• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Suku Bunga Sudah Turun tapi Kredit Ogah Lari, Ada Apa?

Suku Bunga Sudah Turun tapi Kredit Ogah Lari, Ada Apa?

July 17, 2025
Pasar Pantau Penilaian MSCI Cs, Apa Efeknya ke Bursa Saham?

Pasar Pantau Penilaian MSCI Cs, Apa Efeknya ke Bursa Saham?

July 18, 2026
Video: Jawab Sentimen MSCI hingga S&P, OJK

Video: Jawab Sentimen MSCI hingga S&P, OJK

July 18, 2026
Terbaru, Ketentuan Saldo Minimum Bank Mandiri-BRI-BNI 18 Juli 2026

Terbaru, Ketentuan Saldo Minimum Bank Mandiri-BRI-BNI 18 Juli 2026

July 18, 2026
Bursa Asia Kebakaran, IHSG Dapat Untung?

Bursa Asia Kebakaran, IHSG Dapat Untung?

July 17, 2026
DPR, BI & OJK Kumpul Sama Investor di BEI, Saham Hijau Sepanjang Hari!

DPR, BI & OJK Kumpul Sama Investor di BEI, Saham Hijau Sepanjang Hari!

July 17, 2026
Asing Kalap Borong Saham Bank, Catat Net Buy Rp 638,6 Miliar

Asing Kalap Borong Saham Bank, Catat Net Buy Rp 638,6 Miliar

July 17, 2026
DJP Mulai Bidik Wajib Pajak Baru, Sisir Data Rekening-Plat Nomor

DJP Mulai Bidik Wajib Pajak Baru, Sisir Data Rekening-Plat Nomor

July 17, 2026
Usai BI Batasi Beli Dolar US.000, Begini Kondisi di Money Changer

Usai BI Batasi Beli Dolar US$10.000, Begini Kondisi di Money Changer

July 17, 2026
IHSG Lawan Arus! Naik 1,1% Saat Bursa Asia Kebakaran

IHSG Lawan Arus! Naik 1,1% Saat Bursa Asia Kebakaran

July 17, 2026
BI Klaim Likuiditas Perbankan Masih Longgar, Beri Bukti Ini

BI Klaim Likuiditas Perbankan Masih Longgar, Beri Bukti Ini

July 17, 2026
IHSG Naik 1,1%, Volume Pasar Naik dan Emiten Bank Diserbu

IHSG Naik 1,1%, Volume Pasar Naik dan Emiten Bank Diserbu

July 17, 2026
Efek Dolar Sempat Betah Rp18.000, Money Changer Sepi!

Efek Dolar Sempat Betah Rp18.000, Money Changer Sepi!

July 17, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Saturday, July 18, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home News

Suku Bunga Sudah Turun tapi Kredit Ogah Lari, Ada Apa?

1 year ago
in News
Suku Bunga Sudah Turun tapi Kredit Ogah Lari, Ada Apa?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia — Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini, yakni pada Januari, Mei, dan Juli, dengan masing-masing sebanyak 25 basis poin (bps).

Seiring dengan penurunan suku bunga bank sentral itu, suku bunga kredit perbankan juga sudah berangsur menurun, sebesar 9,16% per Juni 2025, dari sebesar 9,20% pada bulan Januari 2025.

Meski demikian, pertumbuhan kredit industri perbankan nasional kian melambat sepanjang tahun ini. Per Mei 2025, kredit perbankan tercatat hanya tumbuh 7,77% secara tahunan (yoy) menurun dibandingkan dengan pertumbuhan Mei 2025 sebesar 8,43% yoy.

Angka pertumbuhan terkini berada di bawah target pertumbuhan kredit BI, yakni 8% hingga 11% pada akhir tahun ini.

Menurut Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, pertumbuhan kredit lesu karena adanya berbagai faktor. Namun menurutnya, faktor yang menonjol berkaitan dengan daya beli masyarakat dan likuiditas bank.

Sebagai informasi, dana pihak ketiga (DPK) tercatat telah bertumbuh meningkat 6,96% yoy pada Juni 2025, lebih tinggi dari 4,29% yoy pada Mei 2025. Namun, angka pertumbuhan itu lebih rendah dibanding pertumbuhan kredit.

Sementara itu, rasio perbandingan pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposito ratio (LDR) perbankan tercatat sebesar 88,16% per Mei 2025, makin ketat dibanding 87,99% pada bulan April 2025.

“Menurut saya susah ya mencapai [pertumbuhan] 2 digit dengan kondisi sekarang, mungkin berkisar 7%-9%,” kata Trioksa saat kepada CNBC Indonesia, Kamis (17/7/2025).

Senada, pengamat perbankan Moch. Amin Nurdin menilai pertumbuhan kredit perbankan pada akhir tahun ini tidak akan sampai double digit. Ia mengatakan ada banyak hal yang menjadi penyebab kredit bank belum tumbuh signifikan.

Pertama, kondisi ekonomi yang belum bergerak yang menyebabkan industri belum berani untuk melakukan ekspansi usahanya, lantas mereka belum mengajukan pembiayaan ke perbankan. Belum lagi, yang sudah mengajukan pembiayaan pun, belum semuanya mencairkan.

“Daya beli masyarakat kelas menengah belum sepenuhnya bangkit, sehingga belum muncul kebutuhan kredit dari segmen ini. UMKM juga masih belum bangkit sepenuhnya, padahal ini biasanya memberikan kontribusi cukup besar untuk pertumbuhan kredit,” jelas Amin.

Ia menyoroti sudah banyak upaya yang dilakukan BI untuk mendorong pertumbuhan kredit, seperti meminta bank untuk menurunkan tingkat suku bunga kredit, serta mengeluarkan kebijakan makroprudensial untuk insentif likuiditas bank.

Kendati demikian, Amin memandang itu belum cukup untuk mendorong bank memangkas suku bunga dasar kredit (SBDK). Itu melihat rasio kredit bermasalah (NPL) dan rasio kredit berisiko (LAR) industri yang cenderung naik, persaingan merebut likuiditas, dan menjaga efisiensi proses bisnis.

Sementara itu, pengamat perbankan Paul Sutaryono mengatakan penyebab utama pertumbuhan kredit melandai adalah ketidakstabilan ekonomi global.

“Hal itu diperparah oleh perang Rusia vs Ukraina, Israel vs Hamas yang menjalar ke Iran. Kini ditambah tarif Donald Trump yang bakal lebih membebani ekonomi Indonesia. Alhasil, daya beli (purchasing power) masyarakat yang belum pulih pasca-Covid-19 semakin lemah,” jelasnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (17/7/2025).

Dengan demikian, Paul mengatakan produk dan jasa yang ditawarkan oleh sektor riil menjadi kurang laris manis. Ujungnya, pertumbuhan kredit perbankan ikut terkena imbasnya menjadi kurang bergairah.

“Pemerintah harus terus menggenjot kebijakan fiskal dan moneter untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Selain itu, pemerintah memiliki tugas berat untuk menciptakan kesempatan kerja yang lebih banyak, yang bukan hanya padat modal tetapi juga padat karya,” kata Paul.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan bahwa banyak bank yang menurunkan target pertumbuhan kredit pada tahun ini. Hal ini tertuang dalam revisi rencana bisnis bank (RBB) pada tengah tahun. 

“Namun demikian banyak juga yang meningkatkan target, sehingga OJK menilai revisi tersebut masih bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara menyeluruh,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juni 2025, dikutip Kamis (17/7/2025).

(mkh/mkh)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



BI: Pertumbuhan Kredit Februari 2025 10,3% Yoy




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Pasar Pantau Penilaian MSCI Cs, Apa Efeknya ke Bursa Saham?

Pasar Pantau Penilaian MSCI Cs, Apa Efeknya ke Bursa Saham?

July 18, 2026
Video: Jawab Sentimen MSCI hingga S&P, OJK

Video: Jawab Sentimen MSCI hingga S&P, OJK

July 18, 2026
Terbaru, Ketentuan Saldo Minimum Bank Mandiri-BRI-BNI 18 Juli 2026

Terbaru, Ketentuan Saldo Minimum Bank Mandiri-BRI-BNI 18 Juli 2026

July 18, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .