
Jakarta, CNBC Indonesia – Membagikan dividen biasanya menjadi kabar baik bagi investor. Namun, bagi Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), pembagian dividen justru pernah menjadi petaka.
Perusahaan, yang disebut sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia sebagai perusahaan publik pertama di dunia itu, bahkan harus mengubah cara membagikan keuntungannya setelah dividen yang diberikan kepada investor membuat harga rempah-rempah anjlok di Amsterdam.
Bagaimana ceritanya?
Sejarah mencatat, VOC mulai menjual saham kepada publik pada Agustus 1602. Lodewijk Petram dalam The World’s First Stock Exchange (2011) mencatat sebanyak 1.143 orang menaruh uang sebagai modal awal VOC di Bursa Efek Amsterdam.
Saat itu, bisnis VOC bergerak dalam perdagangan komoditas Asia, terutama rempah-rempah yang menjadi salah satu barang paling dicari di dunia. Seiring waktu, bisnis tersebut membuat VOC berkembang menjadi perusahaan raksasa.
Airlangga menuturkan jika nilai VOC dihitung berdasarkan nilai saat ini, market cap-nya mencapai sekitar US$7-US$8 triliun. Nilai tersebut menunjukkan betapa besarnya perusahaan tersebut pada masanya.
“Kemudian saya lihat market cap-nya kalau per hari ini atau dinilai dengan hari ini, market cap-nya US$ 7-8 triliun. Jadi bahkan dengan today value pun tinggi,” katanya.
Besarnya nilai VOC tentu tidak terlepas dari keuntungan yang dihasilkan dari bisnis perdagangan tersebut. Sebagai perusahaan publik, VOC juga membagikan sebagian keuntungan kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen.
Dividen Tak Mulus
Namun, pembagian dividen VOC ternyata tidak berjalan mulus. Cara perusahaan membagikan keuntungan kepada investor justru sempat menimbulkan masalah di pasar.
Pada April 1610, atau delapan tahun setelah penjualan saham perdana, VOC membagikan dividen pertamanya. Herald van der Linde dalam Asia’s Stock Markets (2022) mencatat investor memperoleh dividen sebesar 75% dari nilai nominal penjualan pertama saham.
Menariknya, dividen tersebut bukan berupa uang tunai seperti yang dikenal investor saat ini. VOC justru membayar keuntungan tersebut menggunakan komoditas yang menjadi sumber kekayaannya, yakni rempah-rempah.
Herald mencatat VOC membayar dividen menggunakan karung berisi lada, pala, atau rempah-rempah lainnya.
“Bentuk dividen yang sering kali dibayar adalah karung berisi lada, pala, atau rempah-rempah lain,” tulis Herald.
Pada masa itu, rempah-rempah merupakan komoditas perdagangan utama dunia dengan nilai yang sangat tinggi. Karena itu, menerima rempah-rempah dalam jumlah besar sebagai dividen sebenarnya menjadi keuntungan bagi investor.
Namun, keuntungan tersebut justru memunculkan persoalan baru ketika para investor memilih menjual kembali rempah-rempah yang mereka terima.
Banyak investor melakukan hal serupa sehingga pasokan rempah-rempah di pasar Amsterdam tiba-tiba melonjak. Para investor pun saling bersaing menjual komoditas tersebut. Akibatnya, harga rempah-rempah justru anjlok.
“Banyaknya lada secara tiba-tiba membuat harga rempah-rempah anjlok di seluruh Amsterdam,” kata Herald van der Linde.
Kondisi tersebut akhirnya membuat direksi VOC mengubah mekanisme pembagian dividennya. Sejak 1623, VOC mulai membagikan keuntungan tidak hanya dalam bentuk rempah-rempah, tetapi juga uang tunai.
Setelah perubahan tersebut, VOC membagikan dividen kepada para investornya setiap dua hingga enam tahun sekali.
(mfa)


















