Jakarta, CNBC Indonesia – Cincin berhiaskan batu warna-warni masih memenuhi etalase pedagang di kawasan Pasar Batu Akik Rawa Bening atau dikenal sebagai Jakarta Gems Center (JGC), Jatinegara. Sayangnya, di balik barisan cincin batu akik eksotik yang terpajang rapi, para pedagang mengaku kesusahan menjual barangnya.
CNBC Indonesia berkesempatan mendatangi lokasi para pedagang itu pada Rabu (8/9/2026). Suasana di pasar itu memang terlihat ramai dilalui oleh orang-orang. Tapi, para pengunjung yang membeli batu akik tergolong tidak banyak.
“Begitulah yang kelihatannya ramai ya. Tapi yang belanja sedikit dan tertentu saja, yang mana rezekinya dikasih sama yang di atas,” ujar Pedagang Batu Akik, Sandi Shadewo saat ditemui CNBC Indonesia.
Sandi Shadewo bilang, kondisi bisnis para pedagang batu akik saat ini jelas berbeda bila dibandingkan saat booming sekitar 10 tahun lalu. Kala itu, sejumlah pedagang batu akik bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah. Namun, sekarang mereka hanya bisa berharap setiap hari tetap ada transaksi pembelian.
Sandi mengaku dirinya bersyukur jika ada dua sampai tiga buah cincin batu akik yang terjual. Harga cincin tersebut dibanderol sekitar Rp 100 ribu sampai dengan di atas Rp 1 jutaan.
“Paling saya dapat 2-3 biji sudah cukup saya. Kadang ada yang Rp 200 ribu, ada yang Rp 100 ribu. Kadang juga ada yang Rp 300 ribu, ya kalau memang rezeki lagi hoki dapat sejuta lebih, Rp 1,3 juta,” ungkapnya.
Menurutnya, pelemahan daya beli yang terjadi di masyarakat sangat mempengaruhi pasar batu akik. Sebab, ketidakpastian global ikut memengaruhi pengeluaran seseorang untuk berbelanja kebutuhan hobi.
Melihat kondisi itu, ia pun ingin ada bantuan dari pemerintah melalui Kementerian Pariwisata untuk mengenalkan warisan budaya ini kepada para wisatawan lokal maupun mancanegara. Upaya ini diharapkan bisa mendorong pertumbuhan pendapatan pengrajin batu akik di Pasar Rawa Bening.
Beralih ke pedagang lainnya, yakni Adi, mengaku sudah membuka usaha batu akik sejak pandemi Covid-19. Namun, tetap saja tren penjualannya tidak menentu.
Dia mengakui, kondisi ekonomi yang masih menantang berkaitan erat dengan nasib batu akik yang diperdagangkannya. Hal ini tercermin dari sulitnya batu akik tersebut terjual secara optimal pada 2026. Padahal, batu akik yang dijual Adi relatif murah, mulai dari harga Rp 25 ribu sampai dengan Rp 100 ribu.
“Penjualan tahun ini lebih jelek kalau dibandingkan sama tahun lalu,” katanya.
Adi bercerita, saat ini orang-orang paling mengincar cincin batu akik seharga Rp 40 ribu. Dari situ, Adi bisa meraup omzet sekitar Rp 700 ribu atau Rp 1 juta per harinya.
Pada akhirnya, untuk bisa terus melangsungkan bisnisnya, Adi pun dibantu anaknya untuk berjualan di platform online. Di sana, barang dagangan Adi difoto dan langsung ditawarkan kepada para pelanggan dengan beragam model cincin batu akik.
Senada, pengelola kios batu Akik bernama Jeje mengaku penurunan penjualan mulai terasa sejak adanya pandemi Covid-19. Bahkan, saat ini pun belum ada tanda-tanda pemulihan seperti satu dekade lalu.
Bahkan Jeje mengakui, ada kalanya satu sampai dua bulan tidak ada cincin batu akik yang terjual sama sekali. Ia pun menjelaskan, pedagang yang masih bisa mendapatkan omzet harian sebenarnya sudah terbilang untung.
“Kalau masih bisa bilang omzet per hari, itu sudah bagus sekali menurut saya,” ujar dia.
Di tempatnya berjualan, Jeje menawarkan cincin batu akik yang sangat variatif. Ia mengklaim 99% bahan batunya berasal dari Indonesia seperti Jawa atau Sumatra. Dalam hal ini, ia membanderol harga cincin batu akik sesuai dengan kualitasnya. Semakin bagus kualitasnya, maka akan semakin mahal pula harganya.
“Harganya sangat variatif ya. Mulai dari yang seratus ribuan sampai mungkin sekarang masih bertahan di puluhan juta. Waktu itu sempat sampai ratusan juta, ada yang menyentuh angka satu miliar,” tandas dia.
(arj/arj)
Add
as a preferred
source on Google



















