Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Kamis (2/7/2026), melanjutkan kenaikan yang dicatatkan IHSG pada perdagangan hari sebelumnya.
Pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG naik 0,26% atau menguat 15 poin ke level 5.709,84. Beberapa menit setelah pasar buka, IHSG tercatat melaju lebih kencang hingga 1% lebih mendekati level 5.800.
Hingga pukul 09.16 WIB, IHSG menguat 1,22% atau naik 69 poin ke 5.764. Adapun posisi tertinggi IHSG pada perdagangan pagi ini berada di level 5.773,48.
Nilai transaksi tercatat mencapai sekitar Rp 1,68 triliun dengan volume perdagangan 2,78 miliar saham yang diperdagangkan dalam 200 ribu kali transaksi. Sebanyak 356 saham menguat, 162 saham melemah, sementara 165 saham bergerak stagnan.
Adapun emiten dengan nilai transaksi terbesar pada awal perdagangan hari ini adalah BBCA, BBRI, BMRI, BRPT dan TPIA.
Memasuki hari kedua semester II-2026, pasar keuangan Indonesia akan dihadapkan pada sejumlah sentimen, mulai dari data ekonomi hingga pidato chaiirman The Fed Kevin Warsh.
Defisitnya neraca dagang, ambruknya PMI Manufaktur, naiknya inflasi serta pandangan The Fed yang masih hawkish bisa menjadi tekanan bagi rupiah hingga IHSG hari ini.
Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026. Defisit terjadi karena nilai ekspor tercatat US$23,20 miliar, sementara impor mencapai US$24,81 miliar.
Defisit ini menjadi yang pertama sejak April 2020. Saat itu, neraca perdagangan Indonesia juga defisit sebesar US$0,38 miliar.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat inflasi di Indonesia sebesar 0,44% secara bulanan atau month to month (mtm) pada Juni 2026.
Adapun, inflasi tahun kalender mencapai 1,79% dan inflasi tahunannya sebesar 3,34%.
Tekanan inflasi yang tercatat dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan itu lebih tinggi dibanding kondisi Mei 2026 yang mengalami inflasi 0,28% mtm.
Sementara itu, Bursa Asia-Pasifik bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (3/7/2026), mengikuti penurunan yang terjadi di Wall Street seiring aksi ambil untung investor pada saham-saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor.
Melansir CNBC, indeks Kospi Korea Selatan memimpin pelemahan di kawasan dengan anjlok 5,36% saat pembukaan perdagangan. Penurunan tajam tersebut mendorong Korea Exchange (KRX) menghentikan sementara perdagangan selama lima menit guna meredam volatilitas pasar, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq turun 3,55%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,70%, sedangkan Topix masih mampu menguat tipis 0,13%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 terkoreksi 0,59% pada awal perdagangan.
Sentimen negatif di Asia mengikuti pergerakan bursa Amerika Serikat yang ditutup melemah pada perdagangan Rabu waktu setempat. Indeks Dow Jones sempat melonjak 423,46 poin dan menyentuh rekor tertinggi intraday sebelum akhirnya memangkas seluruh kenaikan dan ditutup nyaris stagnan.
Sementara itu, indeks S&P 500 turun 0,2% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,7%. Pelemahan tersebut terjadi seiring investor mengurangi eksposur pada saham-saham produsen chip yang sebelumnya menjadi motor penguatan pasar.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google


















