) serta Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) untuk mendorong keseimbangan likuiditas perbankan dengan kebutuhan.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI, Firman Mochtar, menjelaskan kebijakan penurunan tingkat GWM sebagai langkah dalam menyeimbangkan kembali likuiditas di pasar uang dan di perbankan dengan kebutuhan yang ada di ekonomi.

Firman mengatakan bahwa keseimbangan likuiditas tersebut sangat penting dalam menangkap potensi pertumbuhan ekonomi ke depan dan pencapaian sasaran inflasi secara konsisten.

“Dampak dari liquidity yang kuat sekali, karena kredit dia (tumbuh) tinggi sekali. Sementara DPK-nya, kecepatannya tidak sebesar dampak pertumbuhan kredit,” ujar Firman saat taklimat media di Gedung BI, Jakarta pada Jumat (23/10/2026).

Lebih lanjut, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Mal Isnaini Sri Meyyanti, menjelaskan bahwa saat ini pertumbuhan kredit mencapai 13,26% per September 2026.

Ke depan BI melihat adanya potensi permintaan kredit yang kuat dari berbagai sektor, terutama dari sektor konsumen dan korporasi.

Akan tetapi, potensi kredit di masa depan tidak diimbangi oleh modal bank untuk menyalurkan kredit. Hal ini tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga perbankan yang lebih lambat dari pertumbuhan kredit, yakni hanya 8,22%.

Karena itu, perlu ada kebijakan yang dapat mendorong likuiditas agar permintaan kredit di masa depan dapat ditangkap oleh perbankan. Hal ini sekaligus menjaga potensi pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Nah untuk menjaga supaya kredit itu tetap terjaga, kita kan butuh dana gitu ya, nah dana, dana perbankan, dana pihak ketiga itu tumbuhnya itu memang tidak setinggi pertumbuhan kredit,” ujar Yanti saat paparan di taklimat BI.

“Jadi kalau sampai dengan posisi yang sekarang ini, DPK kita itu tumbuhnya 8,22 persen, artinya memang masih dibutuhkan upaya-upaya bagaimana supaya perbankan itu memiliki dana yang cukup untuk melanjutkan pertumbuhan kreditnya,” sambungnya.

Penurunan GWM tersebut, diharapkan oleh Bank Indonesia mampu menggelontorkan likuiditas bersih sebesar Rp90 triliun bagi perbankan, yang kemudian bisa disalurkan sebagai pembiayaan yang lebih luas.

Kebijakan Penurunan GWM Bank oleh BI

Sebelumnya dalam konferensi pers, BI mengumumkan penurunan GWM BUK secara bertahap, yakni dari 9% menjadi 7%, dengan tahapan turun sebesar 1% dari 9% menjadi 8% berlaku mulai 1 November 2026. Kemudian, turun sebesar 1% dari 8% menjadi 7% berlaku mulai 1 Desember 2026.

Sementara untuk BUS dan UUS, besaran GWM diturunkan dari 7,5% menjadi 5,5%, dengan tahapan turun sebesar 1% dari 7,5% menjadi 6,5% berlaku mulai 1 November 2026. Kemudian, turun sebesar 1% dari 6,5% menjadi 5,5% berlaku mulai 1 Desember 2026.

Penurunan GWM dimaksud melalui penyesuaian Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diturunkan dari 6% menjadi 5% berlaku mulai 1 Desember 2026.

Besaran bagian tertentu dari pemenuhan kewajiban GWM dalam Rupiah secara rata-rata yang diberikan remunerasi paling banyak sebesar 5% dari GWM Rupiah secara rata-rata berlaku mulai 1 Desember 2026.

Lebih lanjut mengenai penyesuaian insentif KLM, BI menetapkan insentif financing channel paling tinggi sebesar 3% dari DPK dengan perluasan cakupan kepada kredit/pembiayaan perbankan pada sektor usaha yang mendukung penciptaan lapangan kerja. Angka insentif ini turun dari sebelumnya 4%.

Sementara insentif pendalaman pasar uang (PPU) paling tinggi sebesar 2% yang diperkuat untuk mendorong redistribusi likuiditas dan memperkuat intermediasi perbankan.

Adanya pelonggaran likuiditas melalui skema GWM tersebut, membuat GWM efektif bank pada November sebesar 2% dan pada Desember menjadi 2% setelah ada penurunan insentif KLM dari 6% menjadi 5%.

Artinya, perbankan diharapkan akan memiliki dana lebih atau likuiditas lebih banyak sebagai sumber penyaluran kredit.

(haa/haa)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Mau Buka Indomaret & Alfamart? Segini Dana yang Harus Disiapkan

Mau Buka Indomaret & Alfamart? Segini Dana yang Harus Disiapkan

February 14, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Laba Bank Mandiri Meroket 20,7% Tembus Rp 45,5 Triliun di Kuartal III

Laba Bank Mandiri Meroket 20,7% Tembus Rp 45,5 Triliun di Kuartal III

October 23, 2026
Kredit Bank Mandiri Kuartal III Tumbuh 16% Jadi Rp 1.605 Triliun

Kredit Bank Mandiri Kuartal III Tumbuh 16% Jadi Rp 1.605 Triliun

October 23, 2026
Rupiah Berbalik Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.040

Rupiah Berbalik Menguat, Dolar AS Turun ke Rp18.040

October 23, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .