Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk hingga lebih dari 3% pada perdagangan Selasa (30/6/2026). Di tengah derasnya tekanan jual, aktivitas perdagangan justru masih sepi dengan nilai transaksi yang terkonsentrasi pada segelintir saham, mencerminkan investor memilih menepi sambil menunggu hasil kajian lembaga pemeringkat global S&P serta perkembangan sejumlah sentimen global.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG turun 0,33% atau 19,33 poin ke level 5.801,45. Tekanan jual kemudian semakin deras hanya beberapa menit setelah pasar dibuka. Hingga pukul 09.35 WIB, IHSG tercatat merosot lebih dari 3% ke level psikologis 5.638.
Memasuki sesi I, pelemahan masih berlanjut. Hingga siang hari, IHSG turun 2,42% atau 141,04 poin ke posisi 5.679,75. Indeks bergerak pada rentang 5.638,57-5.811,67, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 1,28% di level 5.820,79.
Hingga pukul 15.10 WIB tekanan terhadap IHSG masih sangat besar. Indeks berada di posisi 5.670, turun lebih dari 2,5%. Nilai transaksi tercatat Rp 10,55 triliun dengan volume 14,61 miliar saham.
Nilai transaksi tersebut masih jauh di bawah rata-rata harian perdagangan pekan lalu yang mencapai Rp17,58 triliun dengan rata-rata volume 25,18 miliar saham dan frekuensi 1,73 juta kali transaksi.
Jika dibandingkan dengan rata-rata perdagangan pada akhir Mei, aktivitas pasar saat ini juga masih tertinggal. Pada pekan 25-29 Mei 2026, rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp28,38 triliun dengan volume 30,95 miliar saham.
Likuiditas pasar juga belum menyebar merata. Sebanyak 61,5% dari total nilai transaksi hanya berasal dari dua saham, yakni BBCA dan PANI. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih cenderung menahan diri untuk masuk ke pasar secara luas.
Mengutip Refinitiv, tekanan terbesar ke IHSG berasal dari BBCA yang menyumbang bobot 18,73 poin. Hal ini seiring dengan tekanan jual asing sebesar Rp 413,22 miliar sepanjang sesi 1 di emiten milik grup Djarum tersebut.
Secara total, dana asing masih mengalir kencang keluar pasar modal RI. Asing mencatat net sell Rp 699,84 miliar pada sesi pertama perdagangan.
Analis MNC Sekuritas Herditya mengatakan pelemahan IHSG terjadi seiring dengan rupiah yang masih lemah terhadap dolar Amerika Serikat. Investor juga memilih menunggu rilis data inflasi Indonesia serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah pasar.
Dari sisi komoditas, harga emas dunia turun ke kisaran US$3.958 per troy ons sehingga menjadi sentimen negatif bagi saham-saham yang berkorelasi dengan logam mulia.
Sementara itu, Analis Doo Financial Sekuritas Lukman Leong menilai pasar masih dibayangi kekhawatiran terhadap hasil kajian lembaga pemeringkat global MSCI.
“Walau rupiah sudah stabil namun potensi downgrade status pasar masih ada,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (30/6/2026).
Kemudian, sentimen geopolitik di Timur Tengah juga belum sepenuhnya mereda. Meski Amerika Serikat dan Iran kembali membuka jalur pembicaraan, ketidakpastian yang masih tinggi membuat investor asing lebih memilih melakukan *choppy trade* atau keluar-masuk pasar dalam jangka pendek.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus juga menilai fokus utama investor saat ini masih tertuju pada hasil kajian S&P terhadap pasar Indonesia.
Terpisah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menilai persoalan likuiditas pasar modal Indonesia tidak dapat hanya mengandalkan pertumbuhan jumlah investor ritel. Dibutuhkan keseimbangan antara pasokan emiten berkualitas dan basis investor yang lebih beragam.
“Penyerapannya tidak boleh dibebankan sepenuhnya kepada retail investor kita,” ujarnya saat ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Selasa (30/6/2026).
Jeffrey memaparkan, dari sisi penawaran (supply), pasar membutuhkan lebih banyak perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar untuk melantai di Bursa. Kehadiran emiten-emiten berkapitalisasi besar diyakini akan memperkuat daya tarik pasar sekaligus memberikan lebih banyak pilihan investasi bagi pelaku pasar.
Sementara itu, dari sisi permintaan (demand), jumlah investor ritel Indonesia dinilai telah tumbuh sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
“Salah satu suplai yang berkualitas tentu adalah perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi besar dalam jumlah yang banyak. Dari sisi demand, itu adalah jumlah investor retail kita yang sekarang sudah luar biasa besar,” sebutnya.
Ia menyebut, BEI bersama para pemangku kepentingan melalui reformasi pasar modal berharap dapat meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar modal Indonesia.
“Sehingga nanti investor asing bersama-sama dengan investor institusi domestik kita dan didukung oleh investor retail kita akan sama-sama menimbulkan dinamika yang sehat di pasar kita,” sebutnya
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google

















