Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (20/7) di zona hijau setelah menguat 0,91% ke level 6.231,78. Kenaikan indeks terutama ditopang oleh penguatan saham BBRI, BRPT, dan TLKM, sementara pelemahan BMRI, BREN, dan ASII membatasi laju penguatan.
Investor asing kembali membukukan aksi beli bersih sebesar Rp156,57 miliar di pasar reguler dan Rp93,47 miliar di seluruh pasar. Secara sektoral, 10 dari 11 indeks sektor ditutup menguat, dengan sektor industrial mencatat kenaikan tertinggi 3,44%, sedangkan sektor teknologi menjadi satu-satunya sektor yang melemah sebesar 0,56%.
Di sisi global, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi dengan kecenderungan melemah. Indeks Dow Jones turun 0,59%, S&P 500 terkoreksi 0,19%, sementara Nasdaq bergerak relatif stabil dengan penurunan tipis 0,05%.
Aksi beli investor asing yang berlanjut selama tiga hari berturut-turut, masing-masing senilai Rp1,17 triliun di pasar reguler dan Rp1,96 triliun di seluruh pasar, turut diikuti penguatan ETF EIDO sebesar 0,89% dan MSCI Indonesia sebesar 0,62%.
Dari sisi aksi korporasi, ada PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang mulai mempersiapkan pengembangan fasilitas Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) Tahap II melalui studi kelayakan dengan estimasi investasi sekitar US$1 miliar. Langkah tersebut dilakukan di tengah progres pembangunan fasilitas Tahap I yang telah mencapai 72% per Juli 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan nilai proyek lebih dari US$800 juta.
Fasilitas Tahap I nantinya memiliki kapasitas produksi 827 ribu ton soda kaustik cair dan 500 ribu ton ethylene dichloride (EDC) per tahun. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor soda kaustik dengan nilai sekitar US$293 juta atau setara Rp4,9 triliun per tahun, sekaligus membuka potensi ekspor EDC senilai hingga US$300 juta atau sekitar Rp5 triliun per tahun.
Selanjutnya ada PT Aman Agrindo Tbk (GULA) menargetkan penyelesaian pembangunan pabrik gula merah baru sebagai fokus utama pengembangan usaha pada tahun ini. Fasilitas tersebut dijadwalkan memasuki tahap commissioning dan mulai beroperasi secara komersial pada semester II 2026.
Melalui proyek ini, perseroan bertransformasi dari model usaha perdagangan gula menjadi produsen gula merah, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah melalui integrasi proses produksi. Langkah tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional di tengah proyeksi konsumsi gula domestik yang diperkirakan mencapai 8,03 juta ton pada 2028.
Proyek pembangunan pabrik didukung dana hasil IPO 2022 yang penyerapannya hampir seluruhnya terealisasi. Dari total belanja modal sebesar Rp40,20 miliar, sekitar Rp39 miliar telah digunakan hingga Mei 2026, sementara sisa dana Rp1,21 miliar masih tersimpan di BBCA.
Perseroan menargetkan pendapatan tahun 2026 mencapai Rp336,37 miliar atau meningkat 50% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan laba bersih sebesar Rp36,90 miliar. Hingga kuartal I-2026, seluruh pendapatan perseroan masih berasal dari aktivitas perdagangan gula sebesar Rp40,92 miliar, tumbuh 4,03% secara tahunan.
Lalu, ada PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) yang menambah lebih dari 40 gerai baru sepanjang semester I-2026, dengan lebih dari 40% pembukaan gerai dilakukan di kota-kota tier 2 dan tier 3.
Hingga akhir Juni 2026, jumlah gerai Fore Coffee mencapai 363 unit, meningkat dari 259 gerai pada periode yang sama tahun sebelumnya. Bersama 10 gerai Fore Donut dan empat gerai Fore Coffee di Singapura, jaringan usaha grup kini telah mencakup 377 gerai yang tersebar di lebih dari 60 kota.
Dari sisi kinerja, perseroan membukukan penjualan sebesar Rp1 triliun pada semester I-2026, meningkat 51,71% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen minuman masih menjadi kontributor terbesar dengan penjualan Rp884,18 miliar, disusul segmen makanan yang meningkat signifikan menjadi Rp119,68 miliar seiring ekspansi Fore Donut.
Perseroan juga mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp56,48 miliar, naik 34,39% secara tahunan. Dari sisi teknikal, saham FORE diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp595–Rp645.
Rekomendasi Saham Hari Ini
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
(ayh/ayh)
Add
as a preferred
source on Google



















