• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Saham JELI & BACH Dibuang Investor, RANS Boyong Konglomerat

Saham JELI & BACH Dibuang Investor, RANS Boyong Konglomerat

July 11, 2026
5 Alasan ASN Bolos Kerja: Tempat Kerja Jauh-Masalah Ekonomi

5 Alasan ASN Bolos Kerja: Tempat Kerja Jauh-Masalah Ekonomi

July 11, 2026
Mojtaba Khamenei Janji Balas Dendam Atas Kematian Ali Khamenei

Mojtaba Khamenei Janji Balas Dendam Atas Kematian Ali Khamenei

July 11, 2026
AS Tagih Janji Iran Bebaskan Selat Hormuz

AS Tagih Janji Iran Bebaskan Selat Hormuz

July 11, 2026
Super Murah! Transmart Banting Harga Sepeda Listrik Besok

Super Murah! Transmart Banting Harga Sepeda Listrik Besok

July 11, 2026
Hari Pertama Sekolah Antar Anak, ASN Bisa WFH

Hari Pertama Sekolah Antar Anak, ASN Bisa WFH

July 11, 2026
Perkuat Peran, Waskita Karya Bangun 29 Bendungan dalam Satu Dekade

Perkuat Peran, Waskita Karya Bangun 29 Bendungan dalam Satu Dekade

July 11, 2026
Bakal Tak Lagi Gratis, Segini Tarif Tol Sinasak-Simpang Panei

Bakal Tak Lagi Gratis, Segini Tarif Tol Sinasak-Simpang Panei

July 11, 2026
Ada Diskon 50%+20%, Harga Kasur Cuma Segini di Transmart

Ada Diskon 50%+20%, Harga Kasur Cuma Segini di Transmart

July 11, 2026
Iran Balas Trump Usai Diancam 1.000 Rudal Pasca Gencatan Senjata

Iran Balas Trump Usai Diancam 1.000 Rudal Pasca Gencatan Senjata

July 11, 2026
Buron Asuransi RI Diburu Interpol, Ketahuan Hidup Mewah di Amerika

Buron Asuransi RI Diburu Interpol, Ketahuan Hidup Mewah di Amerika

July 11, 2026
The Fed Sebut Perang-AI Bikin Inflasi Tinggi, Sinyal Suku Bunga Naik?

The Fed Sebut Perang-AI Bikin Inflasi Tinggi, Sinyal Suku Bunga Naik?

July 11, 2026
Kata Pengusaha Suku Cadang Soal Proyek Mobil Nasional Probowo

Kata Pengusaha Suku Cadang Soal Proyek Mobil Nasional Probowo

July 11, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Saturday, July 11, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home Market

Saham JELI & BACH Dibuang Investor, RANS Boyong Konglomerat

2 hours ago
in Market
Saham JELI & BACH Dibuang Investor, RANS Boyong Konglomerat
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Dua penghuni gelombang IPO awal Juli, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH), kompak tertekan aksi jual pada Jumat, (10/7/2026). Sementara itu, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) justru melesat.

Saham JELI, produsen makanan bermerek INACO, menjadi yang paling tertekan Jumat lalu. Emiten ini anjlok 14,81% ke level Rp1.495 per saham dan menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Sementara itu, saham BACH, emiten genset dan infrastruktur telekomunikasi afiliasi Grup Djarum, rontok nyaris 10% ke Rp500 per saham hari ini.

Persoalan pertama ada pada valuasi yang terbang meninggalkan kinerja labanya. Sepanjang 2025, JELI hanya membukukan laba bersih sebesar Rp39,0 miliar. Angka ini memang melonjak 235,5% dibanding laba tahun sebelumnya yang cuma Rp11,6 miliar, tetapi lonjakan persentase sebesar itu berasal dari basis yang sangat kecil.

Dengan laba semungil itu, harga IPO JELI saja sudah mencerminkan rasio harga terhadap laba (PER) di kisaran 31-39 kali – jauh di atas rata-rata emiten sejenis di sektor makanan dan minuman yang berada di rentang 12-18 kali. Di harga pasar saat ini, apalagi di puncaknya kemarin, valuasi itu menjadi kian sulit dijustifikasi oleh kinerja riil.

Yang membuat premium tersebut makin rawan adalah arah bisnis intinya. Alih-alih tumbuh, pendapatan JELI justru menyusut tiga tahun berturut-turut, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025.

Artinya, lonjakan laba yang jadi daya tarik utama emiten ini bukan berasal dari bertambahnya volume penjualan, melainkan dari efisiensi dan perbaikan marjin – sumber pertumbuhan yang punya batas dan tidak bisa diulang tanpa henti setiap tahun. Ketika ruang efisiensi habis, pertanyaannya kembali ke apakah penjualan bisa benar-benar tumbuh.

Sinyal paling menohok justru muncul dari arus kasnya. Berdasarkan prospektus, arus kas dari aktivitas operasi JELI ambruk sekitar 83% pada 2025. Penyebabnya adalah lonjakan piutang usaha dari Rp104,21 miliar menjadi Rp174,13 miliar akibat penjualan kredit menjelang akhir tahun.

Kondisi ini menjadi red flag klasik soal kualitas laba: keuntungan yang tercatat di atas kertas belum tentu berubah menjadi kas yang benar-benar masuk ke kas perusahaan, sekaligus memunculkan risiko gagal bayar dari sisi distributor.

Pelemahan saham BACH hari ini bukan tanpa alasan, melainkan telah muncul sinyal yang perlu diwaspadai. Data ringkasan broker sejak listing menunjukkan satu broker tercatat sebagai net seller senilai sekitar Rp117,4 miliar di BACH yang merupakan angka terbesar di antara emiten IPO batch ini, dengan indikator mengarah ke fase Big Distribution. Jejak seperti ini kerap mendahului tekanan harga pada saham yang baru melantai.

Dari sisi fundamental, sorotan pertama datang dari sisi likuiditas. Berdasarkan prospektus, rasio kas (cash ratio) BACH pada 2025 tercatat hanya 0,02 kali atau sekitar 2%, anjlok dari 0,09 kali pada tahun sebelumnya. Angka setipis itu menunjukkan ruang gerak yang sangat sempit bagi perseroan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, sebuah kondisi yang perlu terus dipantau terutama karena sebagian dana IPO justru dialokasikan untuk modal kerja pembelian genset.

Persoalan kedua menyangkut ketergantungan pada pihak terafiliasi. Sebagian besar klien di lini telekomunikasi BACH merupakan entitas yang berada dalam ekosistem Grup Djarum sendiri, seperti TOWR, Protelindo, dan SUPR. Struktur ini memang memberikan stabilitas pendapatan dalam jangka pendek, tetapi sekaligus membuat kinerja perseroan sangat bergantung pada keputusan bisnis internal grup ketimbang murni dinamika pasar.

Dari sisi operasional, BACH menghadapi risiko rantai pasok. Perseroan sangat bergantung pada prinsipal genset luar negeri seperti Himoinsa dan Guangdong Westinpower untuk komponen utamanya, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun gangguan pasokan global. Selain itu, peningkatan rasio utang mengikat perseroan pada negative covenants yang ketat dari perbankan, yang dapat membatasi ruang gerak aksi korporasi tanpa persetujuan kreditur.

Yang juga tak kalah penting adalah overhang pada struktur kepemilikan. Prospektus mengungkap adanya perjanjian opsi antara pemegang saham, di mana PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) selaku entitas Djarum akan mengeksekusi hak opsi pembelian saham sehingga kepemilikannya di BACH naik menjadi 51% dan itu dijadwalkan terjadi tak lebih dari lima hari kerja setelah pencatatan saham di bursa. Perubahan struktur pengendalian secepat itu menjadi variabel yang perlu dicermati investor jangka menengah.

Terakhir, dengan porsi saham publik atau free float yang hanya 15,06%, jumlah saham yang beredar di pasar relatif terbatas. Kondisi ini membuat harga BACH lebih mudah bergerak liar oleh volume perdagangan yang tidak terlalu besar, memperbesar volatilitas di pasar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kinerja dua emiten baru lainnya, yakni PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) milik Raffi Ahmad melesat ke ARA di hari perdananya, yang ikut memimpin top gainers.

Saat pembukaan, RANS mencatatkan harga Rp228 per lembar saham. RANS telah berhasil naik dengan peningkatan 34,12% atau mencapai Auto reject atas (ARA) di awal pembukaan perdagangan bursa.

Momen IPO RANS pada akhir pekan lalu bahkan menghadirkan sejumlah konglomerat secara langsung. Salah satunya Andi Syamsuddin Arsad atau Haji Isam.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, Haji Isam ikut memencet bel pembukaan bersama Raffi Ahmad, Nagita Slavina, dan direksi RANS.

Selain Haji Isam, sejumlah tokoh penting juga ikut hadir, yakni generasi ketiga pemilik Salim Group Axton Salim, pemilik Adaro Garibaldi ‘Boy’ Thohir, Ketua Kadin Anindya Bakrie, dan CEO SCTV Sutanto Hartono.

Pendiri RANS Raffi Ahmad mengatakan Haji Isam merupakan pemilik 1% saham RANS. “Beliau jadi salah satu mentor saya juga,” katanya dalam seremoni pencatatan saham, Gedung BEI, Jakarta, Jumat, (10/7/2026).

(arj/arj)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
5 Alasan ASN Bolos Kerja: Tempat Kerja Jauh-Masalah Ekonomi

5 Alasan ASN Bolos Kerja: Tempat Kerja Jauh-Masalah Ekonomi

July 11, 2026
Mojtaba Khamenei Janji Balas Dendam Atas Kematian Ali Khamenei

Mojtaba Khamenei Janji Balas Dendam Atas Kematian Ali Khamenei

July 11, 2026
AS Tagih Janji Iran Bebaskan Selat Hormuz

AS Tagih Janji Iran Bebaskan Selat Hormuz

July 11, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .