
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada akhir perdagangan Senin (24/8/2026), berbalik arah setelah pekan lalu indeks menembus kembali level psikologis 6.500.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pukul 16.00 WIB, IHSG berada di level 6.501,67, melemah 24,02 poin atau 0,37% dari posisi penutupan sebelumnya di 6.525,69.
IHSG dibuka di level 6.544 dan dan sepanjang sesi pertama sempat menyentuh level tertinggi 6.551 serta terendah 6.474.
Pelemahan IHSG diikuti dengan 367 saham melemah, 259 saham menguat, sementara 166 saham lainnya stagnan.
Nilai transaksi perdagangan hari ini mencapai Rp 14,29 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 35,88 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2,19 juta kali.
Mengutip data Refinitif, mayoritas sektor perdagangan melemah dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh kesehatan, utilitas dan energi. Sedangkan hanya sektor barang baku, teknologi dan konsumer primer yang tercatat menguat.
Secara spesifik, emiten-emiten yang menjadi pemberat kinerja IHSG termasuk BYAN, BBRI dan BBCA.
Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan perdagangan keempat bulan ini dengan sejumlah sentimen penting dari dalam dan luar negeri. Aktivitas perdagangan pekan ini juga berlangsung lebih singkat karena libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa (25/8/2026).
Dari dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati hasil Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026 serta perkembangan uang beredar Juli 2026 yang diumumkan Bank Indonesia (BI) pada Jumat pekan lalu.
Sementara dari global, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS), perkembangan pendapatan serta belanja masyarakat AS, hingga pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.
Kemudian pasar saham RI juga akan dipengaruhi oleh kocok ulang indeks FTSE Russell yang telag melakukan perubahan konstituen dalam FTSE Global Equity Index Series (GEIS) untuk pasar saham Indonesia dalam rangka semi-annual review September 2026. Berdasarkan data yang beredar dari FTSE Russell, sejumlah emiten Indonesiamengalami perubahan klasifikasi kapitalisasi pasar, termasuk penurunan dari kelompok small cap menjadi micro cap.
Pengumuman hasil review tersebut dilakukan setelah penutupan perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat, 21 Agustus 2026. Selanjutnya, perubahan tersebut akan menggunakan perdagangan 18 September 2026 sebagai tanggal rebalancing dan mulai berlaku efektif sejak pembukaan perdagangan Senin, 21 September 2026.
Namun, daftar tersebut belum sepenuhnya final. FTSE Russell menyatakan perubahan hasil review masih dapat direvisi hingga penutupan perdagangan pada Jumat, 4 September 2026. Mulai Senin, 7 September 2026, perubahan indeks akan dianggap final.
“Perubahan tinjauan indeks yang tercantum dalam file terlampir dapat mengalami revisi hingga penutupan pasar pada Jumat, 4 September 2026. Mulai Senin, 7 September 2026, perubahan tinjauan indeks tersebut akan dianggap final,” tulis keterangan tersebut, dikutip Senin (24/8/2026).
Untuk Indonesia, tidak terdapat perubahan pada kelompok Large Cap, baik berupa penambahan maupun penghapusan konstituen. Perubahan justru terlihat cukup signifikan pada kelompok Mid Cap, Small Cap, dan Micro Cap.
(fsd/fsd)



















