• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama

Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama

September 2, 2026
Lampaui Surat Utang, Penerbitan Sukuk Ritel Tembus Rp652,2 Triliun

Lampaui Surat Utang, Penerbitan Sukuk Ritel Tembus Rp652,2 Triliun

September 22, 2026
Manajer Kopdes-KNMP Bukan Pegawai BUMN

Manajer Kopdes-KNMP Bukan Pegawai BUMN

September 22, 2026
Manajer Kopdes-Kampung Nelayan Merah Putih Bukan Pegawai BUMN

Manajer Kopdes-Kampung Nelayan Merah Putih Bukan Pegawai BUMN

September 22, 2026
Rupiah Melemah & IHSG Terkoreksi 1,69% Anjlok ke 6.200-an

Rupiah Melemah & IHSG Terkoreksi 1,69% Anjlok ke 6.200-an

September 22, 2026
Diam-Diam Konglomerat Pengendali Saratoga Borong Saham Rp 1,49 M

Diam-Diam Konglomerat Pengendali Saratoga Borong Saham Rp 1,49 M

September 22, 2026
Pemerintah RI Terbitkan Rp615,9 T Surat Utang Ritel dalam 20 Tahun

Pemerintah RI Terbitkan Rp615,9 T Surat Utang Ritel dalam 20 Tahun

September 22, 2026
Jadi Saingan RI, Bursa Saham Vietnam Naik Kelas ke Emerging Market

Jadi Saingan RI, Bursa Saham Vietnam Naik Kelas ke Emerging Market

September 22, 2026
IHSG Parkir Anjlok 1,69% di Zona Merah, Ini Penyebabnya

IHSG Parkir Anjlok 1,69% di Zona Merah, Ini Penyebabnya

September 22, 2026
Bursa Vietnam Naik Kelas, FTSE Buka Keran Dana Asing Rp100 Triliun

Bursa Vietnam Naik Kelas, FTSE Buka Keran Dana Asing Rp100 Triliun

September 22, 2026
Siloam Mau Caplok 14 Perusahaan Pemilik Aset RS, Senilai Rp 6,9 T

Siloam Mau Caplok 14 Perusahaan Pemilik Aset RS, Senilai Rp 6,9 T

September 22, 2026
Menkeu Suahasil Lapor Prabowo, Utang BLBI Akhirnya Lunas Tuntas

Menkeu Suahasil Lapor Prabowo, Utang BLBI Akhirnya Lunas Tuntas

September 22, 2026
Utang BLBI Lunas, Menkeu Suahasil Tetap Kejar Para Obligor!

Utang BLBI Lunas, Menkeu Suahasil Tetap Kejar Para Obligor!

September 22, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Tuesday, September 22, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Market

Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama

3 weeks ago
in Market
Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Krisis keuangan Asia tahun 1997 yang berujung resesi ekonomi di seluruh kawasan, menjadi momok tersendiri saat ini. Hal tersebut terjadi di tengah gejolak pasar, yang ditandai dengan runtuhnya nilai mata uang, pelarian modal, dan kegagalan perbankan.

Bahkan, kepala ekonom bank raksasa HSBC, Frederick Neumann, mengatakan kemiripan antara situasi sekarang dengan periode tepat sebelum krisis 1997 terjadi sudah terlihat. Hal ini ia beberkan dalam sebuah catatan tertanggal 31 Agustus lalu.

3 Ciri-Ciri yang Sama

Mengutip CNBC International, Rabu (2/9/2028), ada beberapa aspek yang disoroti Neumann. Pertama, tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury).

Hal ini, katanya, menjadi kemiripan yang paling utama dengan detik-detik sebelum krisis 1997. Kala itu, imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik dari 5% pada Oktober 1993 menjadi sekitar 8% pada November 1994.

Pada April 1997, imbal hasil berada di kisaran 7%, atau sekitar 200 basis poin lebih tinggi dibandingkan posisinya empat tahun sebelumnya. Perlu diketahui, hingga Selasa pagi, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun telah naik dari titik terendah 0,5% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 4,79%.

“Memang, proses itu memakan waktu enam tahun,” ujarnya.

“Namun tahun ini saja, imbal hasil telah melonjak sekitar 80 basis poin dari angka 3,9% pada bulan Februari,” tegasnya.

Sebagai informasi, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menargetkan segmen pasar obligasi tenor 10 hingga 30 tahun untuk operasi pembelian kembali (buyback). Pemerintah akan “setidaknya melipatgandakan” ukuran maksimum operasi pembelian kembali tersebut, dari US$2 miliar (sekitar Rp 35,49 triliun/ Rp 17.746 per US$) menjadi “setidaknya” US$4 miliar (Rp 70,98 triliun).

Kedua, kemiripan lain terlihat pada pergerakan nilai tukar yen Jepang belakangan. Pada April 1995, yen diperdagangkan pada titik terendah siklus di level 80 terhadap dolar AS, sementara pada April 1997, nilainya telah melemah ke level 130, terdepresiasi sekitar 55%.

Saat ini, yen telah melemah sebesar 57% dari titik terendah sekitar 103 pada Januari 2021 ke titik tertinggi 163 pada bulan Juli, sebelum intervensi gabungan yang jarang terjadi dari Washington dan Tokyo memperkuat mata uang tersebut ke level saat ini di kisaran 160. Pasar kini sedang mempertimbangkan kemungkinan adanya intervensi lanjutan.

Ketiga, menjelang krisis tahun 1997, pasar juga diliputi optimisme terhadap teknologi seiring dengan munculnya internet. Jika dikaitkan dengan saat ini, Neumann memperlihatkan bagaimu alonjakan AI memicu optimisme serupa.

Ada Perbedaan?

Meski demikian, masih merujuk laman yang sama, Neumann berpendapat bahwa perbedaan antara tahun 1997 dan 2026 lebih besar daripada persamaannya. Yang paling signifikan, ujarnya, sebagian besar ekonomi Asia merupakan importir modal pada tahun 1990-an, yang artinya mereka menerima lebih banyak investasi dari luar negeri dibandingkan investasi yang mereka tanamkan di luar negeri, serta memiliki tingkat tabungan yang tidak memadai untuk memenuhi komitmen pengeluaran mereka.

“Meningkatnya biaya pendanaan dalam US$ dan yen yang tidak stabil- yang membuat investor cemas- menjadi katalis utama tekanan di kawasan ini,” kata Neumann.

Sementara saat ini, ekonomi Asia merupakan eksportir modal. Dengan demikian, tingginya biaya pendanaan AS dan melemahnya yen bukanlah faktor penekan utama.

Akan tetapi, ini tidak berarti kawasan akan terbebas dari dampak negatif. Masalah paling relevan bagi Asia, tegas Neumann lagi, adalah ketergantungannya pada lonjakan perangkat keras AI di AS, yang menjadi penggerak bagi banyak ekonomi di kawasan ini.

“Ekspor barang elektronik yang terkait dengan lonjakan AI telah menopang pertumbuhan di Korea Selatan (Korsel), Jepang, Taiwan, dan Singapura,” catatnya.

“Alih-alih kerentanan finansial seperti pada tahun 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan,” ujar Neumann.

“Jika kenaikan imbal hasil obligasi dan biaya pendanaan AS menghambat lonjakan perangkat keras AI, atau jika yen mengguncang pasar pendanaan global, permintaan terhadap produk-produk kawasan ini bisa merosot dan pertumbuhan ekonomi akan melambat drastis,” katanya memperingatkan lagi.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share197Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

Is GESARA and NESARA About to Become a Reality?

March 7, 2026
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Lampaui Surat Utang, Penerbitan Sukuk Ritel Tembus Rp652,2 Triliun

Lampaui Surat Utang, Penerbitan Sukuk Ritel Tembus Rp652,2 Triliun

September 22, 2026
Manajer Kopdes-KNMP Bukan Pegawai BUMN

Manajer Kopdes-KNMP Bukan Pegawai BUMN

September 22, 2026
Manajer Kopdes-Kampung Nelayan Merah Putih Bukan Pegawai BUMN

Manajer Kopdes-Kampung Nelayan Merah Putih Bukan Pegawai BUMN

September 22, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .