• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

April 17, 2026
Topang Ekonomi, Ini Keuntungan Perbankan Fokus Garap Segmen UMKM

Topang Ekonomi, Ini Keuntungan Perbankan Fokus Garap Segmen UMKM

April 17, 2026
Media Asing Soroti Saham Gorengan RI, Ungkap Fakta Menohok Ini

Media Asing Soroti Saham Gorengan RI, Ungkap Fakta Menohok Ini

April 17, 2026
Jadi Tersangka, Segini Harta Kekayaan Ketua Ombudsman Hery Susanto

Jadi Tersangka, Segini Harta Kekayaan Ketua Ombudsman Hery Susanto

April 17, 2026
Tidak Bisa Dibilang Rentan, Ini Fakta UMKM RI Strong

Tidak Bisa Dibilang Rentan, Ini Fakta UMKM RI Strong

April 17, 2026
Matahari (LPPF) Resmi Ganti Nama Jadi MDS Retailing, Ada Apa?

Matahari (LPPF) Resmi Ganti Nama Jadi MDS Retailing, Ada Apa?

April 17, 2026
Di Tengah Perang, Begini Kondisi Para Miliuner Israel

Di Tengah Perang, Begini Kondisi Para Miliuner Israel

April 17, 2026
IHSG Happy Weekend, Naik 0,17% ke Level 7.634

IHSG Happy Weekend, Naik 0,17% ke Level 7.634

April 17, 2026
IHSG Happy Weekend, Naik 0,17% ke Level 7.634

IHSG Happy Weekend, Naik 0,17% ke Level 7.634

April 17, 2026
BEI Buka Gembok Saham Emiten Udang (UDNG)

BEI Buka Gembok Saham Emiten Udang (UDNG)

April 17, 2026
Video: Transaksi Hormuz Anjlok 90% – Rupiah Tembus Rp20.200 per Euro

Video: Transaksi Hormuz Anjlok 90% – Rupiah Tembus Rp20.200 per Euro

April 17, 2026
Di Tengah Perang, Begini Kondisi Para Miliarder Israel

Di Tengah Perang, Begini Kondisi Para Miliarder Israel

April 17, 2026
Direktur Emiten Pelayaran (BULL) Borong Rp17,6 M Saham dalam Seminggu

Direktur Emiten Pelayaran (BULL) Borong Rp17,6 M Saham dalam Seminggu

April 17, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Friday, April 17, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

2 hours ago
in ENTREPRENEUR
Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati
Share on FacebookShare on Twitter




‎Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyarankan Bank Indonesia untuk tetap menahan suku bunga di 4,75%.
‎
‎Hal ini mempertimbangkan kondisi inflasi yang berada di atas target hingga nilai tukar rupiah yang tertekan oleh konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS).
‎
‎”LPEM FEB UI merekomendasikan Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75%. Pertimbangan tidak lepas dari kondisi inflasi yang berada di atas target namun masih menghadapi tekanan kompleks. Berkurangnya efek diskon tarif listrik telah menahan inflasi, namun risiko kenaikan tetap ada terutama dari lonjakan permintaan saat Ramadhan dan Idul Fitri serta kenaikan harga energi global,” mengutip artikel resmi LPEM FEB UI pada Jumat (17/4/2026).

‎
‎”Di saat yang sama, konflik antara AS-Iran menekan rupiah. Pelemahan ini datang dari kombinasi faktor global dan kerentanan domestik,” sambungnya.
‎
‎LPEM FEB UI juga memaparkan bahwa penurunan suku bunga BI saat ini memiliki tiga risiko utama. Pertama, mempersempit selisih bunga dengan luar negeri. Kedua, menambah tekanan pada rupiah, dan terakhir adalah mendorong inflasi lewat kenaikan harga impor dan energi.
‎
‎LPEM FEB UI juga menyoroti kondisi sektor keuangan Indonesia yang dalam sebulan terakhir penuh dengan gejolak. Hal ini juga turut menjadi faktor pertimbangan rekomendasi LPEM FEB UI untuk menahan laju suku bunga.

‎
‎Diawali dengan MSCI acuan utama investor global lebih dulu memberi sinyal negatif, yang disusul Moody’s lembaga pemeringkat kredit global yang menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif.
‎
‎”Di sinilah pasar mulai ragu,” imbuh LPEM FEB UI.
‎
Untungnya, ‎pemerintah merespons cepat dengan merombak Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) dan menerbitkan aturan transparansi free float saham. Upaya perbaikan tata kelola mulai ditunjukkan. Namun LPEM FEB UI menilai kepercayaan belum pulih.
‎
‎Tekanan pun semakin dalam karena pada 4 Maret 2026, Fitch Ratings turut menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif. Alasannya adalah ketidakpastian arah kebijakan, tekanan fiskal di tengah kondisi global yang tidak stabil.
‎
‎Tidak berselang lama, harga minyak melonjak hingga US$99 per barel akibat konflik AS-Iran.

‎
‎”Angka ini jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Akibatnya muncul kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap di bawah batas 3%,” kata LPEM FEB UI.
‎
‎Kemudian, pemerintah merespon dengan menggelar konferensi pers pada 13 Maret 2026. Di mana, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan tiga skenario defisit dari 3,18% pada skenario optimis hingga 4,06% pada skenario terburuk tergantung pada konflik harga minyak dan nilai tukar.
‎
‎Sehari berselang, Presiden Prabowo mengambil posisi berbeda. Dalam rapat kabinet, ia menyatakan tidak akan melebarkan defisit, dengan fokus pada penghematan dan target keseimbangan anggaran dalam 2-3 tahun.
‎
‎”Perbedaan pernyataan ini justru mengirim sinyal negatif. Pemerintah dinilai mulai menjauh dari prinsip kehati-hatian fiskal yang telah dibangun dan dijaga sejak era reformasi,” ucap LPEM FEB UI.
‎
‎Tekanan pun merambat ke pasar keuangan. LPEM FEB UI mencatat arus keluar obligasi bersih mencapai US$0,77 miliar sejak 28 Februari 2026. Sementara pasar saham mengalami inflow tipis US$0,03% akibat pergeseran sektor energi.

‎
‎Secara total, US$0,63 miliar modal keluar dalam 30 hari dan sebesar US$0,75 miliar modal keluar sejak konflik Iran dengan AS dimulai.
‎
‎Di sisi lain, yield SBN tenor 1 tahun meningkat 83 basis poin menjadi 5,65% dan untuk tenor 10 tahun naik 36 basis poin menjadi 3 basis poin.
‎
‎”Premi risiko meningkat secara luas. Pasar mulai memperhitungkan ketidakpastian ekonomi yang lebih tinggi,” konklusi LPEM FEB UI.
‎
‎Nilai tukar rupiah juga turut merasakan dampaknya. Rupiah mendekati titik terlemah dan turun sekitar 3,64% secara tahunan (yoy).
‎
‎Pada saat yang sama, bantalan eksternal ikut tergerus. Cadangan devisa pada Februari 2026 turun US$ 2,7 miliar, dari US$ 154,6 miliar menjadi US$ 151,9 miliar.
‎
‎”Menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April 2025. Penurunan ini mencerminkan kombinasi antara upaya stabilisasi rupiah, namun juga kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.”
‎
‎

(haa/haa)



Add



as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Adrian Campbell and Kinnara Accused of Escalating Seminyak Dispute as Access Blocked in Post-Buyout Battle

Adrian Campbell and Kinnara Accused of Escalating Seminyak Dispute as Access Blocked in Post-Buyout Battle

February 23, 2026
Kinnara CEO Adrian Campbell Accused of Threats, Bribery and Investor Deception as Multi-Million Dollar Probes Deepen

Kinnara CEO Adrian Campbell Accused of Threats, Bribery and Investor Deception as Multi-Million Dollar Probes Deepen

February 21, 2026
URGENT INVESTOR ALERT: Allegations of Forged Contracts and Fraudulent Representation Linked to KINNARA

URGENT INVESTOR ALERT: Allegations of Forged Contracts and Fraudulent Representation Linked to KINNARA

January 13, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Topang Ekonomi, Ini Keuntungan Perbankan Fokus Garap Segmen UMKM

Topang Ekonomi, Ini Keuntungan Perbankan Fokus Garap Segmen UMKM

April 17, 2026
Media Asing Soroti Saham Gorengan RI, Ungkap Fakta Menohok Ini

Media Asing Soroti Saham Gorengan RI, Ungkap Fakta Menohok Ini

April 17, 2026
Jadi Tersangka, Segini Harta Kekayaan Ketua Ombudsman Hery Susanto

Jadi Tersangka, Segini Harta Kekayaan Ketua Ombudsman Hery Susanto

April 17, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .