
Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan dalam rangka Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RUU APBN) Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya menargetkan pertumbuhan ekonomi RI mencapai 6% dengan suku bunga SBN 10 tahun di 6,9% serta nilai tukar Rupiah di Rp 17.500 per Dolar AS.
Presiden Direktur Infovesta Utama, Edbert Suryajaya menilai kerangka makro APBN 2027 sudah cukup realistis namun cukup menantang untuk mencapai target perekonomian di 6% karena naik hingga 10% dari target PDB 2025 sebesar 5,4%. Guna mencapai target ini, pemerintah memerlukan upaya mendorong ekonomi dan menjaga daya beli melalui penciptaan lapangan kerja utamanya sector padat karya
Dari pasar keuangan, pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed yang diramal akan menahan level FFR hingga akhir tahun 2026 meski potensi kenaikan tetap ada karena ketegangan Timur Tengah belum selesai. Kebijakan The Fed tentu saja akan mempengaruhi kebijakan BI Rate hingga nilai tukar Rupiah dan daya Tarik asing terhadap pasar keuangan RI.
Sentimen apa saja yang menjadi perhatian pelaku pasar terhadap Indonesia? Selengkapnya simak dialog Shania Alatas dengan Presiden Direktur Infovesta Utama, Edbert Suryajaya di Power Lunch, CNBC Indonesia (Jum’at, 24/08/2026)
















