Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia membutuhkan investasi miliaran dolar untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah. Hal ini diungkapkan oleh Chief Economist di Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian.
Dirinya mengatakan pentingnya arus investor asing yang cukup besar untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran yang berujung pada kestabilan nilai tukar rupiah.
“Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri,” kata Fakhrul, dalam catatannya, Kamis (9/7/2026).
“Kita butuh peningkatan posisi investor asing pada paruh kedua tahun 2026 sebesar US$ 8-11 miliar untuk menjaga kestabilan rupiah, ujar Fakhrul,” sambungnya.
Keputusan investor asing tersebut, menurut Fakhrul, bergantung kepada tiga faktor utama, yakni konsistensi konsolidasi fiskal, proses normalisasi yield obligasi pemerintah, serta kepastian arah kebijakan moneter.
“Investor global selalu membandingkan Indonesia dengan negara berkembang lainnya. Kalau kita mampu menawarkan kombinasi antara fundamental yang kuat, yield yang kompetitif, dan kebijakan yang kredibel, saya optimistis partisipasi investor asing akan terus meningkat pada Semester II.”
Menurutnya, pergerakan rupiah pada Semester II akan lebih banyak ditentukan oleh kombinasi kebijakan fiskal dan moneter dibandingkan sekadar arah suku bunga Bank Indonesia.
“Saya melihat Semester II akan menjadi periode yang sangat menentukan. Kalau konsolidasi fiskal berjalan sesuai rencana, harga minyak tetap moderat, dan proses normalisasi pasar obligasi terus berlangsung, tekanan terhadap rupiah akan berangsur mereda,” ujarnya.
Menjaga stabilitas nilai tukar tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar maupun pengelolaan likuiditas.
“Stabilitas rupiah pada akhirnya harus dibangun melalui kombinasi kebijakan yang saling mendukung. Fiskal yang kredibel, pasar obligasi yang menarik, serta komunikasi kebijakan yang konsisten akan jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan instrumen moneter.”
Kestabilan nilai tukar menjadi sendiri menjadi daya tawar kepada investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia. Jika rupiah terus melemah dalam jangka panjang, efeknya adalah arus modal asing yang enggan masuk ke dalam negeri,
CEO Leeds Property Hendra Hartono mengungkapkan ketidakstabilan rupiah justru merusak kalkulasi jangka panjang para investor, khususnya terkait tingkat pengembalian investasi atau Return on Investment (ROI).
“Kalau rupiah lagi gonjang-ganjing begini, investor asing tidak bakal langsung masuk. Walaupun mereka melihat rupiah murah, mereka justru sedang menghitung how low can it go? Kalau beli sekarang, nanti kalau rupiah terus melemah mereka makin rugi. Apalagi kalau disewakan kembali, ROI-nya jadi tidak ketemu saat dikonversi ke dolar,” ujar Hendra kepada CNBC Indonesia, Kamis (9/7/2026).
Adapun industri merupakan sektor paling akhir yang disentuh oleh investor asing saat masuk ke suatu negara. Biasanya, mereka melewati siklus adaptasi yang panjang sebelum berani menyuntikkan modal besar untuk pabrik atau lahan.
“Investor asing itu tidak datang langsung cari pabrik. Mereka lewat siklus dulu; tinggal di hotel, bicara dengan corporate lawyer atau pengusaha lokal untuk joint venture. Lalu mereka sewa service apartment, pindah ke service office untuk tim kecil, baru cari kantor besar. Terakhir, kalau sudah yakin dengan stabilitas politik dan ekonomi di Indonesia, baru mereka investasi di pabrik,” jelasnya.
Oleh karena itu, industri menjadi sektor yang paling rentan terkena dampak psikologis dari ketidakpastian makroekonomi saat ini. Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan investor akan menghindari komitmen jangka panjang.
“Sektor industri ini paling rentan di antara semuanya untuk pelemahan rupiah ini. Kalau rupiah terus melemah, orang tidak akan melihat jangka panjang. Akhirnya semua orang bilang ‘saya sewa saja pabrik’. Nah, itu yang kita tidak mau. Kita maunya mereka beli lahan, bukan cuma sewa-sewa terus besok-besok bisa exit,” tegas Hendra.
(ras/haa)
Add
as a preferred
source on Google


















