
Jakarta, CNBC Indonesia – Kinerja instrumen investasi yang belum kondusif, terutama di pasar saham, membuat investor individu di Indonesia memilih untuk memburu surat berharga negara (SBN), termasuk surat berharga syariah negara (SBSN).
Jumlah investor yang membeli SBSN untuk seri SR025 menjadi yang tertinggi dalam sejarah, mencapai 93.548 individu, dan volume pemesanan mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir penerbitan, dengan nominal hasil penjualan Rp 29,77 triliun.
“Situasi kinerja instrumen keuangan yang lain seperti saham yang sedang kurang kinclong turut meningkatkan daya tarik fixed-income instruments seperti SBN ritel,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto kepada CNBC Indonesia, Selasa (22/9/2026).
Suminto menjelaskan, kondisi itu juga didukung oleh keberadaan likuiditas di tengah masyarakat yang tengah tinggi, sehingga mendorong permintaan atau demand yang besar. Indikator ini dapat dipahami karena sukuk ritel merupakan instrumen investasi yang dikhususkan bagi individu di Indonesia.
“SBN ritel dipandang sebagai instrumen investasi yang kompetitif, risk-free instrument, aman, imbalannya cukup menarik, dan fitur syariah dari SR juga memiliki captive market tersendiri,” ucap Suminto.
Di sisi lain, Suminto mengklaim, literasi keuangan yang semakin meningkat juga mendorong masyarakat untuk berinvestasi di instrumen investasi yang minim risiko, didukung juga oleh reinvestasi atas SBN ritel yang jatuh tempo pada masa penawaran.
“Jadi, keberhasilan penerbitan lebih didukung oleh demand-side, bukan supply side. Kami upsize penerbitan SR025 karena masih ada demand kuat yang perlu diakomodasi,” tegas Suminto.
Sebagaimana diketahui, SR025 sendiri merupakan sukuk ritel yang telah ditawarkan pemerintah ke investor individu dalam negeri selama periode 21 Agustus 2026 sampai dengan 16 September 2026.
Dari total investor yang membeli SBSN seri SR025 mencapai 93.548, investor baru SBN sebanyak 21.582 orang atau setara 23,07% dari seluruh investor.
Hasil penjualan sukuk ritel seri SR025 yang mencapai Rp 29,77 triliun terdiri dari seri SR025T3 (tenor 3 tahun) sebesar Rp24,93 triliun dan SR025T5 (tenor 5 tahun) sebesar Rp4,83 triliun.
Tingkat imbalan atau kupon yang ditawarkan pemerintah untuk SR025T3 berupa imbalan tetap (fixed rate) sebesar 6,80% per tahun. Sementara untuk seri dengan tenor lebih panjang, yakni SR025T5 (5 tahun), imbalan yang ditawarkan lebih tinggi, yaitu 6,90% per tahun.
Kedua seri ini menggunakan skema fixed coupon yang dibayarkan secara periodik setiap bulan kepada investor, tepatnya pada tanggal 10 setiap bulannya. Apabila tanggal 10 jatuh pada hari libur atau bukan hari kerja perbankan, maka pembayaran akan dilakukan pada hari kerja berikutnya tanpa kompensasi bunga atau imbalan tambahan.
Pembayaran imbalan pertama untuk kedua seri dijadwalkan pada 10 Oktober 2026, yang akan dihitung secara short coupon mengingat masa penerbitan yang belum genap satu bulan penuh. Sukuk Ritel SR025T3 akan jatuh tempo pada 10 September 2029, sedangkan SR025T5 akan jatuh tempo pada 10 September 2031.
Dari sisi besaran investasi, pemerintah mematok minimum pemesanan sebesar Rp1 juta dan kelipatannya untuk kedua seri. Sementara untuk batas maksimum pemesanan, terdapat perbedaan antara kedua seri: SR025T3 dibatasi maksimal Rp5 miliar per investor, sedangkan SR025T5 dibatasi maksimal Rp10 miliar per investor.
Skema ini menyasar investor individu dengan skala kecil hingga menengah, sejalan dengan tujuan pemerintah mendorong pendalaman pasar keuangan domestik sekaligus memperluas basis investor ritel dalam negeri.
(arj/arj)

















