
Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan kecerdasan buatan (AI) di balik chatbot Claude, Anthropic, dikabarkan akan menyampaikan kepada calon investor bahwa potensi pendapatan (total addressable market/TAM) yang bisa mereka raih melebihi US$ 30 triliun, atau setara Rp531 kuadriliun (kurs Rp17.700/dolar AS). Angka ini bahkan melampaui klaim TAM milik perusahaan roket Elon Musk, SpaceX, yang sebelumnya mengklaim estimasi TAM senilai US$ 28,5 triliun atau sekitar Rp504 kuadriliun.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, menurut sumber yang mengetahui langsung rencana tersebut, estimasi jumbo ini akan diungkapkan Anthropic menjelang rencana penawaran umum perdana sahamnya (IPO). TAM sendiri lazim digunakan startup teknologi untuk menunjukkan kepada investor betapa besar ruang pertumbuhan yang masih bisa mereka rebut, dengan asumsi perusahaan berhasil menguasai 100% pangsa pasar dari sektor yang mereka incar.
Namun, para analis menilai perhitungan TAM di era AI kian sulit diprediksi karena teknologi ini berpotensi mengguncang hampir seluruh sektor industri sekaligus. Saat SpaceX mengungkap TAM-nya pada Mei 2026 lalu, Musk menyebutnya sebagai “pasar paling nyata terbesar dalam sejarah umat manusia”, dengan mayoritas nilainya, yakni sekitar Rp469.155 triliun (US$ 26,5 triliun), disumbang dari peluang di sektor AI.
Klaim SpaceX kala itu sempat menuai skeptisisme di Wall Street lantaran jauh melampaui estimasi TAM perusahaan-perusahaan raksasa yang IPO sebelumnya. Sebagai perbandingan, Uber saat melantai di bursa pada 2019 hanya mengklaim potensi pasar sebesar 6 triliun dolar AS (sekitar Rp106.200 triliun), sementara WeWork yang akhirnya batal IPO menyebut potensi pasarnya senilai 3 triliun dolar AS atau sekitar Rp53.100 triliun.
Profesor valuasi ternama dari New York University, Aswath Damodaran, bahkan menyebut proyeksi pasar AI milik SpaceX saat itu sudah “mendekati batas kewajaran dan mulai melampauinya”. Meski demikian, Anthropic tampaknya tak gentar dan justru berani memasang target yang lebih tinggi lagi.
Untuk menghitung potensi pasarnya, Anthropic disebut mempertimbangkan keseluruhan cakupan pekerjaan manusia yang berpotensi digantikan atau dibantu oleh model AI mereka. Sebagai gambaran skala bisnis saat ini, pendapatan Anthropic pada kuartal kedua 2026 tercatat melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 11,6 miliar, atau sekitar Rp205,32 triliun.
Angka tersebut terbilang signifikan jika dibandingkan dengan total pendapatan gabungan 191 perusahaan teknologi yang tergabung dalam indeks S&P 1500, yang sepanjang tahun lalu hanya mencapai 2,4 triliun dolar AS atau setara Rp42.480 triliun, menurut data FactSet.
Sementara itu, performa saham SpaceX pasca-IPO justru cenderung melempem. Setelah sempat melonjak di awal perdagangan, saham perusahaan roket itu bahkan sempat anjlok di bawah 105 dolar AS (sekitar Rp1,85 juta) pada awal Agustus, sebelum akhirnya kembali stabil di kisaran harga penawaran awalnya, yakni 135 dolar AS atau sekitar Rp2,39 juta per saham.
Terlepas dari catatan tersebut, jika investor benar-benar percaya dengan visi besar Anthropic, penawaran saham perdana perusahaan ini berpotensi mengalahkan pencapaian SpaceX dalam berbagai aspek lain. Anthropic dikabarkan membidik dana segar hingga 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.770 triliun dari IPO-nya, jauh di atas raihan SpaceX yang sebesar 86 miliar dolar AS (sekitar Rp1.522,2 triliun).
Tak hanya soal dana yang dihimpun, Anthropic juga disebut membidik valuasi sekitar 2 triliun dolar AS atau setara Rp35.400 triliun, melampaui valuasi SpaceX yang tercatat sebesar 1,77 triliun dolar AS atau sekitar Rp31.329 triliun.
Perlu dicatat, seluruh rencana dan angka-angka tersebut masih dalam tahap pembahasan internal dan berpotensi berubah sewaktu-waktu. Anthropic dikabarkan akan merilis dokumen keterbukaan finansial terkait rencana IPO-nya dalam beberapa pekan ke depan, yang berpotensi membawa perusahaan tersebut melantai di bursa saham AS paling cepat pada September atau awal Oktober 2026.
(fsd/fsd)


















