Jakarta, CNBC Indonesia — Banyak orang baru menyadari pentingnya menabung ketika kondisi keuangan mulai terasa berat. Fenomena ini ternyata juga terjadi di Amerika Serikat (AS), di mana sebagian besar masyarakat mengaku memiliki penyesalan terkait pengelolaan uang mereka.
Salah satu masalah terbesar yang paling banyak disesali adalah tidak memiliki tabungan yang cukup. Mulai dari dana darurat, tabungan pensiun, hingga biaya pendidikan anak disebut menjadi sumber kekhawatiran finansial warga AS.
Kondisi tersebut terungkap dalam survei Bankrate terhadap 2.078 responden di AS. Hasilnya, kurang menabung menjadi penyesalan finansial terbesar masyarakat Negeri Paman Sam tahun ini.
Survei menunjukkan 3 dari 4 orang Amerika memiliki penyesalan finansial, dan sekitar 40% menyebut masalah tabungan sebagai sumber utamanya. Sementara itu, 20% lainnya menyesal karena mengambil terlalu banyak utang, khususnya dari kartu kredit dan pinjaman pendidikan.
“Penyesalan soal tidak menabung cukup untuk pensiun muncul setiap tahun, dan jumlahnya makin besar seiring usia,” ujar analis financial Bankrate, Stephen Kates, dikutip dari CNBC International, Minggu (16/5/2026).
Sementara itu 43% responden mengaku belum melakukan apa pun untuk memperbaiki penyesalan finansial mereka selama setahun terakhir. Ketika ditanya apa yang paling bisa membantu kondisi keuangan mereka, warga AS menyebut kebutuhan pokok yang lebih murah, peluang kerja lebih baik, tarif sewa yang lebih rendah, hingga pasar saham yang kembali pulih.
Kondisi tersebut sebenarnya cukup mirip dengan Indonesia. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan hanya 76,3% penduduk di Tanah Air yang memiliki rekening bank di lembaga keuangan formal.
Sementara itu, menurut data terakhir dari OJK, terdapat sekitar 29 juta pekerja yang tercatat sebagai peserta dana pensiun. Sementara jumlah angkatan kerja berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2025 mencapai 154 juta orang.
Apabila saat ini Anda belum memiliki tabungan yang memadai untuk dana darurat dan dana pensiun, tiga pakar keuangan memberikan saran soal bagaimana memperbaiki kondisi finansial tersebut. “Terlambat memulai lebih baik dibandingkan dengan tidak pernah memulai,” kata Jake Martin.
Cara Mengatasi Penyesalan Finansial
Beberapa pakar keuangan AS memberikan strategi yang juga relevan dilakukan oleh masyarakat Indonesia:
1. Bereskan dulu ‘kebakaran finansial’
Utamakan melunasi utang berbunga tinggi seperti kartu kredit atau pinjol. Bunga yang menumpuk dapat menghabiskan ruang tabungan.
Cara lain untuk menambah ruang tabungan adalah dengan memotong pengeluaran tetap, sebuah strategi yang disebut oleh Ashton Lawrence sebagai mengendalikan hal-hal yang bisa dikendalikan.
“Kenali di mana uang untuk hal-hal tidak wajib bocor, apakah untuk makan di luar, terlalu banyak layanan streaming, langganan aplikasi yang sudah lupa, layanan pesan-antar, belanja impulsif, atau gaya hidup yang semakin mahal. Setiap uang yang tidak kamu keluarkan adalah uang yang bisa kamu alokasikan untuk hal yang lebih berguna,” katanya.
2. Siapkan dana darurat untuk hidup 3-6 bulan
Dana darurat mencegah Anda kembali berutang ketika terjadi hal tak terduga seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan mendadak. Persiapkan dana darurat dengan perhitungan biaya hidup selama 3-6 bulan.
Dana darurat juga sangat krusial untuk membantu mengurangi ketergantungan terhadap utang berbunga tinggi saat sesuatu yang di luar dugaan terjadi.
3. Tingkatkan tabungan pensiun
Setelah dua hal di atas dapat dikendalikan, siapkan dana pensiun untuk hari tua.
“Sementara sebagian besar orang menargetkan menabung 5% hingga 10% dari penghasilan mereka, seseorang yang sedang berusaha mengejar ketertinggalan sebaiknya mencari cara untuk meningkatkan porsi tabungannya menjadi 20% hingga 30%, terutama jika mulai menabung serius di usia 40-an,” kata Martin.
Dalam kondisi tertentu, Anda juga mungkin perlu mempertimbangkan menunda usia pensiun jika membutuhkan lebih banyak waktu untuk menabung.
“Jumlah pasti yang perlu Anda tabung akan berbeda-beda tergantung sejumlah faktor, termasuk usia Anda dan gaya hidup yang Anda inginkan saat pensiun,” kata ia.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google



















