• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

June 1, 2026
Pengusaha Bongkar Tantangan Berlapis Industri Nikel RI di 2026

Pengusaha Bongkar Tantangan Berlapis Industri Nikel RI di 2026

June 1, 2026
Muncul Usai Lengser, Jerome Powell Ingatkan Ancaman Terhadap The Fed

Muncul Usai Lengser, Jerome Powell Ingatkan Ancaman Terhadap The Fed

June 1, 2026
Korban Masih Berjatuhan, Kenali Tanda-Tanda Phishing Bagi Nasabah Bank

Korban Masih Berjatuhan, Kenali Tanda-Tanda Phishing Bagi Nasabah Bank

June 1, 2026
Will AI Make You More Money, or Just Make You Faster?

Will AI Make You More Money, or Just Make You Faster?

June 1, 2026
Begini Dampak Ngeri Kenaikan Harga Dolar AS ke Sektor Perumahan

Begini Dampak Ngeri Kenaikan Harga Dolar AS ke Sektor Perumahan

June 1, 2026
Video:Harga Batu Bara Ambruk, BUMN Khusus Ekspor RI Jadi Sorotan Dunia

Video:Harga Batu Bara Ambruk, BUMN Khusus Ekspor RI Jadi Sorotan Dunia

June 1, 2026
Bisa Jadi Contoh, Ini 3 Investasi Pilihan Nabi Muhammad SAW

Bisa Jadi Contoh, Ini 3 Investasi Pilihan Nabi Muhammad SAW

June 1, 2026
Kenyataan Pahit untuk Pasar Minyak, Tak Akan Pulih Meski AS-Iran Damai

Kenyataan Pahit untuk Pasar Minyak, Tak Akan Pulih Meski AS-Iran Damai

June 1, 2026
Bukan BI Checking Lagi, Ini Cara Cek Utang Sendiri di Internet

Bukan BI Checking Lagi, Ini Cara Cek Utang Sendiri di Internet

May 31, 2026
Breaking! Pemerintah Revisi PP Danantara, Ini Poin-Poin Pentingnya

Breaking! Pemerintah Revisi PP Danantara, Ini Poin-Poin Pentingnya

May 31, 2026
Purbaya Ungkap Dampak DSI ke Market, Suruh Serok Saham Ini

Purbaya Ungkap Dampak DSI ke Market, Suruh Serok Saham Ini

May 31, 2026
Prinsip GCG Bantu BUMN Pertahankan Performa

Prinsip GCG Bantu BUMN Pertahankan Performa

May 31, 2026
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Monday, June 1, 2026
Business Review Asia
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Business Review Asia
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

2 hours ago
in ENTREPRENEUR
Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar obligasi Jepang tengah menghadapi tekanan besar. Ini setelah imbal hasil (yield) surat utang pemerintah melonjak ke level tertinggi dalam empat dekade.

Kondisi ini dipicu kekhawatiran investor terhadap rencana anggaran tambahan pemerintah Jepang senilai 3 triliun yen atau sekitar US$19 miliar (Rp338,54 triliun, asumsi kurs Rp17.818/US$). Diketahui, Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi tengah menyiapkan anggaran tambahan untuk membantu rumah tangga menghadapi lonjakan biaya hidup akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik Iran.

Ya, dana tersebut akan digunakan untuk menambah cadangan fiskal serta mendanai subsidi bahan bakar dan utilitas. Namun, langkah ini justru memicu skeptisisme pasar terkait janji pemerintah untuk tidak menambah total penerbitan obligasi sepanjang 2026.

Perlu diketahui, yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun sempat naik ke 2,809% pada 20 Mei, level tertinggi sejak 1996. Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun menembus 4%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap risiko fiskal dan tekanan inflasi yang terus meningkat.

“Pasar obligasi adalah banyak hal, tetapi mereka tidak bodoh,” kata Direktur Ahli Monex Group, Jesper Koll, dimuat CNBC International, Senin (1/6/2026).

“Anda tidak dapat meningkatkan pengeluaran tanpa meningkatkan utang,” tambahnya.

Kekhawatiran juga muncul setelah Takaichi menggunakan acuan tahun kalender 2026 dalam menjelaskan target penerbitan obligasi. Menurut analis, pendekatan itu tidak lazim karena Jepang selama ini menggunakan tahun fiskal yang berakhir pada 31 Maret.

“Tidak ada seorang pun di Jepang yang pernah membuat kebijakan berdasarkan tahun kalender,” kata Koll.

“Jika ada tanda bahaya, itu adalah tanda bahaya,” ujarnya.

Analis lain, pengamat riset ekuitas untuk Asia di Julius Baer, Louis Chua, juga mengatakan demikian. Apalagi ada ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, ditambah tingginya harga komoditas, serta peningkatan beban subsidi energi, yang memperburuk sentimen pasar terhadap posisi fiskal Jepang.

“Perkembangan terkini- termasuk ketidakpastian yang berkelanjutan di Timur Tengah, harga komoditas yang tinggi, dan pengeluaran subsidi bahan bakar yang meningkat- telah berkontribusi pada kekhawatiran pasar obligasi tentang posisi fiskal Jepang tahun ini,” tegasnya.

Namun, tidak semua analis melihat paket tersebut sebagai sesuatu yang mengganggu. Ekonom APAC State Street Investment Management, Krishna Bhimavarapu misalnya, menyebut langkah pemerintah tetap sejalan dengan pendekatan fiskal Takaichi yang cenderung hati-hati.

“Kami tetap secara struktural optimis terhadap Jepang, baik pada ekonomi maupun pasar,” menurutnya,

“Anggaran tambahan tersebut tampak kurang seperti stimulus luas dan lebih seperti bantalan yang ditargetkan untuk rumah tangga yang menghadapi tekanan harga yang didorong oleh energi yang terkait dengan konflik Iran,” ujarnya.

“Itu membuatnya konsisten dengan filosofi Perdana Menteri Takaichi daripada dorongan permintaan skala besar.”

Sebenarnya, data terbaru telah meninjukan perbaikan ekonomi Jepang. Ekonomi tumbuh pada laju tahunan 2,1% pada kuartal pertama (Q1), dengan PDB riil naik 0,5% dari kuartal sebelumnya.

Ekspor naik 14,8% pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh pengiriman semikonduktor yang kuat dan permintaan terkait AI.

Namun bagi investor, perhatian kini tertuju pada risiko inflasi, potensi kenaikan suku bunga bank sentral, Bank of Japan (BOJ). Termasuk kemungkinan tambahan pasokan obligasi yang dapat semakin menekan pasar surat utang Jepang.

(sef/sef)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Adrian Campbell and Kinnara Accused of Escalating Seminyak Dispute as Access Blocked in Post-Buyout Battle

Adrian Campbell and Kinnara Accused of Escalating Seminyak Dispute as Access Blocked in Post-Buyout Battle

February 23, 2026
Kinnara CEO Adrian Campbell Accused of Threats, Bribery and Investor Deception as Multi-Million Dollar Probes Deepen

Kinnara CEO Adrian Campbell Accused of Threats, Bribery and Investor Deception as Multi-Million Dollar Probes Deepen

February 21, 2026
Did Channel 9, “A Current Affair”, journalist Margueritte Rossi commit a criminal offence by aiding and abetting a corporate extortion and blackmail attempt?

Did Channel 9, “A Current Affair”, journalist Margueritte Rossi commit a criminal offence by aiding and abetting a corporate extortion and blackmail attempt?

January 14, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

Tanda Bahaya Baru Muncul di Jepang, Investor Ketar-Ketir

June 1, 2026
Pengusaha Bongkar Tantangan Berlapis Industri Nikel RI di 2026

Pengusaha Bongkar Tantangan Berlapis Industri Nikel RI di 2026

June 1, 2026
Muncul Usai Lengser, Jerome Powell Ingatkan Ancaman Terhadap The Fed

Muncul Usai Lengser, Jerome Powell Ingatkan Ancaman Terhadap The Fed

June 1, 2026
Business Review Asia

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • ENTREPRENEUR
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .