
Jakarta, CNBC Indonesia – Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta membeberkan faktor yang menentukan stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Menurut Filianingsih, kunci utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar adalah keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) valuta asing (valas).
“Oke, menjaga keseimbangan ya, kuncinya menjaga keseimbangan. Jadi ini sebetulnya kalau kita bicara nilai tukar, itu sama seperti bicara supply demand ya,” ujar Filianingsih kepada mahasiswa dan siswa-siswa yang hadir dalam Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026).
Ia menjelaskan, ketika pasokan dolar di dalam negeri meningkat sementara permintaannya relatif rendah, rupiah berpotensi menguat. Sebaliknya, jika permintaan dolar meningkat sementara pasokannya terbatas, dolar akan semakin mahal dan rupiah tertekan.
“Nah, sama juga dengan ini. Nilai tukar kita lihat ini adalah masalah supply dan demand dari valas (valuta asing) ya. Kalau supply-nya itu dia banyak maka nilai tukarnya itu bisa menguat ya, Rupiahnya lebih kuat. Kalau tapi sebaliknya kalau demand-nya tinggi ya, maka dia akan menjadi mahal ya,” jelasnya.
Menurut Filianingsih, ekspor menjadi salah satu sumber utama pasokan valuta asing. Ketika Indonesia mengekspor barang, eksportir memperoleh devisa, termasuk dolar AS. Pasokan valas juga dapat bertambah ketika terjadi investasi asing ke Indonesia.
“Pada saat kita melakukan ekspor kita mendapatkan devisa, kita mendapatkan mata uang asing, dalam hal ini mungkin US dollar, kita mendapatkan itu. Demikian juga investasi asing. Kalau ada inflow, ada orang asing membeli surat berharga kita atau melakukan penanaman di dalam negeri, itu juga akan menambah,” katanya.
Sebaliknya, impor menjadi salah satu faktor yang meningkatkan permintaan dolar. Pasalnya, pembayaran barang dan jasa dari luar negeri umumnya membutuhkan valuta asing.
“Nah, sebaliknya demand itu adalah impor. Kalau kita impor barang dari luar negeri, jasa dari luar negeri, maka kita membayarnya dengan US dollar, maka ini akan membuat permintaan US dollar meningkat,” ujar Filianingsih.
Ia menambahkan, arus dana keluar atau outflow juga dapat meningkatkan permintaan terhadap valuta asing. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika investor asing melepas aset keuangan di Indonesia dan membawa dananya keluar negeri.
“Demikian juga dengan repatriasi. Pada saat akan terjadi outflow, maka valasnya juga akan demand terhadap valasnya juga akan meningkat,” imbuhnya.
Tiga Faktor Penentu Rupiah
Filianingsih mengatakan pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh kondisi pasokan dan permintaan valas. Setidaknya terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi nilai tukar, yakni faktor fundamental, struktural, dan sentimen.
Faktor fundamental antara lain berkaitan dengan kondisi neraca transaksi berjalan (current account) dan neraca perdagangan. Sementara faktor struktural berkaitan dengan permintaan valas dari pelaku domestik maupun asing.
“Dan selain itu bukan hanya ini aja yang mempengaruhi, kita lihat ada tiga hal utama yang mempengaruhi yaitu faktor fundamental ya mengenai defisit current account dan defisit trade balance. Lalu juga ini keseimbangan antara supply dan demand dari valas domestik,” paparnya.
Adapun faktor ketiga adalah sentimen yang berkaitan erat dengan kondisi global. Gejolak geopolitik hingga kenaikan harga komoditas seperti minyak dapat memengaruhi permintaan dolar dan pada akhirnya menekan rupiah.
“Dan yang ketiga adalah faktor sentimen, artinya kondisi global ya. Pada saat ada perang di Timur Tengah, minyaknya naik, maka harga US dollar juga akan meningkat,” katanya.
Kapan Rupiah Menguat?
Filianingsih menjelaskan bahwa nilai tukar pada dasarnya merupakan harga suatu mata uang terhadap mata uang negara lain. Karena itu, perubahan angka nilai tukar menunjukkan perubahan harga mata uang tersebut.
“Nah, ini kita lihat sebetulnya kita sudah lihat tadi apa yang mempengaruhi supply demand. Tetapi apa sih sebetulnya nilai tukar itu ya? Di sini nilai tukar itu adalah harga mata uang ya suatu negara ya terhadap mata uang negara lain. Sama seperti barang, dia punya harga, maka rupiah mata uang di sini nilai tukar juga mempunyai harga,” jelasnya.
Ia memberikan contoh ketika nilai tukar dolar AS berada di level Rp 17.000 per US$. Artinya, untuk memperoleh US$1, seseorang membutuhkan Rp17.000. Jika kemudian kurs turun menjadi Rp15.500 per US$, kondisi tersebut berarti rupiah menguat karena kebutuhan rupiah untuk membeli US$1 menjadi lebih kecil.
“Nah, contohnya kalau kita lihat ya US dollar garis miring Rp 17.000 artinya US$ 1 harganya itu Rp 17.000. Nah, kita lihat kalau Rupiah melemah atau menguat itu apa? Kalau misalnya harganya Rp 17.000 ya menjadi Rp 15.000, kita katakan itu Rupiah menguat ya,” ungkapnya.
Dengan demikian, rupiah cenderung menguat ketika pasokan dolar meningkat. Kondisi tersebut antara lain terjadi ketika ekspor tumbuh dan investasi asing masuk ke Indonesia.
“Nah, kita lihat rupiah menguat ketika ekspor meningkat ya. Kenapa? Kalau ekspor meningkat kita jual barang ke luar negeri kita dapat dolarnya ya. Demikian juga kalau orang asing investor dia invest di Indonesia kita dapat uangnya. Kalau dia membeli surat-surat berharga obligasi negara kita dapat uangnya,” tuturnya.
Sebaliknya, tekanan terhadap rupiah akan meningkat ketika kebutuhan dolar di dalam negeri naik, termasuk saat terjadi arus modal keluar maupun peningkatan impor.
“Tetapi sebaliknya rupiah melemah ketika kebutuhan dolar naik. Kalau terjadi outflow, jadi orang-orang pada ngejual obligasinya keluar dari Indonesia ya, lalu kita melakukan impor kita harus membayar dalam Rupiah,” pungkas Filianingsih.
(haa/haa)

















