• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Rupiah Berakhir di Zona Merah, Dolar AS Naik ke Rp17.930

Rupiah Berakhir di Zona Merah, Dolar AS Naik ke Rp17.930

July 1, 2026
Besok Masuk Masa Penawaran IPO RANS, Harga Dipatok Rp170

Besok Masuk Masa Penawaran IPO RANS, Harga Dipatok Rp170

July 1, 2026
BSI (BRIS) Incar Jadi Bank Jumbo Sebelum 2030

BSI (BRIS) Incar Jadi Bank Jumbo Sebelum 2030

July 1, 2026
Bedah Strategi Emiten Alat Kesehatan IPO di Tengah Volatilitas

Bedah Strategi Emiten Alat Kesehatan IPO di Tengah Volatilitas

July 1, 2026
IHSG Hari Ini Ditutup Naik 0,92%, tapi Pasar Masih Wait and See

IHSG Hari Ini Ditutup Naik 0,92%, tapi Pasar Masih Wait and See

July 1, 2026
Ada Emiten Mau Aksi Korporasi, Sahamnya Hari Ini ARA

Ada Emiten Mau Aksi Korporasi, Sahamnya Hari Ini ARA

July 1, 2026
Dongkrak Kinerja, Begini Jurus MDIY Tarik Minat Konsumen

Dongkrak Kinerja, Begini Jurus MDIY Tarik Minat Konsumen

July 1, 2026
MDIY Siap Bagi Dividen, Catat Tanggalnya!

MDIY Siap Bagi Dividen, Catat Tanggalnya!

July 1, 2026
Anak Usaha Prodia (PRDL) Pasang Harga IPO Rp 120 per Saham

Anak Usaha Prodia (PRDL) Pasang Harga IPO Rp 120 per Saham

July 1, 2026
Perusahaan Genset Grup Djarum (BACH) Tetapkan Harga IPO Rp442

Perusahaan Genset Grup Djarum (BACH) Tetapkan Harga IPO Rp442

July 1, 2026
Perusahaan Grup Djarum (BACH) Tetapkan Harga IPO Rp442

Perusahaan Grup Djarum (BACH) Tetapkan Harga IPO Rp442

July 1, 2026
IHSG Sesi 1 Naik 0,84%, Asing Net Sell Rp349 M dan Saham Ini Diborong

IHSG Sesi 1 Naik 0,84%, Asing Net Sell Rp349 M dan Saham Ini Diborong

July 1, 2026
Bank Mandiri Pertegas Peran Penggerak Ekonomi, Ini Buktinya!

Bank Mandiri Pertegas Peran Penggerak Ekonomi, Ini Buktinya!

July 1, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Wednesday, July 1, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Rupiah Berakhir di Zona Merah, Dolar AS Naik ke Rp17.930

10 hours ago
in ENTREPRENEUR
Rupiah Berakhir di Zona Merah, Dolar AS Naik ke Rp17.930
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (1/7/2026). Tekanan terjadi di tengah rilis sejumlah data ekonomi domestik, mulai dari inflasi hingga neraca perdagangan Indonesia.

Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda berakhir di zona merah dengan pelemahan 0,31% ke posisi Rp17.930/US$. Koreksi ini melanjutkan pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya.

Sejak awal perdagangan, rupiah sudah berada di bawah tekanan. Mata uang Garuda dibuka melemah tajam 0,42% ke level Rp17.950/US$. Tekanan bahkan sempat semakin dalam hingga menyentuh level terlemah harian di Rp17.980/US$, atau tinggal selangkah lagi dari level psikologis Rp18.000/US$.

Namun, pelemahan rupiah sedikit berkurang menjelang akhir perdagangan hingga akhirnya ditutup di level Rp17.930/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,16% ke level 101,351.


Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini terjadi di tengah rilis data ekonomi domestik yang bernada negatif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit terjadi karena nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.

Neraca perdagangan Indonesia pun mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir. Defisit ini menjadi yang pertama sejak April 2020, ketika neraca perdagangan Indonesia juga mencatat defisit sebesar US$0,38 miliar.

Dengan demikian, catatan terbaru ini sekaligus mematahkan tren surplus neraca perdagangan Indonesia selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Jika ditarik lebih jauh, defisit Mei 2026 juga menjadi yang terdalam sejak April 2019. Pada periode tersebut, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$2,33 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan defisit pada Mei 2026 terutama disebabkan oleh komoditas migas. Neraca migas tercatat defisit US$3,76 miliar, dengan penyumbang utama berasal dari hasil minyak dan minyak mentah.

Selain neraca dagang, BPS juga mengumumkan inflasi Indonesia sebesar 0,44% secara bulanan atau month-to-month (mtm) pada Juni 2026. Secara tahunan atau year-on-year (yoy), inflasi tercatat sebesar 3,34%.

Tekanan inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan kondisi Mei 2026 yang mencatat inflasi 0,28% mtm.

BPS mencatat kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi terbesar adalah sektor transportasi, yakni sebesar 2,29%. Kelompok ini memberikan andil inflasi sebesar 0,28%.

“Terjadi inflasi sebesar 0,44%,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Realisasi inflasi ini lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar. Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 13 institusi, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 sebelumnya diperkirakan naik 0,30% secara bulanan.

Sementara itu, secara tahunan, inflasi diperkirakan mencapai 3,2%. Artinya, inflasi Juni 2026 baik secara bulanan maupun tahunan berada di atas perkiraan pasar.

Dari sisi eksternal, Dolar AS cenderung bertahan kuat seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) dalam waktu dekat. Ekspektasi tersebut ikut ditopang oleh data lowongan kerja AS yang masih solid dan menunjukkan ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data U.S. Bureau of Labor Statistics, jumlah lowongan kerja pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 7,296 juta, serta berada di atas data April yang direvisi menjadi 7,585 juta.

Data tenaga kerja yang masih kuat membuat pasar kembali mencermati arah kebijakan The Fed. Setelah menahan suku bunga pada rapat Juni di kisaran 3,50%-3,75%, sejumlah pejabat The Fed masih membuka ruang kenaikan suku bunga pada sisa tahun ini.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli berada di 33,70%. Sementara itu, peluang suku bunga tetap dipertahankan di level saat ini mencapai 66,30%.

(evw/evw)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Besok Masuk Masa Penawaran IPO RANS, Harga Dipatok Rp170

Besok Masuk Masa Penawaran IPO RANS, Harga Dipatok Rp170

July 1, 2026
BSI (BRIS) Incar Jadi Bank Jumbo Sebelum 2030

BSI (BRIS) Incar Jadi Bank Jumbo Sebelum 2030

July 1, 2026
Bedah Strategi Emiten Alat Kesehatan IPO di Tengah Volatilitas

Bedah Strategi Emiten Alat Kesehatan IPO di Tengah Volatilitas

July 1, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .