
Jakarta, CNBC Indonesia – Kalangan ekonom perbankan mengungkapkan rupiah dapat menguat ke level psikologis Rp17.500. Namun, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan langkah rupiah menuju level psikologis Rp17.500 dalam waktu dekat dinilai masuk akal, mengingat posisi rupiah saat ini sudah berada di level psikologis Rp17.600.
“Rupiah mencapai Rp17.500-an dalam waktu dekat menurut saya cukup realistis. Jaraknya dari Rp17.600-an relatif kecil dan secara fundamental masih terdapat ruang penguatan,” kata Josua kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (24/8/2026).
Namun, untuk rupiah mencapai level psikologis tersebut, butuh beberapa syarat yang harus dicapai, seperti arus masuk ke SBN dan SRBI tetap berlanjut, dolar Amerika Serikat (AS) tidak kembali menguat tajam, harga minyak cenderung stabil dan tidak kembali melonjak, serta pasar tetap percaya bahwa BI dapat mempertahankan stabilitas tanpa kenaikan suku bunga tambahan.
“Kami memperkirakan, level Rp17.500-Rp17.550 dapat diuji dalam beberapa pekan ke depan, terutama apabila aliran dana asing ke SBN semakin besar dan tidak hanya bertumpu pada SRBI,” terang Josua.
Meski begitu, Josua menegaskan level psikologis Rp17.500 sebaiknya belum dianggap sebagai tingkat keseimbangan baru. Hal ini lantaran kondisi global yang belum menentu, di mana harga minyak belum membentuk titik keseimbangan baru dan berpotensi Kembali melonjak, membuat rupiah bisa saja Kembali memburuk.
“Jika harga minyak kembali meningkat atau pasar kembali memperkirakan kenaikan suku bunga AS yang lebih agresif, rupiah dapat dengan cepat kembali ke Rp17.700-Rp17.900,” jelas Josua.
“Jadi penguatan menuju Rp17.500 cukup mungkin, tetapi kemampuan bertahan di bawah Rp17.500 membutuhkan perbaikan yang lebih kuat pada transaksi berjalan dan pasokan devisa domestik,” ujarnya.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual mengatakan potensi rupiah kembali ke level Rp 16.000 per dolar AS, terutama pada kuartal III-2026. Hal ini, katanya, karena neraca berjalan Indonesia masih berpotensi tertekan akibat harga minyak yang relatif masih tinggi.
“Sementara itu, pergerakan finansial asset juga masih cenderung dinamis,” ujarnya.
Pada akhir 2026, nilai tukar diproyeksikan berada di kisaran Rp 17.800 – Rp 18.100 per dolar AS hingga akhir tahun. Proyeksi David ini dilandasi dengan asumsi The Fed masih berpotensi meningkatkan suku bunga acuannya, setidaknya 1 kali kenaikan akibat risiko inflasi yang masih membayangi AS
(haa/haa)



















