Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menyatakan ketertarikan investor asing terhadap Indonesia tetap kuat. Hal ini terlihat dari respons positif pasar global terhadap penerbitan obligasi Danantara senilai US$ 1,5 miliar.
Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan oversubscribe terhadap obligasi global ini mencapai 3 kali dengan puncak pemesanan US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,40 triliun. Hal ini mencerminkan tingginya minat investor global terhadap obligasi Danantara.
Rosan menyebut temuan itu usai Danantara berkeliling (roadshow) obligasi global (global bond) ke sejumlah negara mulai dari Hongkong, Inggris, Singapura, dan Amerika Serikat.
“Kepercayaan ini adalah hasil dari fundamental ekonomi kita yang solid. Pak Tony Blair menyampaikan langsung bahwa investor melihat peluang emas di Indonesia. Dukungan dari tokoh global seperti beliau memvalidasi kebijakan ekonomi kita, dan mereka tidak hanya datang untuk jangka pendek, tapi berkomitmen jangka panjang,” ujar Rosan dari keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
Sebelumnya mantan Perdana Menteri (PM) Inggris, Tony Blair menilai pelaku bisnis internasional masih menaruh kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Dalam kunjungannya ke Danantara pada 7 Juli lalu, Tony Blair secara spesifik menyampaikan antusiasme investor terkait potensi kolaborasi investasi di Indonesia.
Pertemuan antara petinggi Danantara dengan eks PM Inggris itu menjadi bentuk dukungan dan validasi nyata atas upaya Indonesia dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Rosan menjelaskan, obligasi global ini dibagi menjadi dua tenor. Pertama untuk surat utang tenor 5 tahun dengan yield 5,35% berhasil menghimpun dana sebesar US$ 750 juta. Kedua surat utang tenor 10 tahun dengan yield 5,95% berhasil menghimpun dana sebesar US$ 750 juta.
Bahkan kesuksesan penerbitan obligasi ini ikut disorot media asing seperti Bloomberg dalam judul laporannya Danantara Sells Dollar Bond, a Win for Prabowo After Rout.
Rosan juga membuka ruang untuk kembali menerbitkan obligasi global bahkan dengan tenor 30 tahun mengingat tingginya minat investor terhadap instrumen yang diterbitkan Danantara. Selain itu, ia juga menyebut investor asing melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil.
Rosan menegaskan, suksesnya penerbitan obligasi global ini membantah anggapan banyak pihak yang menyebut instrumen Danantara tidak akan laku. Ia pun menegaskan, yield obligasi Danantara juga lebih rendah dari yang diperkirakan pasar.
“Ini adalah hasil yang sangat-sangat baik, dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia, ini tinggi, dan ini terbukti, dan ini real ya, dan ini real,” pungkas dia.
(dpu/dpu)
Add
as a preferred
source on Google


















