
Jakarta, CNBC Indonesia – Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) M. Anwar Bashori menganggap, realisasi pembentukan rupiah digital yang terkait dengan Central Bank Digital Currency (CBDC) belum urgen untuk diterapkan di Indonesia.
Pria yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang di BI itu mengatakan, belum urgensinya rupiah digital itu disebabkan masih besarnya heterogenitas atau keragaman pemanfaatan mata uang rupiah di Indonesia.
“CBDC sepertinya untuk saat ini urgensinya belum karena heterogenitas kita yang luar biasa, karena edukasi kita, pulau kita yang lainnya belum bisa, karena problem kurs saja belum bisa kita selesaikan,” kata dia saat merespons pertanyaan DPR dalam agenda fit and proper test atau uji kelayakan dan kepatutan sebagai calon deputi gubernur BI, Kamis (27/8/2026).
Anwar juga menekankan, di samping itu, dalam menjaga uang tunai, masyarakat di antar pulau Indonesia juga belum memiliki pemahaman yang sama. Makanya, BI kata dia tiap tahun masih harus mengganti uang lusuh masyarakat dengan uang baru.
“90% setiap tahun kami lakukan hanya untuk mengganti uang lusuh di tempat tempat tertentu karena tidak semua wilayah kita mempunyai layak edar yang sama,” paparnya.
Dari digitalisasi sistem pembayaran pun menurutnya, antar pulau di Indonesia juga memiliki kesetaraan infrastruktur. Karena itu, ia menekankan, rupiah digital saat ini masih sebatas masuk kajian penerapan.
“Jadi saya pikir Indonesia bukan hanya di Jawa, Indonesia bukan hanya di beberapa kota, dan Indonesia luas, heterogenitas kita masih ada terutama non tunai masih juga disparitas. Jadi sementara CBDC adalah hal yang yang masuk kajian namun urgensinya mungkin perlu kita pertimbangkan kembali,” kata Anwar Bashori.
Sebagaimana diketahui, proyek pembentukan rupiah digital atau Proyek Garuda belum menunjukkan kemajuan signifikan sejak 2025 lalu.
Pada tahun lalu, Bank Indonesia (BI) baru berhasil menyelesaikan peninjauan konsep atau proof of concept (PoC) rupiah digital untuk tahap pertama immediate state – wholesale cash ledger.
Proyek Garuda merupakan inisiatif Bank Indonesia untuk mengeksplorasi Central Bank Digital Currency (CBDC) di Indonesia yang disebut rupiah digital.
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan babak baru ini kelanjutan dari tiga tahap sebelumnya yang telah dimulai dari 2022 lalu, yakni white paper, consultative paper dan laporan konsultasi publik.
“PoC merupakan upaya bank sentral untuk menguji kesiapan teknologi yang mendukung pengembangan model bisnis rupiah digital,” ungkap Ramdan, dalam rilis BI, Jumat (13/12/2024).
Pada 2025, pengujian dilakukan secara komprehensif, mencakup aspek teknis yang kritikal, keamanan transaksi, serta interoperabilitas dengan sistem pembayaran dan infrastruktur keuangan yang ada.
Ketiga aspek tersebut, kata Ramdan, menjadi fokus mendalam pada perancangan PoC, dengan tujuan memastikan bahwa sistem yang dikembangkan mampu menghadirkan layanan yang efisien, aman, dan andal.
Dia menjelaskan setiap tahapan dalam pengujian teknologi menjadi elemen krusial dalam proses pengayaan ide, eksplorasi inovasi, serta validasi konsep yang telah dirumuskan sebelumnya.
Pengujian ini dilakukan dengan memanfaatkan platform teknologi potensial berbasis distributed ledger technology (DLT), yang telah melalui serangkaian evaluasi teknis menyeluruh dan diselaraskan dengan proyeksi kebutuhan model bisnis Rupiah Digital di masa mendatang.
(arj/arj)



















