Jakarta, CNBC Indonesia – Ekonomi Jepang mencatat pertumbuhan lebih tinggi dari perkiraan pada kuartal pertama 2026, didorong oleh ekspor yang solid serta konsumsi domestik yang tetap bertahan di tengah tekanan global.
Data Kabinet Jepang, Selasa (19/5/2026) menunjukkan produk domestik bruto (PDB) Negeri Sakura tumbuh 2,1% secara tahunan (annualized) pada periode Januari-Maret 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding ekspektasi pasar sebesar 1,7%. Secara kuartalan, ekonomi Jepang naik 0,5%.
Capaian tersebut menjadi sinyal bahwa pemulihan ekonomi Jepang masih berlangsung meski tekanan inflasi dan ketidakpastian geopolitik meningkat. Pertumbuhan ditopang oleh kinerja ekspor yang tetap kuat, belanja konsumen yang stabil, serta investasi modal perusahaan.
Namun sejumlah ekonom memperingatkan momentum ini berpotensi melemah dalam beberapa kuartal ke depan. Lonjakan harga energi global menjadi penyebab, terutama kenaikan harga minyak akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi migas dunia.
“Meskipun PDB Jepang tumbuh sehat sebesar 0,5% pada kuartal pertama, kami pikir PDB kuartal pertama sudah berlalu dan memperkirakan ekonomi akan merasakan tekanan dari biaya energi yang tinggi di masa mendatang,” kata kepala ekonom Jepang di Oxford Economics, Norihiro Yamaguchi, kepada CNBC Internasional.
Perlu diketahui, Jepang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Negeri ini dinilai sangat rentan terhadap lonjakan biaya energi tersebut, di mana tekanan harga diperkirakan akan mendorong inflasi lebih tinggi dan menekan daya beli rumah tangga maupun profit perusahaan Jepang.
Di sisi lain, kondisi ini menempatkan Bank of Japan dalam posisi sulit. Sebelum eskalasi konflik energi, pasar memperkirakan bank sentral Jepang berpotensi menaikkan suku bunga pada Juni mendatang menyusul inflasi yang terus meningkat.
Namun, risiko perlambatan ekonomi membuat ruang kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Pemerintah Jepang juga dikabarkan tengah menyiapkan anggaran tambahan untuk memperluas subsidi bahan bakar guna meredam dampak kenaikan harga energi terhadap masyarakat, meski langkah tersebut berpotensi memperbesar tekanan fiskal negara yang sudah memiliki rasio utang tinggi.
Sejumlah analis menilai tantangan terbesar Jepang saat ini bukan lagi deflasi seperti satu dekade terakhir. Melainkan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang dipicu gejolak energi global.
(sef/sef)
Add
as a preferred
source on Google


















