
Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan pertemuan dengan investor institusi domestik dan internasional pada Selasa, (20/10/2026). Hal ini dilakukan untuk memperkuat reformasi pasar modal Indonesia.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam dialog dengan investor institusional domestik dan internasional yang diselenggarakan Mandiri Sekuritas secara daring. Pertemuan tersebut turut menghadirkan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jefry Hendrik.
Friderica menegaskan bahwa OJK memahami perhatian investor terhadap perkembangan pasar modal Indonesia, khususnya setelah pengumuman MSCI mengenai konsultasi potensi perubahan klasifikasi pasar Indonesia. OJK menghormati penilaian independen MSCI dan berkomitmen menjawab berbagai perhatian tersebut melalui reformasi yang konkret, konsisten, dan berkelanjutan.
“Kepercayaan investor harus dibangun melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan. OJK berkomitmen membangun pasar modal Indonesia yang adil, transparan, kompetitif, dan memiliki kredibilitas global,” ujar Friderica dalam keterangan resmi, dikutip Rabu, (21/10/2026).
Friderica menyampaikan bahwa fundamental pasar modal Indonesia tetap kuat, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar 589 miliar dolar AS. Kapitalisasi tersebut terbesar kedua di ASEAN, serta jumlah investor mencapai 31,1 juta.
Kinerja perusahaan tercatat juga menunjukkan perkembangan positif, dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 15,9 persen dan laba bersih sebesar 16,3 persen dalam periode 12 bulan hingga Juni 2026.
Hal ini seiring dengan meningkatnya tekanan di pasar keuangan dari pengumuman MSCI mengenai kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pengumuman pada Jumat (16/10/2026) tersebut memicu aksi jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan anjlok sekitar 11,6% pada perdagangan Jumat (16/10/2026), sebelum kembali mengalami tekanan pada Senin (19/10/2026).
(rob/rob)



















